
Ia bahkan kehilangan nafsu makannya, namun ia paksaan lantaran tidak ingin jatuh sakit dan tidak bisa menjaga atau membelikan apa yang Vio mau.
Terkadang dengan mencium aroma parfum atau aroma tubuh Vio, muntah yang dialaminya akan menghilang.
Jadi sebab itu, ia memerintahkan pada bi Ijah untuk tidak mengganti seprai yang ia dan Vio tiduri. Karena di sana ada aroma khas Vio.
Jorok memang, tidak mengganti seprai atau mencucinya. Tapi mau bagaimana lagi dengan hal itulah rasa mual yang di alami Jeffry menghilang.
Bukan hanya seprai saja yang dilarang di cuci, bahkan baju yang Vio pakai terakhir pun dilarang olehnya. Karena itu masih ada bekas aroma khas tubuh Vio, terkadang ia memeluk baju Vio di saat tidur, untuk mengurangi rasa mual sekaligus rindunya terhadap sang pemilik baju.
Kembali lagi kepada Vio dan Jeffry. Vio pun hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Jeffry.
"Tidak aku ingin makan di mansion saja." Jawabnya setelah menggelengkan kepalanya, masih dengan nada yang dingin.
"Huffstt, baiklah." Jeffry pun menghela nafas karena keinginannya yang ingin makan berdua dengan sang istri tidak terlaksana.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, mobil yang dikendarai oleh Jeffry tiba di pelataran mansion keluarga Vio.
Ia pun langsung memakirkan mobilnya, setelah itu ia buru-buru membuka sabuk pengaman dan mulai keluar dari mobilnya.
Jeffry pun berlari kecil ke arah samping mobil dimana ada Vio berada, karena ia tidak ingin Vio membuka pintu dengan sendiri, lalu ia pun membukakan Vio pintu.
Setelah Vio keluar ia pun langsung menutup pintu mobilnya, dan mengekori Vio dari arah belakang.
Mereka pun masuk ke dalam mansion, yang ternyata kedua orang tua Vio berada di ruang keluarga tengah duduk bersantai.
"Assalamu'alaikum." Ucap keduanya.
"Wa'alaikum salam." Jawab kedua orang tua Vio.
"Kalian sudah datang, duduklah dulu." Ujar nyonya Kayla.
"Alhamdulillah hasilnya baik mom." Jawab Vio.
"Lalu berapa usia kandungan mu saat ini?" Kali ini tuan Abimanyu yang bertanya.
"Baru empat Minggu dad." Jawab Vio lagi.
Sementara Jeffry hanya diam.
Karena tak ada pembahasan lagi, nyonya Kayla pun menyuruh mereka untuk makan siang dulu.
"Yasudah kalau begitu, lebih baik sekarang kita makan siang. Kamu juga Jef, jangan dulu pulang, makan siang dulu disini bersama kami." Ucap nyonya Kayla.
"Baik mom." Jeffry pun tidak menolak ajakan dari ibu mertuanya itu, dan ia pun ingin lebih lama bersama dengan Vio. Meski istrinya itu mau bicara dengannya namun dengan melihatnya saja sudah cukup untuk mengobati rasa rindu terhadap istrinya itu.
Mereka pun mulai makan bersama, setelah makan Jeffry yang hendak pulang dicegah oleh ayah mertuanya.
"Nak tinggallah dulu sebentar, Daddy ingin bicara berdua denganmu." Ucap tuan Abimanyu kepada menantunya itu.
Jeffry pun tak langsung menjawab ia malah melirik ke arah Vio yang kini hanya diam saja.
"Baiklah kalau begitu, nanti saya akan pulang setelah bicara dengan Daddy."
"Ya, kalau begitu ayok kita mengobrol di taman belakang saja."
"Kalau begitu mommy yang akan buatkan kalian kopi." Nyonya Kayla ikut menyela.
"Itu bagus mom."
Tuan Abimanyu dan Jeffry pun pergi ke taman belakang, sementara nyonya Kayla membuatkan mereka kopi, dan untuk Vio ia hanya menatap mereka saja.