
Dan disini lah mereka, tepatnya di sebuah taman belakang.
Mereka berdua duduk di kursi yang dekat dengan kolam renang.
"Bagaimana, kamu suka tidak sama oleh-oleh yang mamah berikan?" Tanya mamah Anggun.
"Suka ko mah, makasih ya mh, sudah repot-repot mau membawakan oleh-oleh untuk Vio."
"Sama-sama sayang."
"Mm, mamah boleh tanya sama kamu?" Tanya mamah Anggun.
"Mau tanya apa mah!"
"Apa kamu yakin ingin bercerai dengan Jeffry? Bukan maksud mamah ikut campur dengan rumah tangga kamu, hanya saja mamah tidak ingin kalian berpisah. Mamah sudah menganggap kamu sebagai putri mamah sendiri, jadi mamah mohon sama kamu, urungkan niat mu itu, mamah lebih rela jika anak mamah bertanggung jawab dengan masuk ke jeruji besi, dibandingkan harus berpisah denganmu." Ucapnya dengan panjang lebar, seraya menggenggam kedua tangan Vio.
"Mamah mohon jangan berpisah." Ucapnya lagi.
Cukup lama Vio diam tak menjawab, sampai akhirnya mamah Anggun kembali bersuara.
"Yasudah kalau begitu, mamah pamit pulang dulu. Jaga kesehatan kalian ya." Ujar mamah Anggun, seraya berdiri dari tempat duduknya.
Dan hal itupun berhasil membuat Vio tersadar, ia pun segera ikut berdiri dan masuk kedalam bersama sang mamah mertua.
Setelah kepergian suami dan juga mertuanya, kini Vio tengah berdiam diri sambil memikirkan perkataan yang dilontarkan oleh mommy dan juga ibu mertuanya itu.
Kini ia sedang berada di balkon kamar, seraya melihat langit yang berselimut awan yang sudah menggelap, lantaran hari sudah malam.
Vio pun melihat perutnya yang sudah sedikit menonjol, ia pun mengelus perlahan perutnya itu.
"Apa yang harus bunda lakukan? Bunda bingung! Apakah bunda harus menerima ayahmu?" Gumam Vio, seraya mengelus perutnya itu.
Setelah cukup lama ia menyendiri, angin malam pun sudah membuat ia kedinginan. Vio pun beranjak dari balkon kamar, dan menuju kedalam kamarnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiga bulan kemudian.
Hari pun berganti Minggu, Minggu berganti bulan. Dan tak terasa pernikahan Vio dan Jeffry sudah memasuki tiga bulan pernikahan, dan untuk kandungan Vio sendiri sudah memasuki usia satu bulan kandungnya.
Namun ngidam yang dirasakan Jeffry belum juga sembuh, malahan ia semakin hari semakin parah yang dirasakan.
Jeffry bahkan sering merasa mual bukan di pagi hari saja, namun juga di siang hari ataupun sore hari, terlebih lagi ia tak nafsu makan, tidak ada satu makanan pun yang masuk ke dalam perutnya kecuali rujak.
Ya, rujak. Hanya makan itu saja yang sanggup masuk kedalam lambung selebihnya akan di muntah kan kembali, kecuali masakan yang Vio masak.
Pernah suatu hari, ia makan masakan yang Vio masak dikediaman keluarga mertuanya. Padahal sebelum berangkat ke mansion istrinya, Jeffry sama sekali tidak makan apapun, bahkan ia dipaksa oleh mamahnya, yang kebetulan pagi itu mampir ke rumah yang biasa ditepati nya bersama sang istri.
Namun apa daya, baru satu suapan yang masuk kedalam mulut, dan berusaha untuk menelannya, ia malah mengeluarkan kembali makanan itu, lantaran mual yang diderita.
Namun pada saat sarapan pagi bersama dengan istri dan juga mertuanya, ia heran lantaran ia tidak merasa mual, sekalipun mencium aroma masakan, biasanya ia akan merasa mual walaupun hanya mencium aromanya saja.
Namun kali ini beda, bukan hanya tidak merasa mual, ia pun mengabiskan makanan itu. Yang ternyata makanan yang ia makan adalah buatan istrinya, mungkin saja ia terlalu rindu dengan istrinya itu, makannya ia sampai tidak mau makan makanan apapun kecuali masakan yang dimasak oleh Vio.