Violleta

Violleta
BAB 66



Nares dan papahnya pun duduk di kursi masing-masing.


Sementara Vio dan mamah mertuanya, menyiapkan makanan untuk suaminya masing-masing.


"Ini gak ada yang mau ngambil-in nasi berserta lauk pauknya ke aku gitu?!" Tanya Nares, dengan wajah yang di buat sendu, setelah melihat mamah dan kakak iparnya, mengambilkan nasi dan lauk pauknya ke suaminya masing-masing.


"Mangkanya nikah, kalau mau diambilin juga." Jawab Jeffry.


"Bener kata kakak kamu, kapan kamu akan memperkenalkan calon istri kamu ke mamah." Mamah Anggun pun ikut menjawab, setelah menyelesaikan tugasnya sebagai istri yaitu melayani suami.


Begitupun dengan Vio, setelah selesai menyiapkan makanan untuk Jeffry suaminya, ia pun duduk di samping suaminya.


Sementara mamah Anggun duduk di samping anak bungsunya, Nares. Dan pak Putra duduk di kursi tunggal yang letaknya di tengah.


"Boro-boro calon istri, pacar aja gak punya mah." Jawab Nares, dengan wajah lesu.


"Masa sih, anak papah gak ada yang mau! Kamu kan tampan, gak jauh beda dengan kakakmu." Kali ini pak Putra yang ikut berbicara.


"Bukan masalah tampan pah, emang dianya aja yang gak laku." Timpal Jeffry.


"Cih, bukan gak laku ya! Hanya saja, ingin mencari seorang gadis yang baik seperti kakak ipar, ya gak, kakak ipar?!" Tanya Nares, pada sang kakak ipar, dengan kedua alis di naik turunkan.


Sementara Vio hanya membalas dengan senyuman.


"Gak ada yang seperti kakak ipar mu, setiap orang beda-beda, tidak ada yang sama, walaupun ada, mungkin hanya sedikit saja kesamaan nya." Ucap Jeffry.


Baru saja Nares akan menjawab, suara sang mamah sudah menghentikannya.


"Sudah-sudah, kenapa pada ngobrol, habisi makanannya cepat."


"Baik mah." Ucap keduanya.


Disisi lain, tepatnya di sebuah apartemen, terdapat seorang wanita yang sedang berdiri di balkon kamar dengan memakai pakaian tidur seksi.


Dan disaat dia sedang melamun, ada sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya dari belakang.


"Apa yang sedang kamu pikirkan baby?" Tanyanya, sambil menghirup leher jenjang sang wanita.


"Tidak ada." Jawabnya, sambil membalikkan badannya, sehingga menghadap ke arah pria tersebut.


"Benarkah."


Wanita itupun hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Kalau begitu mari kita lanjutkan lagi baby, aku ingin melakukannya lagi dengan mu." Bisik pria itu.


"Tapi bukankah kita sudah melakukan itu beberapa kali! Biarkan kali ini aku istirahat, memangnya kamu tidak takut, jika istrimu curiga, kalau kamu tidak pulang malam ini?" Tanyanya, sambil mengalungkan kedua tangannya di leher sang pria tersebut.


"Tidak baby, istriku sedang pergi keluar kota, jadi aku bebas melakukan apapun bersamamu." Jawabnya, setelah itu, pria itu pun langsung mendaratkan ciuman di bibir sang wanita.


"Tapi honey, aku mendapatkan bonus bukan, karena aku bekerja di luar kesepakatan kita."


"Tentu saja." Setelah mengucapkan hal itu, pria tadi pun langsung mendaratkan bibirnya kembali ke bibir wanita tadi, dan ia langsung menggendong wanita tersebut, ala baby koala.


Setelah mereka sampai di kamar, pria itupun langsung menurunkan wanita tadi ke tempat tidur, dan ia pun langsung mengukung nya.


"Sialan, kalau bukan karena karir dan uang, mana Sudi aku melayani pria tua sepertinya, mana badannya buncit lagi, tidak seperti pria-pria ku yang lainnya..." Ucapnya dalam hati.


Ya...