
"Hahahaha, justru itu lebih bagus."
"Bagus apanya, yang ada jelek nanti pipiku."
"Kata siapa? Justru mas lebih senang jika pipi kami tambah tembem dan mas juga senang jika badan kamu sedikit berisi, kamu tau gak kenapa? Justru kamu tambah seksi." Bisik Jeffry di telinga Vio.
"Ihhhh nyebelin." Teriak Vio.
"Hahahah, sudah-sudah. Lebih baik kita cepat makan, mas sudah lapar banget nih, sampai-sampai cacing di dalam perut mas ikut berdemo."
"Yasudah, lagian salah siapa ledekin aku Mulu." Ucap Vio masih dalam mode cemberut.
"Iya mas minta maaf."
"Hmmm."
"Sayang, jawab yang bener dong! Jangan hem, hem, mulu."
"Maafin mas gak?"
"Iya."
"Iya apa?" Ledek Jeffry.
"Ihhh mas, nyebelin." Kesal Vio.
"Ya habisnya kamu ngomong nya gak jelas."
"Iya aku maafin." Ucap Vio masih dalam mode kesal.
"Nah gitu dong, itu baru istrinya mas." Ujar Jeffry sambil mencium pipi Vio dengan cepat.
Jeffry pun sudah duduk di kursinya, sedangkan Vio mengambilkan makanan untuk suaminya.
"Sayang tidak usah biar aku saja, aku bisa mengambil nya sendiri." Ujar Jeffry pada Vio, saat istrinya itu mengambilkan nasi untuknya.
"Tidak apa-apa, ini kan memang tugasku sebagai seorang istri."
"Istriku memang Solehah, aku beruntung menikahi wanita sepertimu."
"Ya, aku juga beruntung bisa menikah dengan laki-laki yang baik seperti mu mas."
"Mas, apa segini sudah cukup? Atau mau ditambah nasinya!" Tanya Vio
"Eh apa?"
"Mas itu lagi ngelamun-nin apa sih, kan tadi aku bilang apa nasinya cukup atau mau ditambah!"
"Sudah cukup, segitu saja nasinya sayang."
"Terus kamu mau lauknya apa?"
"Emm, itu saja sayang. Ayam saus Padang, cah kangkung, sama tempe mendoan."
"Oke."
"Terima kasih, sayang." Ucap Jeffry pada sang istri setelah menerima makanan yang telah Vio ambilkan.
Setelah mengambil kan makanan untuk suaminya, Vio pun duduk di sebelah Jeffry dan mulai mengambil makanan untuknya.
Mereka pun makan bersama tanpa ada obrolan yang keluar dari mulut keduanya, hanya terdengar suara dari dentingan sendok dan garpu.
Sementara Vio dan Jeffry sedang menikmati makan malam mereka berdua.
Di sisi lain, di sebuah rumah lantai dua, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Terdapat seorang wanita paruh baya yang sedang duduk santai di sofa ruangan tengah, sambil meminum secangkir teh.
Sampai terdengar teriakan seorang wanita yang baru saja sampai.
"Mom." Teriak wanita itu.
"Ada apa sih kami Dona! Baru juga dateng sudah teriak-teriak manggil mommy, ada apa?" Kesal wanita paruh baya itu.
Ya gadis yang berteriak tadi adalah Dona, yang baru sampai di rumah nya.
"Mom, hari ini sungguh aku sangat kesal."
"Apa yang membuat putri cantik ku ini kesal, hm!"
"Pokonya hari ini sudah membuat mood ku hancur, bagaimana tidak tadi di lokasi syuting aku di marahi sama sutradara gila itu. Belum lagi, sebelum aku pergi syuting aku bertemu dengan mantan kekasih ku Jeffry, dia sudah berubah, dia tidak lagi memperdulikan aku. Dan ditambah wanita sialan itu." Cecar Dona, sedangkan ibunya hanya diam saja.