
"Mom, Vi, aku pamit pulang dulu." Ucap Jeffry ketika sudah berada di dekat nyonya Kayla dan istrinya, Vio.
"Loh kenapa pulang? Kenapa tidak menginap saja? Besok kan hari Sabtu, biasanya tidak masuk kantor kan?" Tanya nyonya Kayla pada menantunya itu.
"Mom." Ucap Vio yang menolak tawaran mommy nya itu untuk meminta Jeffry suaminya menginap di mansion, bukan tak mengijinkan atau menjadi istri durhaka, tapi ia masih ingin sendiri dan tidak mau bertemu dengan Jeffry untuk sementara, sampai hatinya tenang dan bisa mengambil keputusan yang tepat nantinya.
Jeffry yang mendengar penolakan dari istrinya itu hanya bisa tersenyum getir, ia pun menolak tawaran sang ibu mertua untuk menginap di mansion.
"Tidak perlu mom, Jeffry juga harus mengerjakan pekerjaan yang tadi sempat Jeffry tunda." Tolak nya secara halus.
"Hm, baiklah. Jika itu mau mu, mommy tidak bisa memaksa."
"Yasudah kalau begitu Jeffry pamit dulu, assalamu'alaikum." Ucapnya, seraya mencium punggung tangan kedua mertuanya itu.
"Wa'alaikum salam." Ucap mereka.
Jeffry pun hendak melangkah keluar dari ruang keluarga, tapi ia berhenti ketika ibu mertuanya itu menyuruh Vio untuk mengantarkannya sampai pintu utama.
"Vi, kamu antar kan suamimu sampai depan." Ucap nyonya Kayla kepada putri semata wayangnya itu.
"Tapi mom."
"Jangan membantah mommy mu Vi." Ujar tuan Abimanyu yang kini tengah duduk di sebelah istrinya.
"Huh, baiklah." Vio pun beranjak dari duduknya dan melangkah ke arah Jeffry yang sedang menunggu di depan pintu ruang keluarga.
Jeffry pun tersenyum ketika istrinya itu telah melangkah lebih dulu, ia pun mengikuti Vio dari belakang.
"Terima kasih, sudah mau mengantarkan ku sampai depan." Ujarnya ketika mereka sudah ada di depan teras.
"Hm sama-sama."
"Yasudah kalau begitu aku akan pulang dulu, assalamu'alaikum." Ujar Jeffry.
"Wa'alaikum salam." Jawab Vio.
"Tunggu." Ucap Vio.
Jeffry pun berbalik, dan melihat Vio mendekati dirinya.
"Ada apa?" Tanya Jeffry setelah mereka saling berhadapan.
"Mana tangan mu." Bukannya menjawab Vio malah meminta tangan Jeffry.
Meski Jeffry tak mengerti, tetapi ia tetep memberikan tangannya.
Tak disangka, Vio mencium punggung tangannya, sebagai tanda takzim.
Jeffry pun terbengong, karena setelah sekian lama ia bisa merasakan lagi kebiasaan yang selalu dilakukan oleh Vio ketika ia hendak pergi bekerja.
Jeffry pun tersenyum-senyum sendiri, jika mengingat kebersamaan yang dilakukan oleh keduanya.
"Kenapa kau tersenyum? Sudah sana kamu boleh pergi?!" Usir Vio, ketika ia melihat Jeffry yang senyum-senyum sendiri, dan hal itupun berhasil membuat ia malu. Ia yakin Jeffry tengah memikirkan kebersamaan keduanya, jadi sebab itulah ia mengusir suaminya itu, karena ia tidak ingin Jeffry melihat wajahnya yang memerah karena malu.
Perkataan yang diucapkan Vio, berhasil membuat Jeffry sadar dari lamunannya.
"A-ah, yah aku akan pergi. Assalamu'alaikum." Ujar Jeffry dengan gugup.
"Hm, wa'alaikum salam." Jawab Vio.
Jeffry pun masuk kedalam mobil dan mobil pun mulai meninggalkan mansion keluarga Abimanyu. Begitupun dengan Vio, ketika mobil suaminya tidak terlihat lagi, ia pun masuk ke dalam.
***
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, dimana hari ini adalah hari ulang tahun tuan Abimanyu yang ke 50thn.
Dan disini lah mereka, tepatnya di mansion, keluarga besar Abimanyu berkumpul. Mulai dari keluarga Firman, dan tak ketinggalan keluarga besannya yaitu keluarga Syahputra, yang turut hadir di acara makan malam bersama ini.