
Setelah cukup menghisap leher Vio, sampai meninggalkan jejak merah di leher sang istri. Jeffry pun membalikkan badan Vio, sehingga menghadap ke arahnya.
"Sayang apa boleh?" Tanyanya dengan menatap wajah Vio, dengan tatapan sendu.
Dan Vio pun hanya mengangguk sebagai jawaban.
Tanpa banyak tanya lagi, Jeffry langsung menyerang bibir ranum sang istri. Setelah itu ia langsung membaringkan Vio di atas kasur tanpa melepaskan ciuman mereka.
Setelah keduanya sudah berbaring di atas ranjang, Jeffry pun langsung mengukung sang istri dan mulai melepaskan piyama yang Vio pakai.
Setelah keduanya sudah dalam keadaan polos, Jeffry pun langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang polos tanpa sehelai benang pun.
Dan terjadilah pergulatan panas, antara sepasang suami istri, di tengah malam yang dingin, akibat hujan yang turun membasahi bumi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dua bulan kemudian.
Sudah dua bulan mereka menjalani hubungan suami istri, dan dalam dua bulan ini pun, mereka tetap harmonis, walaupun kerap kali ada kerikil yang menggangu rumah tangga keduanya.
Namun apakah, jika suatu saat rahasia yang belum sempat Jeffry beri tahu, akan tatap mempertahankan rumah tangga mereka atau malah sebaliknya?
Entahlah! Namun yang jelas saat ini, Jeffry hanya ingin bersama dengan orang yang dicintainya yaitu Vio, sang istri.
Dia masih belum bisa memberitahukan rahasia yang selama ini di jaganya, karena ia takut jika ia memberitahukan rahasia ini kepada Vio, yang ia takutkan, akan menjadi kenyataan yaitu sang istri tidak bisa menerimanya dan malah akan meminta perceraian.
Di pagi hari, tepatnya di kediaman Vio dan Jeffry. Terdengar suara seorang yang tengah mengeluarkan sesuatu dari dalam tubuhnya.
Hoek, Hoek, Hoek.
"Gak perlu ke dokter sayang, kayanya aku cuman masuk angin, istirahat aja kayaknya sudah cukup." Jawabnya, setelah selesai memuntahkan isi dalam perutnya.
"Bener gak mau ke dokter? Atau aku telepon dokternya aja supaya datang ke rumah?" Tanya Vio sambil memastikan, keadaan sang suami tidak apa-apa.
"Benar, aku hanya perlu istirahat saja."
"Yasudah kalau gitu, kamu istirahat aja, nanti aku telepon adik kamu dan bilang kalau kamu hari ini tidak bisa masuk ke kantor dulu."
"Gak perlu telepon adikku sayang, biar aku telepon sekretaris aku saja nanti." Ucapnya, sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Baiklah, mau aku buatkan teh mas?"
"Boleh."
"Yasudah kalau gitu aku buatkan teh dulu ya mas."
Jeffry pun hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah mendapatkan jawaban, Vio pun langsung ke dapur untuk membuatkan teh untuk sang suami.
Sementara Jeffry, langsung berlari ke kamar mandi, setelah merasa perutnya kembali bergejolak, seolah ingin muntah kembali.
Setelah berada di kamar mandi, ia pun langsung memuntahkan kembali di wastafel. Namun hasilnya masih sama tidak ada apapun yang keluar dari mulutnya, kecuali cairan bening.
Mungkin dikarenakan ia belum sarapan, jadinya hanya cairan warna bening saja lah yang keluar dari mulutnya.
Dirasa sudah cukup ia pun kembali ke kamarnya, dan langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, apalagi ia merasa tubuhnya tidak bertenaga.
Setelah merebahkan tubuhnya...