
Namun untungnya ia masih bisa menjalankan pekerjaan nya sebagai model, karena mendapatkan bantuan dari simpanan nya, yaitu sang sutradara.
Di rumah sakit, tepatnya di sebuah ruangan ICU, Jeffry sedang membersihkan tubuh sang istri.
Ya, sudah satu Minggu Jeffry mengurus sang istri yang sedang koma, bahkan ia tidak pernah pergi ke perusahaannya. Bahkan semua pekerjaan nya sementara dihandel oleh sang asisten dan juga sang adik, yaitu Nares.
Setelah membersihkan tubuh sang istri dan memakaikan kembali baju rumah sakitnya, Jeffry pun duduk di kursi yang ada di samping hospital bad.
Ia pun menggenggam sebelah tangan Vio yang tidak dihinfus.
Ia pun mengingat apa yang tadi pagi dokter kandungan katakan padanya.
"Jika kondisi pasien masih dalam keadaan koma, saya khawatir itu akan berpengaruh terhadap kondisi janin yang sedang dikandung oleh istri anda. Bagaimana pun, janin yang sedang dikandung istri anda harus mendapatkan nutrisi dan juga gizi yang baik, jika terus seperti ini, maka kondisi janin akan melemah, dan saya takutkan akan terjadi keguguran." Ujar dokter kandungan, kepada Jeffry waktu pagi tadi, sebelum ia membersihkan tubuh sang istri.
"Sayang, mau sampai kapan kamu seperti ini. Aku tau kamu marah sama aku, tapi aku mohon, bangunlah. Aku tidak tega melihat kamu seperti ini, dan maafkan aku..."
"Kamu boleh marah sama aku, kamu boleh mendiamkan aku, dan kamu boleh menghukumku, tapi aku mohon, sadar dan bangunlah, kasihan anak kita. Ya, di dalam perut kamu ada buah cinta kita sayang, jadi aku mohon bangunlah, sudah satu Minggu ini kamu tidur, apa kamu tidak lelah, hm!" Ucap Jeffry dengan mata yang berkaca-kaca, dan sesekali ia mengelus perut sang istri.
Cklek.
Pintu terbuka, menampilkan dokter yang akan memeriksa kondisi Vio.
"Tunggu sebentar dok."
"Sayang aku keluar dulu sebentar, nanti aku akan menjaga kamu lagi." Bisik Jeffry ditelinga Vio.
"Anak ayah, ayah keluar dulu ya! Kamu baik-baik di dalam perut bunda, biar perlu kamu bilang sama bunda untuk cepat sadar, agar kita bisa bersama." Ucapnya sambil mengusap pelan perut Vio.
Setelah itu Jeffry pun mencium perut Vio, dan beralih mencium kening sang istri. Dan ia pun keluar dari ruang ICU.
Setelah berada di luar ruang ICU, Jeffry pun membuka baju yang dikhususkan untuk memasuki ruang ICU, dan memberikannya kepada perawat yang kebetulan sedang bertugas untuk menjaga.
Setelah itu ia pun pergi ke kantin yang berada di rumah sakit, berencana untuk sarapan terlebih dahulu sebelum kembali ke ruangan sang istri.
Di dalam ruangan setelah memeriksa kondisi Vio, dokter dan beberapa perawat pun pergi dari ruangan tersebut.
Kini tinggallah Vio dalam kondisi yang masih sama yaitu lemah dan belum sadarkan diri.
"Aku ada dimana? Tempat ini sangat indah dan sejuk, rasanya aku ingin selalu berada disini, daripada harus berada di rumah, aku malas karena semua orang telah membohongi ku." Ujar Vio, sambil sesekali melihat ke arah sekitar yang di penuhi oleh bunga dan di sebelahnya ada air yang mengalir.
Dan ia pun duduk di salah satu kursi yang ada di samping sebuah pohon yang rindang. Sesekali ia...