
"Apa saya sudah bisa bicara?" Tanya doker.
Mendengar suara dokter, Jeffry pun melepaskan tangannya dari wajah Vio. Dan ia membantu Vio untuk turun dari hospital bad.
Kini mereka duduk berhadapan dengan dokter, karena ingin mendengarkan penjelasan darinya.
"Keadaan calon bayi kita tidak ada masalah kan dok?" Tanya Jeffry.
"Alhamdulillah kondisi janin yang istri anda kandung tidak ada masalah, dan untuk bentuknya mungkin saat ini masih sebesar biji kacang hijau, dikarenakan usia kandungan istri anda baru memasuki trimester pertama, yakni 4 Minggu, jadi pada saat trimester pertama ini mungkin sang ibu akan mengalami gejala muntah di pagi hari, mual, dan emosional, yang sering berubah-ubah, serta sensitif..."
"Oleh karena itu disarankan untuk tidak memikirkan apapun, tidak boleh stres atau kecapean, dan diusahakan perbanyak istirahat. Dan untuk anda tuan, anda sebagai suaminya harus menjaga istri anda dengan baik, dan disarankan jika ingin berhubungan badan dengan istri anda harus dengan pelan dan juga jangan sesering mungkin, karena dikhawatirkan akan membahayakan kondisi janin yang ada di dalam perut istri anda."
Vio dan Jeffry pun mendengarkan penjelasan dokter dengan seksama, setelah selesai dalam pemeriksaan, mereka pun kembali ke mansion keluarga Vio.
Di tengah perjalanan, Jeffry melirik Vio yang sedang melihat ke arah gerobak makanan, dia yakin Vio pasti menginginkan makanan yang di jual di jalan, yakni makanan kaki lima.
"Apa kau mau itu?" Tanya Jeffry.
"Tidak." Jawab Vio singkat tanpa menoleh, dan fokus melihat ke arah depan.
Namun Jeffry tak menggubrisnya, ia pun memberhentikan mobilnya di tepi jalan yang bisa menjadi tempat parkir.
Memang benar, saat ini ia menginginkan makanan yang ada di gerobak itu, tapi ia gengsi untuk memintanya ke suaminya itu, lantaran ia masih dalam mode marah.
Jadi ia berfikir bisa membelinya nanti setelah pulang ke mansion dan menyuruh pak Asep yang membelikannya, namun siapa sangka, ternyata suaminya itu cukup peka akan keinginan sang istri.
Setelah membeli makanan yang ada di gerobak, yang ternyata adalah batagor. Jeffry pun kembali masuk ke dalam mobilnya.
"Nih." Jeffry pun memberikan satu bungkus batagor ke arah Vio, setelah ia sudah berada di dalam mobil.
"Terima kasih." Ucap Vio dan menerima satu bungkus batagor yang di berikan Jeffry.
Tadinya ia ingin menolak, namun ia tak sejahat itu, sehingga menolak pemberian dari suaminya itu. Sehingga ia pun menerimanya.
Jeffry pun tersenyum melihat Vio mau menerima batagor yang tadi ia beli, setelah itu ia pun menjalankan kembali mobilnya.
"Vi, apa sebaiknya kita makan dulu? Ini sudah masuk jam makan siang?" Tanyanya.
Ya, memang waktu sudah menunjukkan pukul 12:00 wib. Jadi sebab itu Jeffry bertanya pada sang istri, takutnya sang istri sudah lapar. Karena yang ia dengar dari cerita ibu mertuanya, bahwa Vio suka sekali makan, ia hanya merasakan muntah di pagi hari saja, setelah itu, ia seperti biasa hanya saja porsi makan ia bertambah dan sering sekali mengemil.
Berbeda dengan Jeffry yang selalu mengalami muntah bukan hanya di pagi hari tapi juga di siang hari bahkan di sore hari.