Violleta

Violleta
BAB 130



Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa kini kandungan Vio sudah memasuki usia sembilan bulan, tinggal menunggu beberapa hari lagi maka Vio dan Jeffry akan melihat bayi kecil mereka lahir ke dunia ini.


Dan disini lah mereka berada di dalam kamar mereka, kini keduanya tengah duduk bersantai di atas ranjang king size nya.


Seperti biasa, sebelum mereka tidur maka mereka akan melakukan deep talk terlebih dahulu.


Kini Vio berada di pangkuan sang suami dan menyandarkan kepalanya ke dada bidang milik sang suami, sementara Jeffry tengah memeluk pinggang sang istri seraya mengelus perut buncit sang istri, dan juga mendompang dagunya di bahu sang istri.


"Tidak terasa sebentar lagi kita akan menjadi orang tua." Ucap Jeffry, seraya mencium leher jenjang Vio, dan menghirup aroma wanginya dalam-dalam.


"Kamu benar mas."


"Sayang, lebih baik kita lakukan apa yang dokter anjurkan, supaya lahiran kamu dipermudah dan dipercepat." Bisik Jeffry ditelinga sang istri, sementara tangannya sudah berkeliaran bebas menyelusuri lekuk tubuh sang istri.


"Mas." Tegur Vio, karena tangan suaminya itu sudah berada di dalam piyama tidurnya, yang kini tengah memainkan dua buah melon milik Vio yang tak tertutup apapun hanya tertutup baju piyama saja.


"Hehehe." Bukannya melepaskan tangannya, Jeffry malah m***s nya.


"Mas." Vio pun melepaskan tangan sang suami yang tengah memainkan dua buah melon nya.


"Sayang." Rengek Jeffry, karena ia tak bisa bermain di area favoritnya.


"Apa? Itu mah maunya kamu, sudahlah aku mengantuk ingin tidur." Ucap Vio seraya turun dari pangkuan sang suami, lalu duduk manis di atas ranjangnya.


"Sayang tapi aku pingin." Rengek Jeffry, seraya menggoyangkan lengan Vio, seperti anak kecil yang ingin dibelikan mainan oleh ibunya.


"Tapi akunya gak mau."


Dan seperti mendengar suara sang ayah, anak yang dikandung Vio pun bergerak seolah-olah ia setuju apa yang dikatakan Jeffry.


"Tuh lihat sayang, apa aku bilang. Anak kita ingin di jenguk oleh ayahnya." Ucap Jeffry dengan wajah sumringah.


Dan Vio pun hanya bisa cemberut lantaran sang anak lebih setuju apa yang diucapkan oleh ayahnya, mau tak mau, Vio pun memberikan hak Jeffry.


Melihat tak ada penolakan dari sang istri Jeffry pun langsung mencium bibir sang istri dan segera melancarkan aksinya untuk menjenguk sang bayi.


Entah sejak kapan, namun kini keduanya sudah dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh mereka, hanya ada satu selimut besar lah yang menjadi penutup keduanya.


Namun pada saat ingin penyatuan, tiba-tiba Vio merasakan sakit di perutnya.


"Berhenti dulu mas, jangan dulu. Ini perutku rasanya sakit."


"Tapi sayang, aku bel..."


"Tapi sakit mas, sepertinya aku mau melahirkan."


"Apa? Tapi bagaimana bisa, bukannya kata dokter perkiraan kamu akan melahirkan dua hari atau tiga hari lagi? Kenapa harus sekarang sih nak." frustasi Jeffry, karena hasratnya sudah di ubun-ubun harus di hentikan lantaran Vio mengalami sakit di perutnya.


"Ya mana aku tau, buruan mas aku sudah gak kuat."


"Ya, ya, tunggu. Aku pakai pakaian ku dulu." Jeffry pun kembali memakai pakaiannya, ia hanya memakai kaos oblong warna putih dan juga celana kolor warna hitam.