Violleta

Violleta
Promosi karya ke 2



Assalamu'alaikum...


Hey apa kabar? Kali ini aku mau promosi karya kedua aku yang judulnya "Takdir cinta pengacara tampan"


Jangan lupa masukan ke favorit, dan juga kasih like, komen, dan juga vote😘


Spoiler bab 1


Di sebuah rumah minimalis namun cukup besar berlantai dua, dengan halaman luas, di sana terdapat taman mini yang dihiasi berbagai bunga seperti, bunga mawar, anggrek, dan lainnya.


Di sebuah kamar terdapat pasangan suami istri, sang istri yang kini tengah memakaikan kemeja suaminya.


"Sayang, mungkin malam ini aku akan pulang larut malam. Kamu jangan tungguin aku ya! Kamu langsung tidur aja, aku gak mau kamu nungguin aku. Aku gak mau kamu terlalu capek, sudah cukup kamu mengurus aku, rumah dan juga anak kita. Aku gak mau kamu nanti kurang tidur, hanya gara-gara menungguku pulang," ucap laki-laki itu yang tak lain adalah Nares.


"Iya mas," jawab sang istri yang bernama Zahra, seraya mengancingkan kemeja suaminya.


"Sudah selesai," ucapnya lagi.


"Terima kasih sayang," Ujar Nares.


Cup, satu kecupan berhasil berhasil didaratkan oleh Nares pada bibir ranum sang istri.


"Mas," rengek Zahra.


"Hehehe maaf, habisnya aku gak tahan lihat bibir manismu sayang," goda Nares.


"Udah ah. Sebaiknya kita turun, aku udah masakin makanan kesukaan mu."


"Wah benarkah?! Kalau begitu ayok, mumpung Zahwa masih tidur," ucapnya, sambil melihat ke arah box bayi. Yang di sana terdapat putrinya yang berusia dua bulan masih tidur.


"Memangnya kenapa kalau Zahwa bangun?" Tanya Zahra.


"Ya, kalau Zahwa bangun otomatis aku gak bakal bisa di suapin sama kamu dong!" Jawab Nares.


"Biarin, manja sama istri ini," ujar Nares tak mau kalah.


"Sudahlah ayok," ajak sang istri.


Nares pun memegang pinggang sang istri menggunakan satu tangannya, mereka pun keluar dari kamar dan menuju ke meja makan.


Karena masih pagi, bi Darmi selaku art yang membantu Zahra untuk membersihkan rumahnya belum datang.


Karena Nares dan Zahra sepakat, bahwa mereka akan menggunakan jasa art pada saat jam tujuh pagi, yang dimana Nares sudah pergi ke kantornya, dan selesai pada jam lima sore, sesuai jam pulang Nares dari kantornya.


Namun jika Nares lembur, maka bi Darmi pun akan menginap di rumah mereka. Karena yang dikerjakan Nares bukan hanya di bidang pengacara saja, namun ia juga harus membantu sang kakak yang mengurus perusahaan milik ayahnya itu.


Dikarenakan sang kakak kini, lebih fokus menjalankan perusahaan milik mertuanya, jadi sebab itu ia ditugaskan untuk menjalankan perusahaan milik keluarganya.


Setelah sampai di meja makan, Zahra pun melayani sang suami dengan mengambilkan nasi beserta lauk pauk, dan setelahnya barulah ia mengambil untuk dirinya sendiri.


Selesai makan, Nares pun berdiri disusul oleh Zahra.


Baru saja mereka hendak melangkah ke luar, namun sebuah suara tangisan menghentikan langka mereka.


"Sayang, sudah kamu gak perlu mengantarkan aku sampai ke depan. Lebih baik kamu lihat Zahwa geh, mungkin dia haus habis bangun tidur, mangkannya dia nangis," ucap Nares.


"Yasudah kalau begitu, kamu hati-hati ya mas," ujar Zahra, seraya menyalami punggung tangan suaminya, dan dibalas kecupan di kening nya oleh sang suami.


"Ya udah, mas berangkat dulu ya! Assalamu'alaikum," ucap Nares.


"Wa'alaikum salam," jawab Zahra, seraya melihat punggung sang suami yang perlahan menghilang.


Setelah itu, ia pun pergi ke kamarnya. Karena tangisan dari bayinya terdengar semakin kencang.