
"Tapi kapan?"
"Entah. Tapi kamu tunggulah, jika waktu itu tiba kita akan bersama-sama lagi seperti dulu. Jadi sekarang kamu pergilah, insha Allah kami sudah ikhlas nak."
"Tapi aku harus pergi kemana?"
"Ke suatu tempat yang jauh dan indah."
"Dimana itu yah!"
"Di sana." Jawab sang ayah sambil menunjuk ke arah gerbang.
Jefri pun mengikuti arah yang di tunjukan oleh sang ayah lalu ia berkata. "Baiklah."
Setelah itu, ia pun bergegas menuju ke arah gerbang yang di tunjukan. Setelah sampai di depan gerbang megah tersebut, ia terlihat bingung lantaran gerbang itu tidak bisa di buka, padahal tidak di kunci.
Ia pun menoleh ke arah sang ayah dan ibunya. Yang dimana sang ayah dan ibunya masih berada di tempat yang sama sambil melihat ke arahnya dengan wajah yang berlinangan air mata yang membasahi ke dua pipinya.
"Ayah, kenapa pintu gerbangnya tidak bisa di buka?"
"Kamu harus membaca kalimat tauhid dulu nak. Baru pintunya bisa di buka." Lirih sang ayah dengan wajah yang berlinangan air mata.
"Tauhid." Lirih Jefri
Tiba-tiba saja ia dibuat tidak tau bagaimana mengucapkan kalimat tauhid?"
"Tapi ayah, bagaimana cara mengucapkan nya?"
"Begini nak. Ikuti ayah."
"Lā ilāha..."
"La ilaha..."
" Illallāh’ "
Setelah mengucapkan kalimat tauhid. Pintu gerbang pun terbuka dan di sana sudah ada sang kakek yang sedang menunggunya, serta ingin memeluknya.
Di dalam ruangan ICU itu semua orang menangis histeris, lantaran mendengar alat pendeteksi jantung sudah tidak berbunyi lagi. Yang menandakan bahwa Jefri sudah kembali pada sang mahakuasa.
Begitupun sang ayah, yang tadi sempat membimbing nya untuk mengucapkan kalimat tauhid di telinga sang putra hanya bisa mengucapkan. "Selamat jalan nak." Dengan suara tercekat. Lalu mencium kening sang putra untuk terakhir kalinya.
Begitu pun juga di lakukan oleh sang istri, dia pun melakukan hal sama mencium kening sang putra untuk terakhir kalinya. Sebelum jenazah sang putra di kuburkan.
Sampai saat, sang dokter dan perawat masuk kedalam ruangan tersebut untuk melepaskan alat medis yang melekat di tubuh Jefri. Dan para perawat membawa bankar pasien keluar dari ruangan ICU. Untuk di pindahkan sementara ke tempat ruang mayat, yang nantinya jenazah Jefri akan di mandikan beserta di kafani. Sehingga besok nanti tinggal di sholat kan dan juga di kuburkan.
Di lain tempat, tepatnya di rumah keluarga Abimanyu. Yaitu Vio yang sedari tadi sudah sampai ke rumahnya setelah dari rumah sakit. Kali ini dia sedang berada di dapur untuk meminum, namun sayang baru juga ingin meneguk air dingin. Tiba-tiba gelas yang ia pegang terjatuh dan pecah di lantai.
Dan itu juga membuat hati Vio merasakan hal yang tidak biasa, seakan-akan dia telah kehilangan seorang yang begitu berharga di kehidupannya. Sampai seorang pelayan pun menghampiri nya.
"Nona muda, apa anda tidak apa-apa?" Ucap salah satu pelayan.
"Tidak apa-apa bi, dan tolong bersihkan bekas pecahan gelas takutnya ada yang terluka."
"Baik nona muda."
"Baiklah, kalau begitu saya mau kembali ke kamar."
"Apakah nona muda mau saya antar ke kamar?"
"Tidak usah saya bisa sendiri. Terima kasih."
"Baiklah kalau begitu nona."
"Ya."
"Astaga apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa sebenarnya."