
Namun hal itu tetap berhasil membuat Jeffry menelan ludahnya, dan mencoba untuk mengatur gairah nya, bagaimana tidak selama Vio berada di mansion keluarga Abimanyu, Jeffry tak mendapatkan hak nya sebagai seorang suami.
Bisa saja Jeffry membayar wanita malam untuk memuaskan kebutuhan biologisnya selama sang istri tidak tinggal di rumah mereka.
Namun Jeffry bukanlah pria seperti itu, sebrengsek-brengseknya ia dulu, ia tak pernah sekalipun meniduri seorang wanita.
Walaupun kerap kali ia digoda oleh beberapa wanita malam yang sering berada di Club, namun ia tak menghiraukannya.
Lantaran ia tak mau nantinya ia akan mengalami sakit yang sering diderita oleh orang yang suka s***s bebas.
"Belum." Jawab Vio, Vio pun langsung menutupi kaki jenjangnya yang terekspos, menggunakan selimut.
"Aku ingin mengambil baju tidurku." Ucap Jeffry dengan gugup.
"Iya."
Baru saja tiga langkah, tiba-tiba Vio menghentikan langkah kaki Jeffry.
"Tunggu." Ujar Vio, dan Jeffry pun membalikan badannya menghadap ke arah Vio.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Kau pernah bilang akan menjelaskan semuanya, sekarang aku ingin meminta penjelasan darimu." Jawab Vio, Jeffry pun hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar, mungkin kini saatnya ia memberikan surat yang di tulis oleh mendiang Jefri untuk Vio.
"Baiklah, tunggu aku akan mengambilnya." Ujar Jeffry, ia pun masuk ke dalam walk in closet, dan membuka salah satu lemari yang di dalamnya terdapat sebuah brankas.
Setelah mengambil barang, Jeffry pun kembali ke kamarnya, di sana sudah ada sang istri yang menunggunya.
Setelah itu, Jeffry pun memberikan sebuah handphone dan juga sebuah surat.
"Lihat saja, itu dari mendiang alm Jefri. Sebelum dia meninggal, dia sempat menitipkan itu padaku untuk di berikan kepadamu." Jawab Jeffry.
Setelah mendengar jawaban dari Jeffry, Vio pun langsung melihatnya. Pertama ia melihat handphone milik alm Jefri, hal pertama yang ia lihat adalah galeri.
Di sana ternyata banyak sekali foto dirinya yang diambil dari arah samping, ada juga foto dirinya dengan seorang pria, yang Vio yakini ialah Jefri, mantan tunangannya.
Setelah selesai melihat foto yang ada di galeri, Vio pun melihat sebuah rekaman video yang menampilkan sosok Jefri yang terbaring lemah di atas hospital bad.
Di sana wajah Jefri terlihat tidak baik-baik saja, ada perban di kepala dan juga beberapa lecet di bagian wajah, serta wajahnya yang terlihat pucat.
Namun di video itu, meski wajahnya terlihat pucat namun Jefri masih bisa tersenyum, walaupun hanya senyuman yang tipis.
Dan di video itu, Jefri hanya mengatakan "halo" pada Vio seraya tersenyum dan setelah itu video pun berakhir.
Setelah melihat foto dan video, tak terasa air mata Vio berjatuhan dan mengalir di pipi mulusnya.
Vio pun mencoba untuk membaca isi dari surat yang mendiang Jefri tulis untuknya.
Dan lagi-lagi air mata Vio tumpah membasahi pipinya.
..."Assalamu'alaikum, teruntuk Tania Violleta. Jika kamu membaca surat ini, berarti aku sudah tak lagi berada di samping mu untuk menjagamu, maafkan aku karena tidak menepati janjiku padamu....
...Aku tau kamu pasti merasa bingung dan heran kenapa aku meminta mu untuk menikah dengan orang yang telah mencelakai ku. Tapi percayalah itu aku lakukan untukmu, aku yakin dia bisa menggantikan ku untuk menjagamu, dan juga membahagiakanmu....
...Aku harap kamu selalu bahagia."...
^^^Jefri.^^^