Violleta

Violleta
BAB 45



Sebelum menaiki motor sport nya, Jeffry pun berbalik ke arah Dona.


"Oh ya, sebaiknya lu cepat pergi dari sini. Hari semakin malam, tidak baik seorang wanita di jalan, apalagi dengan pakaian yang lu gunakan." Ucapnya, sambil melirik ke arah pakaian Dona pakai. Ya memang, waktu itu Dona memakai pakaian yang agak ketat, sehingga menampilkan lekukan tubuhnya.


Setelah mengucapkan itu, Jeffry pun langsung melakukan motornya dengan kecepatan sedang.


"Aku akan pastikan kamu akan menjadi kekasih ku Jeffry." Gumamnya, setelah motor Jeffry hilang di hadapannya.


"Bos. Bagaimana semuanya berjalan dengan rencana bukan."


"Ya, ini imbalan kalian." Ucap Dona, seraya menyerahkan amplop yang berisi uang kepada tiga preman tadi.


"Wah-wah, roman-roma nya sahabat ku yang satu ini yang akan mendapatkan taruhannya." Ucap salah satu sahabat karib seperjuangan nya dalam dunia modeling, bernama Cindy.


"Tentu saja, jika aku tidak bisa mendapatkan pertaruhan ini, maka jangan sebut aku Dona." Ujarnya seraya senyum licik.


Ya, sebenarnya Dona yang menyuruh para preman itu untuk mengganggunya. Setelah ia mengetahui bahwa Jeffry akan melewati jalan yang ia datangi.


Dan ia melakukan hal itu untuk mendapatkan taruhan yang ia lakukan bersama salah satu temannya di dunia modeling, dengan mendapatkan hadiah satu unit mobil keluaran terbaru, jika ada yang berhasil menjadi kekasih dari pria dingin namun terkenal dengan tingkah nakalnya.


Singkat cerita, setelah beberapa Minggu kejadian itu dan beberapa Minggu juga Dona mulai mendekati Jeffry, namun usahanya ternyata sia-sia.


Pria itu tidak mempan untuk didekati, walaupun sudah berbagi cara Dona lakukan, namun hasilnya tetap nihil.


Namun kali ini ia bertekad untuk mendapatkan Jeffry sebagai kekasihnya, agar kelak ia bisa mendapatkan taruhan yang ia lakukan bersama temannya.


Dan disini lah Dona menjalankan rencananya, ia berencana untuk menjebak Jeffry agar mau tak mau Jeffry harus menjadi kekasihnya.


Di sebuah Club malam ternama di kota tersebut, Dona menjalankan rencananya dengan menyewa seorang pria yang nanti akan berperan sebagai mantan pacarnya.


"Cukup hentikan Dion. Kamu tidak berhak mengatur ku lagi, karena kita sudah tidak ada hubungan lagi." Teriak Dona.


"Cih aku tidak mau, lagi pula aku sudah memiliki kekasih."


"Benarkah! Mana, mana, kekasih mu itu hah!"


"I-itu..."


"Tidak ada kan, kamu pikir, kamu bisa membohongi ku, jadi..."


Belum sempat Dion melanjutkan perkataanya, tiba-tiba ada sebuah suara yang meneriakinya.


"Ada apa ini." Tanya seseorang yang sedari tadi melihat perkelahian antara Dion dan Dona.


"Jeffry." Ucap Dona, setelah membalikkan badannya ke arah Jeffry.


"Lu, ada apa lagi ini." Tanyanya.


"Dia, iya dia adalah kekasih baru ku. Jadi pergilah jangan ganggu aku lagi." Ucap Dona, sambil merangkul lengan kekar Jeffry.


"Hah."


"Sayang, lebih baik kita pergi dari sini." Ajak Dona kepada Jeffry.


"Apa yang lu maks..." Belum sempat Jeffry menyelesaikan perkataannya, Dion mencelanya lebih dulu.


"Baiklah, aku akan pergi sekarang, tapi ingat aku akan merebut mu kembali ke pelukanku Dona." Ucap Dion, sambil menunjuk ke arah Dona dan meninggalkan mereka berdua.


Setelah kepergian Dion, kini tinggallah mereka berdua.


Dona pun memerintahkan Jeffry untuk duduk di sofa...