
Jeffry dan Vio pun pergi dari mansion, dan kembali ke rumah mereka.
Setelah sampai di rumah neraka, Vio meminta dirinya untuk pisah kamar, lantaran ia masih belum sepenuhnya mau menerima Jeffry.
Walaupun ada sedikit kecewa di hati Jeffry, tapi Jeffry tetep tersenyum dan mengabulkan apa yang diinginkan oleh sang istri, meski ia sebenarnya tak rela harus pisah kamar.
Namun apa boleh buat, Jeffry tak mau membuat Vio semakin membencinya dan berniat untuk kembali lagi ke mansion keluarganya.
Anggap saja ini adalah sesuatu ngidam yang diinginkan oleh Vio.
Malam hari pun tiba, kini mereka tengah berada di warung pecel ayam dan lele.
Ya, Vio ngidam ingin makan pecel lele yang sering dijual di warung-warung tenda di pinggir jalan dan ia ingin makan ditempat.
Demi membahagiakan istri dan calon anaknya, Jeffry pun langsung menuruti keinginan istrinya itu.
"Mas tidak makan?" Tanya Vio.
"Aku mual, aku tidak bisa makan apapun." Jawab Jeffry.
Setelah mendengarkan jawaban dari suaminya itu, membuat hati Vio tak tega, Vio tau betapa tersiksanya ketika mual melanda.
Walaupun ia tak separah yang di alami oleh suaminya itu, namun hal itu pun berhasil membuat dirinya lelah, dan rasanya ingin beristirahat di kamar seharian.
Mendengar sang suami ternyata tidak bisa menelan makanan, hanya masakan darinya saja dan juga rujak saja lah yang bisa Jeffry telan. Membuat Vio merasa iba dan juga salut, lantaran ia masih saja bisa menghandle pekerjaan.
"Buka mulutmu." Pinta Vio pada Jeffry.
"Tidak sayang, aku mual."
"Buka, atau aku akan kembali ke mansion." Ancam Vio, dan hal itu berhasil membuat Jeffry membuka mulutnya, tak lama Vio pun menyuapi Jeffry.
Jeffry pun mencoba untuk mengunyah dan menelannya, setelah berhasil menelan makanan yang Vio suapi, ia di buat heran lantaran ia tak merasakan mual, malahan ia ingin disuapi lagi oleh istrinya itu.
"Apa mual?" Tanya Vio, dan di jawab gelengan oleh Jeffry.
"Ingin lagi?" Tanyanya lagi, dan Jeffry pun mengangguk.
Vio pun menyuapi kembali Jeffry, setelah selesai makan mereka pun akhirnya pergi dari tempat itu.
Di dalam mobil hanya ada keheningan yang melanda.
"Kau ingin kemana lagi?" Tanya Jeffry setelah beberapa saat keheningan di antara mereka.
"Tidak aku hanya ingin istirahat." Jawabannya, tanpa menoleh ke arah Jeffry.
Tak lama mereka pun sampai di rumah mereka, setelah itu mereka berdua masuk ke dalam kamarnya masing-masing.
Di dalam kamar, Vio tengah duduk di ranjang yang sering ia tepati bersama Jeffry, namun kali ini tidak.
Di saat melamun, ia teringat bahwa ia datang kembali ke rumah ini untuk menyelesaikan masalah rumah tangganya.
Baru saja Vio hendak beranjak dari posisi nya, dan ingin menemui suaminya itu, tiba-tiba pintu kamar di ketuk dari luar.
Tok, tok, tok.
"Masuk." Ujar Vio.
Pintu pun terbuka dan menampilkan sosok Jeffry yang kini sudah berada di dalam kamar.
"Kau belum tidur?" Tanya Jeffry, ketika melihat sang istri masih duduk di ranjangnya.
Penampilan Vio kali ini berhasil membuat Jeffry menelan Saliva nya, bagaimana tidak Vio kali ini tengah memakai piyama tidur berbahan satin yang agak seksi, meski di tutupi oleh jubah.