
"Wah sungguh luar biasa, beruntung lu bang dapet bini yang Solehah. Jarang-jarang zaman sekarang istri kalau mau keluar minta izin ke suami dulu." Celetuk Chandra.
"Ya lu bener, gua emang beruntung." Ujar Jeffry dengan bangganya.
"Tapi jujur ya, gua salut sih sama cara didiknya tuan Banyu sama nyonya Kayla. Walaupun mereka keluarga sosialita, mereka tetap mengajarkan anaknya untuk selalu rendah diri dan patuh." Ucap Dio.
Semua orang pun mengangguk setuju mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Dio.
Di suatu tempat, lebih tepatnya di swalayan. Vio sedang memilih bahan untuk ia masak nanti.
Di sela dia yang sedang asik memilih buah-buahan, tiba-tiba ada seorang yang menepuk pundaknya.
"Vio, apa ini kau?" Ucap nya, dan Vio pun menoleh ke arah orang yang tadi menepuk pundaknya.
"Iya, oh Dona ada apa?" Tanyanya kepada orang yang bernama Dona.
"Tidak apa-apa, aku hanya terkejut saja. Ternyata benar ya kamu sudah bisa melihat." Jawabnya dan Vio pun hanya mengulam senyum tipis.
"Oh ya, maaf aku gak bisa hadir di acara pernikahan mu. Kamu tau sendiri kan aku sibuk di dunia modeling."
"Ya, tidak apa-apa. Oh ya, aku duluan supir pribadi ku pasti sudah lama menunggu." Ucap nya.
Wanita yang bernama Dona pun hanya mengangguk.
"Jadi benar dia sudah bisa melihat! Entah kenapa aku tidak suka dia bisa melihat kembali sama seperti dulu." Batin Dona.
"Aku benci dia bahagia." gumam Dona sambil melihat ke arah Vio yang perlahan menjauh dari pengelihatannya.
Di sisi lain, di sebuah restoran ternama. Terdapat sosok pria tampan yang sedang melakukan rapat bersama kliennya. Di salah satu ruangan VIP.
"Jeffry." Teriak seorang wanita.
Ya, pria tersebut adalah Jeffry yang kebetulan sedang selesai rapat dengan salah satu kliennya.
"Dona." Gumamnya pelan saat dia berbalik untuk melihat ke arah orang yang memanggilnya.
"Ya Jef ini aku." Ucap Dona saat sudah ada di hadapan Jeffry.
Dan ya, wanita yang tadi memanggil Jeffry adalah Dona mantan kekasihnya dulu. Sebelum dia mengkhianati cintanya Jeffry.
"Ada apa." Tanyanya dengan wajah dingin.
"Aku ingin bicara denganmu sebentar, apa bisa!" Jawab Dona.
"Maaf, tapi gua buru-buru. Banyak pekerjaan yang harus gua kerjakan." Ucap Jeffry masih dengan nada dan wajah dinginnya.
"Sebentar saja, lima menit. Ada hal yang penting yang ingin aku bicarakan dengan mu." Lirih Dona dengan wajah yang dibuat sedih.
"Sorry, gua benar-benar sibuk. Ayo Siska." Ujar Jeffry pada Dona sekaligus kepada sekretaris nya.
"Baik pak, mari nona." Ucap sekretaris Jeffry yang bernama Siska.
Jeffry pun hanya melangkah keluar restoran tanpa mengucapkan kata apapun bahkan ia tak melihat ke arah Dona.
Dan Dona pun keluar dari restoran tersebut. Di dalam mobil Dona terus saja meluapkan kekesalannya terhadap Jeffry lantaran mantan kekasihnya itu sudah berubah tidak seperti dulu lagi, dia cenderung lebih dingin dan juga cuek beda ketika ia masih memiliki hubungan dengannya. Walaupun sikap yang diberikan oleh Jeffry masih dingin kepadanya setidaknya waktu mereka masih menjalin hubungan, Jeffry sedikit perhatian.