
Tak ingin Vio mematikan teleponnya, Jeffry pun buru-buru mengangkat telepon nya.
"Halo, assalamu'alaikum." Sapa nya, setelah ia mengklik tombol berwarna hijau.
"Wa'alaikum salam." Jawab Vio diseberang sana.
"Ada apa Vi! Apa kamu membutuhkan sesuatu sayang?" Tanya Jeffry.
"Tidak. Aku hanya ingin mengatakan kepada mu, tolong datang ke mansion setelah pulang kerja, itu saja."
"Hanya itu, baiklah aku akan datang ke mansion setelah pekerjaan ku selesai." Ucap Jeffry tanpa meredupkan senyuman di wajah tampannya.
"Iya, yasudah kalau begitu assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam." Jawab Jeffry, setelah itu panggilan pun berakhir, karena Vio telah mematikan sambungan telepon terlebih dahulu.
Setelah telepon itu terputus, Jeffry tak henti-hentinya mengulas senyum. Ia sangat senang, akhirnya istrinya itu mau berbicara dengannya lagi, meski hanya sebentar.
Hari pun semakin sore. Tepat pada pukul 17:00 wib, Jeffry menyelesaikan pekerjaannya.
Setelah membereskan berkas-berkas, ia pun segera keluar dari ruangannya, dan menuju lift untuk sampai di lobby perusahaan.
Setelah berada di lobby perusahaan, ia pun bergegas ke mobilnya, karena sudah tak sabar ingin bertemu kekasih halalnya itu.
Di perjalanan Jeffry tak henti-hentinya tersenyum, lantaran Vio sendiri lah yang ingin bertemu dengan dirinya.
Tak butuh waktu lama, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Jeffry telah sampai di mansion keluarga Abimanyu.
Setelah memarkirkan mobilnya di halaman mansion, Jeffry pun keluar dari mobil dan menuju ke pintu utama mansion.
Setelah berada di pintu utama, Jeffry pun menekan bel yang ada di samping pintu. Tak butuh waktu lama, pintu pun dibuka oleh BI Siti kepala pelayan yang ada di mansion itu.
"Wa'alaikum salam." Jawab bi Siti.
"Vio nya ada bi?" Tanya Jeffry.
"Oh non Vio, ada den di dalam. Mari silahkan masuk." Jawab bi Siti, seraya membuka pintu lebar dan membiarkan Jeffry masuk.
"Terima kasih bi." Ujarnya, ia pun masuk ke dalam.
Jeffry pun berjalan ke ruang tengah, yang ternyata di sana ada tuan Banyu yang duduk santai sambil membaca koran, dan ditemani satu cangkir kopi beserta singkong rebus.
Yaps singkong rebus, walaupun tuan Banyu berasal dari keluarga terpandang dan terhormat, sekaligus blasteran Eropa-jawa, tapi ia lebih suka makan makanan kampung dan juga tradisional daripada makanan ala western.
"Assalamu'alaikum dad." Sapa Jeffry.
Mendengar orang yang memberi salam, tuan Banyu pun menutup koran yang tengah ia baca, dan menjawab salam dari seseorang yang tak lain adalah menantunya itu.
"Wa'alaikum salam, ternyata kamu Jef." Jawab tuan Banyu.
"Iya dad." Ucap Jeffry setelah menyalim punggung tangan tuan Banyu sebagai takzim.
"Duduk lah." Pinta tuan Banyu, Jeffry pun duduk di sofa yang ada di samping sofa yang tuan Banyu duduki.
"Ada apa? Apa ada masalah, tidak biasanya kamu datang sore begini. Apalagi dalam keadaan pulang bekerja, biasanya juga ganti baju seperti anak remaja yang mau ngapel, setiap kali kesini." Tanya tuan Banyu, sekaligus meledek sang mantu.
Jeffry pun hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mendengar ucapan dari sang ayah mertua.
Ya, memang Jeffry ketika ingin ke mansion keluarga Abimanyu, ia selalu berpakaian layaknya seorang remaja yang ingin mengapeli kekasihnya itu.
"Heheh Daddy bisa saja, ini tadi siang Vio menghubungi Jeffry, katanya kalau pulang kerja, Jeffry disuruh mampir kesini dad." Ujar Jeffry.