Violleta

Violleta
BAB 52



Yang menurut nya terlihat lucu, lantaran Dona tidak punya rasa malu mengatakan bahwa ia adalah kekasih nya.


Padahal hubungan mereka sudah lama berakhir.


"Lu itu benar-benar lucu ya! Sejak kapan kita masih memiliki hubungan hah?!"


"Tapi aku masih mencintaimu Jef."


"Cinta! Lu cinta gua apa harta gua?! Jawab." Tegas Jeffry.


"Heh! Gak bisa jawab bukan. Jadi jangan pernah bermimpi untuk balikan lagi, karena lu tau! Gua gak sudi balikan sama cewek murahan kaya lu." Ucap Jeffry penuh penekanan.


"Tapi..." Belum sempat Dona menjawab, tiba-tiba Vio bersuara.


"Mas." Ucap Vio.


Dona dan Jeffry pun berbalik ke arah Vio, yang ternyata sudah berada di hadapan mereka.


"Hey, sweet heart sudah lama disini! Kenapa gak bilang dari tadi, hm?"


"Tidak, aku barusan sampai. Kalian sedang membicarakan apa?" Tanya Vio kepada keduanya.


"Kita gak bicara apa-apa, lagian gak penting juga."


"Oh, aku pikir ada hal yang penting yang kalian bicarakan."


"Tidak sayang, yasudah yuk, lebih baik kita berangkat sekarang, sebelum matahari semakin tinggi. Nanti gagal dong kita joging nya." Ajak Jeffry.


Vio pun hanya menganggukkan kepalanya.


"Oh ya, sini biar aku pakaikan dulu helem nya."


Ujar Jeffry sambil memakaikan helem ke kepala istrinya.


Mereka pun naik ke atas motor dan Jeffry mulai menyalakan motornya.


"Awas kalian, tidak akan aku biarkan kalian bahagia." Gumamnya, setelah motor yang ditumpangi Vio dan Jeffry telah hilang di balik pagar.


Di lain tempat, tepatnya di sebuah taman, Jeffry dan Vio tengah asik berlarian kecil.


Setelah dirasa cukup mengelilingi taman, Jeffry dan Vio memutuskan untuk sarapan bubur yang ada di taman itu.


"Mas kita sarapan bubur ayam dulu yuk!" Ajak Vio pada sang suami.


"Kau mau bubur, yasudah ayok."


"Loh, kenapa kita ke parkiran?!" Tanyanya.


"Katanya tadi mau sarapan bubur, yaudah ayok kita cari kedai bubur ayamnya."


"Gak perlu cari kedai segala, disini juga ada tukang bubur ko, masa kamu lupa, bukannya kamu sering mengajak aku untuk sarapan di sini." Ucap Vio setelah mereka sampai di salah satu penjual bubur ayam.


"Mati gua, gua gak tau kalau dia sering ngajak Vio buat makan di pedagang gerobak kan gini." Batin Jeffry.


"Hehehe, sorry aku lupa. Maklum sudah lama tidak pernah kesini lagi." Ucap Jeffry dengan cengengesan, sehingga menampilkan gigi rapi miliknya.


"Kamu ini, yasudah lebih baik kita duduk, kebetulan ada dua bangku kosong tuh." Tunjuk Vio pada dua bangku plastik.


"Ayo." Jawab Jeffry.


Mereka berdua pun duduk di bangku plastik yang sudah di sediakan oleh pedagang bubur ayam itu.


"Sayang aku beli air minum dulu ya, di sebrang sana, kamu gak apa-apa kan aku tinggal sebentar?!" Tanyanya.


"Gak apa-apa mas, aku bukan anak kecil juga, yang nangis kalau di tinggal sendiri."


"Ya aku takutnya kamu bakal nangis jika aku tinggal." Ucapnya sambil tertawa kecil.


"Udah ah sana, kamu ini malah bercanda. Lagian aku bakal nangis jika kamu tinggalkan aku tanpa alasan, apalagi jika kamu tinggalin aku demi wanita lain, di situ mungkin aku bakal nangis dan marah sama kamu."