
"Ya Allah sayang, sudah aku bilang, aku gak mungkin selingkuh atau punya simpanan..."
"Hanya laki-laki bodoh yang mau buang berlian demi mengambil batu krikil." Ucapnya lagi.
"Tapi kamu bener kan gak menyembunyikan sesuatu dariku?" Tanya Vio lagi, karena ia masih penasaran.
"Bagaimana ini, haruskah aku beritahu sekarang? Tidak-tidak, aku masih belum siap kehilangan dia, tapi mau bagaimana pun dia pasti akan tau, cepat atau lambat dia harus tau, dan pada saat itu, aku harus siap menerima konsekuensinya, dan harus siap kehilangan dia." Gumam Jeffry dalam hati.
"Mas." Ucap Vio sambil menggoyangkan lengan Jeffry.
"Ah ya." Jawab Jeffry, setelah sadar dari lamunannya.
"Kamu lagi lamunin apa sih? Dari tadi aku panggil-panggil gak nyaut-nyaut."
"Gak lagi mikirin apa-apa ko."
"Kayanya udah larut, lebih baik kita tidur." Ujarnya lagi.
"Iya mas."
Jeffry pun merebahkan tubuhnya, lalu ia merentangkan satu tangannya, dan meminta sang istri untuk tidur dengan berbantal lengannya.
"Kemari lah, pakai lenganku sebagai pengganti bantal."
"Apa tidak apa-apa?! Nanti lengan kamu pegal gimana mas?" Tanya Vio.
"Tidak apa, kemari lah." Perintahnya lagi.
Vio pun menurut, dan ia pun menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan sang suami.
Setelah ia tidur berbantalkan lengan Jeffry, ia pun menggelamkan wajahnya ke dada sang suami.
Dan Jeffry pun memeluk sang istri dengan hangat. Akhirnya mereka pun memejamkan mata untuk menuju dunia mimpi.
Keesokan paginya, seperti biasa Jeffry selalu dilanda rasa mual.
Hoek, Hoek, Hoek.
"Mas kita ke rumah sakit ya, perasaan aku, kamu setiap pagi selalu merasa mual." Ucap Vio, sambil terus memijit leher belakang sang suami dengan lembut.
"Boleh ko, yaudah aku isi air hangat dulu buat kamu ya!"
"Tidak usah sayang biar aku saja, lebih baik kamu bikin sarapan, soalnya aku udah lapar banget nih, pingin makan roti bakar bikinan kamu."
"Ya udah kalau begitu, aku bikinin sarapan dulu ya."
"Iya sayang."
Vio pun keluar dari kamar mandi, dan sebelum membuatkan sarapan, ia terlebih dahulu menyiapkan pakaian kerja untuk sang suami.
Setelah selesai menyiapkan pakaian kerja sang suami, ia pun langsung ke dapur untuk membuat makanan pesanan Jeffry, dan untungnya ia sudah mandi dan berpakaian dengan memakai dress rumahan.
Disela-sela ia sedang asik mengolesi roti dengan selai, tiba-tiba ada sebuah lengan kekar yang melingkar di pinggangnya.
"Sedang apa hm!" Ucap Jeffry, yang sedang memeluk Vio dari belakang, dan menopang dagunya di pundak sang istri.
"Keliatannya." Jawab Vio.
"Ko jawabnya, agak jutek gitu sih sayang." Ujar Jeffry, dengan wajah yang seolah-olah sedang ngambek.
"Ya habisnya kamu masih nanya aja, udah tau aku lagi ngolesin roti."
"Hehehe iyaiya maaf." Jeffry pun melepaskan pelukannya, dan memutar tubuh sang istri agar menghadapnya.
"Ada apa?" Tanya Vio.
"Tolong pasangin dasi aku dulu boleh?!" Pintanya.
"Boleh, sini dasinya."
Vio pun mengambil dasi dari tangan Jeffry, dan ia pun langsung memasangkannya.
Cup.
"Terimakasih."