Violleta

Violleta
BAB 86



"Kayanya ia, ada di tas bini gua."


Di dalam kamar mandi, Vio sedang muntah-muntah, sementara rose menunggunya di luar.


Cklek.


Pintu pun dibuka, munculah Vio dari dalam kamar mandi.


"Apa kamu tidak pa-pa?" Tanya rose, ketika Vio sudah berada di hadapannya.


"Tidak pa-pa."


"Yasudah kalau begitu, mari kita ke depan."


Vio pun hanya mengangguk. Mereka pun pergi ke ruang tengah yang dimana semua orang menunggu.


"Bagaimana." Ucap Jeffry, setelah melihat istrinya.


"Tidak pa-pa mas, mungkin aku hanya masuk angin."


"Yasudah duduklah dulu." Jeffry pun menuntun Vio untuk duduk di sebelahnya.


"Oh ya, kalau begitu kita ke dapur dulu. Mau ngambil beberapa buah-buahan." Ucap Sierra.


"Mba aku bantu ya!" Timpal Syifa.


"Baik ayo."


"Apa perlu bantuan lagi?" Tanya Vio.


"Tidak perlu, lebih baik kamu duduk saja. Pasti badan kamu lemas," ujar Sierra.


"Yang dikatakan Sierra benar sayang, lebih baik kamu duduk saja." Timpal Jeffry.


"Baiklah."


Sierra dan Syifa pun pergi ke dapur.


"Sayang kamu bawa tes pack kan, yang tadi kita beli."


"Iya kenapa memangnya mas!"


"Mas pingin kamu coba, sekarang. Boleh!" Pintanya.


"Disini?"


"Iya."


"Tapi aku malu mas, banyak sahabat mas. Jika hasilnya gak sesuai gimana?"


"Walaupun hasilnya gak sesuai harapan, kita masih bisa melakukannya lagi." Bisik Jeffry.


Aww


"Ckckck, mentang-mentang udah nikah. Dunia seakan milik berdua, yang lainnya ngontrak." Celetuk Chandra.


"Sirik aja lu." Balas Jeffry.


"Ya udah kalau gitu aku cek dulu di kamar mandi."


"Mau mas temenin?"


"Gak usah, aku sendiri aja."


"Yaudah kalau gitu."


Vio pun pergi ke kamar mandi yang ada di dapur.


Di tengah-tengah perjalanannya, ia mendengar perbincangan antara Sierra dan Syifa.


"Mba, aku mau tanya. Jadi Vio tuh orang yang di minta untuk dinikahi oleh Jeffry sama calon tunangannya? Gara-gara Jeffry menabrak nya?" Tanya Syifa.


Belum sempat Sierra menjawab, Vio datang.


"Permisi mba, Syifa. Aku mau ke kamar mandi dulu."


"Oh ya silahkan." Ujar Sierra.


"Lain kali kalau mau bicara masalah Jeffry yang menikahi Vio, jangan ada orangnya. Karena itu rahasia yang hanya diketahui oleh Jeffry, keluarganya, serta para sahabatnya." Bisik Sierra, ketika Vio masuk ke dalam kamar mandi.


"Bahkan para sahabatnya pun diam tidak pernah mengungkit masalah itu, baik ada Vio, maupun tidak ada orangnya." Bisik nya lagi.


"Maaf mba, aku gak tau. Aku hanya penasaran aja, mba tau sendiri kan, kalau pacarku itu suka ngibul."


"Iya gak pa-pa, lain kali jangan diulangi lagi."


"Iya mba."


Di dalam kamar mandi, Vio pun menunggu hasil dari tes nya. Sambil memikirkan apa yang di ucapkan oleh Syifa, karena tadi ia mendengar namanya dan nama suaminya.


Namun ia segera membuang pikiran negatif.


"Ah, kenapa aku berfikir negatif. Sebaiknya aku melakukan tes ini segera, apa aku benar hamil, atau tidak."


Vio pun langsung melakukan tes, dan ia hanya menunggu beberapa menit saja.


Selang beberapa menit, ia pun mengangkat alat tes kehamilan, dan ingin mengetahui namun ia urungkan untuk melihatnya, lantaran di luar terdengar suara ribut-ribut.


"Ada apa diluar, kenapa berisik sekali. Sampai-sampai kedengaran sampai sini."


Vio pun menaruh...