Violleta

Violleta
BAB 133



Suster itu pun memberikan bayi kepada Jeffry, dan meminta Jeffry untuk mengazani bayinya.


Selesai mengazani, mereka pun keluar. Pertama anak mereka terlebih dahulu keluar, karena ingin ditempatkan di inkubator terlebih dahulu.


Lalu setelah itu Vio pun keluar dengan didorong hospital bad nya oleh dua seorang perawat, dan disusul Jeffry dari belakang.


Ternyata diluar ruangan sudah ada kedua orang tua mereka, termasuk Nares.


Dan disini lah mereka berada, diruang rawat inap kelas VVIP yang menjadi tempat Vio untuk dirawat.


"Selamat ya sayang, akhirnya kamu sudah menjadi seorang ibu." Ucap nyonya Kayla, seraya memeluk dan mencium putri semata wayangnya itu.


"Terima kasih mom."


Begitu pun dengan yang lainnya yang mengucapkan selamat kepada Vio.


Para orang tua pun mengobrol di sofa yang berada di ruangan itu, sementara Jeffry ia lebih memilih duduk di kursi yang ada di samping hospital bed yang Vio tempati.


Dan untuk Nares, setelah memberikan selamat kepada kakak dan kakak iparnya itu, ia lebih memilih untuk kembali ke apartemennya.


Begitu juga dengan bi Ijah dan pak Asep kembali ke rumah, nanti besok mereka akan datang dengan bi Ijah membawa pakaian ganti untuk Vio dan Jeffry.


"Oh ya, Jef. Dimana cucu papah?" Tanya pak Putra, yang masih duduk di sofa.


"Masih di berada di ruangan inkubator, katanya sih besok akan dipindahkan ke sini." Jawab Jeffry, yang masih setia duduk di kursi dekat sang istri.


Dan untuk sementara Vio, dia sudah terlebih dahulu tidur, mungkin rasa lelah habis melahirkan, itu sebabnya ia tidur terlebih dahulu.


"Kau mengusir kami?" Tanya tuan Banyu. Yang ditanya seperti itu oleh tuan Banyu, membuat Jeffry menelan Saliva nya dengan susah, pasalnya nada bicara tuan Banyu sedikit membuat ia menciut, mungkin karena dulu tuan Banyu adalah pembisnis yang disegani, sehingga auranya masih melekat sampai sekarang.


"Bu-bukan, seperti itu. Maksud Jeffry, Jeffry hanya takut mommy dan mamah lelah dan mengantuk, disini tak ada lagi kasur yang bisa untuk tidur, dan hanya ada sofa, tidak mungkin kan mommy dan mamah tidur di sofa." Jawab Jeffry, yang agak gugup.


"Kau pikir aku bodoh! Untuk apa aku menyewa kamar VVIP untuk Vio, jika tidak ada ruangan untuk tidur, untuk yang menemaninya." Ujar tuan Banyu. Ya, di sana memang ada ruangan yang khusus untuk orang yang sedang menunggu, di dalam ruangan itu terdapat dua kasur yang berukuran sedang dan satu sofa panjang.


"Benarkah?!"


"Kau tidak percaya, lihat di bagian pojok sana terdapat sebuah pintu kan! Nah didalamnya terdapat kasur untuk tidur." Ucap tuan Banyu, seraya menunjuk ke salah satu ruangan yang ada di bagian pojok.


Karena waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari, mereka pun istirahat.


Dengan para orang tua yang tidur di ruangan yang disebutkan tuan Banyu tadi, sementara untuk Jeffry ia memilih tidur di sofa panjang yang sempat tadi diduduki oleh orang tua sekaligus mertuanya itu.


Tak terasa hari pun sudah pagi, kini waktu sudah menunjukkan jam tujuh pagi.


Jeffry pun bangun dari tidurnya, ia pun melihat sang istri yang ternyata sudah bangun.


"Kamu sudah bangun sayang?" Tanyanya pada sang istri.


"Jika aku belum bangun, mana mungkin mata ku terbuka." Jawabanya.


Dan Jeffry pun hanya menggaruk rambutnya yang tidak gatal.