
"Kalau kamu mengijinkan nya, aku dengan senang hati akan menggigit pipimu yang cuhuby itu." Ujar Jeffry dengan nada mengejek.
"Ihhhh, kamu mah jahat." Teriak Vio dalam mode ngambek sambil wajah nya di tekuk sambil memajukan bibirnya beberapa senti.
Dan hal itu berhasil membuat Jeffry tertawa terbahak-bahak.
"Hahahah... Sayang kenapa kamu gemesin banget sih!"
Jeffry pun memegang pipi Vio dengan kedua tangannya dan tanpa sadar dia mencium bibir Vio sekilas.
Cup
"Ekhm, sebaiknya aku pergi sekarang. Nanti takutnya telat." Ujar Jeffry setelah sadar bahwa ia tak sengaja mencium bibir Vio walaupun hanya sekilas.
"Yasudah ayo, tapi sebelum itu kita sarapan terlebih dahulu."
Jeffry pun hanya mengangguk dan mereka pun pergi keruang makan.
Sesampainya di kantor, Jeffry pun langsung masuk ke ruangan pribadinya yang berada di lantai tujuh.
"Selamat pagi tuan." Sapa sang sekretaris. Saat dia sudah berada di luar ruangannya.
Jeffry pun hanya menjawabnya dengan senyuman tipis.
Setelah berada di dalam ruangan, Jeffry pun langsung duduk di kursi kebesarannya dan mulai memeriksa dokumen yang harus ia tanda tangani. Sampai terdengar suara ketukan pintu.
Tok, tok.
"Masuk." Jawab Jeffry.
Setelah mendengar suara yang menyuruhnya masuk, pintu pun terbuka dengan menampilkan sosok wanita yang tidak lain dan tak bukan adalah sekretaris nya.
"Maaf mengganggu, saya hanya ingin menyampaikan bahwa nanti setelah jam makan siang akan ada rapat dengan perusahaan xxxx, di sebuah restoran." Ucap sang sekretaris.
"Hmmm, baiklah. Atur semuanya."
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi."
"Ya." Sekretaris itu pun pergi dari ruangan tersebut.
Setelah sekertaris itu keluar dari ruangannya. Ponsel Jeffry pun berbunyi, menandakan ada sebuah panggilan masuk. Dia pun melihat siapa yang meneleponnya, dan setelah di lihat terdapat nama yang tertera atas nama "My sweet heart" yang tak lain adalah sang istri, Violleta.
Dia pun langsung mengklik tombol warna hijau.
"Halo, assalamu'alaikum mas."
"Wa'alaikum salam, iya ada apa Vi."
"Gini mas, aku cuman mau minta izin sama kamu. Aku mau pergi ke swalayan buat beli sayuran dan juga bahan makanan, gimana aku boleh pergi."
"Astaga dia meminta izin hanya untuk pergi ke swalayan! Aku pikir dia akan pergi kemana. Hmm ternyata dia emang wanita yang baik + Solehah." Batin Jeffry.
"Halo mas, gimana kamu izinin gak?" Tanya Vio di sebrang.
"Emmm iya, boleh mas izinin. Tapi kamu ke sana nya sama siapa? dan di antar siapa?"
"Aku pergi sendiri dan ada pak Asep yang mengantar aku, tapi dia hanya menungguku di lobby."
"Ohh begitu, yasudah. Mas tutup dulu ya, masih banyak pekerjaan yang harus mas selesaikan."
"Iya mas, kalau begitu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Tut, tut.
panggilan pun berakhir.
"Astaga, sejak kapan kalian di sini?"
"Sejak kau menerima telepon dari istri tercinta mu." Ledek Chandra.
"Berarti kalian denger pembicaraan gua dong."
"Ya seperti itulah." Ucap mereka serempak.
"Ck."
"Oh ya. Tadi gua denger si Vio mau minta izin, emang mau kemana dia pake izin segala!" Tanya Tio.
"Oh itu, tadi dia izin ke swalayan buat beli keperluan memasak." Jawab Jeffry dengan entengnya.
"What. Jadi dia minta izin buat ke swalayan doang!" Ujar Tio lagi.
"Ya seperti itulah."