
"Tunggu jangan pulang, menginap lah disini. Lagi pula sudah larut malam." Cegah nyonya Kayla.
"Yang dikatakan mommy mu benar nak, menginap lah disini." Ujar tuan Banyu.
"Tapi..." Jeffry pun melirik Vio, dan itu dapat dilihat boleh tuan Banyu dan juga nyonya Kayla.
"Jika istrimu tidak mengijinkan kamu untuk tidur di kamarnya, maka kamu boleh tidur di kamar sebelah Vio." Ucap tuan Banyu.
"Baik kalau begitu mommy akan suruh bi Siti untuk membersihkan kamar yang ada di samping." Ujar nyonya Kayla, seraya keluar dari kamar sang putri, di susul oleh tuan Banyu, yang juga keluar dari kamar sang anak.
Kini tinggallah Vio dan Jeffry yang berada di dalam kamar.
"Istirahat lah, aku akan keluar." Ucap Jeffry, ia pun membalikkan badannya dan keluar dari kamar istrinya itu.
Keesokan paginya, di mansion keluarga Abimanyu kini tengah menikmati sarapan pagi.
Keadaan Vio pun kini sudah membaik, namun tidak dengan hubungannya dengan sang suami masih ada rasa kecewa di dalam hatinya, entah sampai kapan rasa kecewa dan marah itu akan hilang.
"Mom, dad. Terima kasih atas tumpangan dan juga sarapan paginya, hari ini Jeffry akan kembali ke rumah, masih banyak pekerjaan yang harus Jeffry kerjakan." Ucap Jeffry, setelah selesai sarapan.
"Kanapa berterimakasih, toh kamu ini menantu di mansion ini, bukan orang lain, jadi tidak harus berterimakasih segala." Ujar nyonya Kayla.
"Yang dikatakan mommy mu benar Jef, tak perlu rasa sungkan." Tambah tuan Banyu.
"Baik, tapi sepertinya Jeffry harus pulang sekarang."
"Kenapa buru-buru, tetaplah disini." Ujar tuan Banyu.
"Tidak, terima kasih dad. Tapi Jeffry benar-benar banyak pekerjaan yang harus diselesaikan."
"Baiklah kalau kamu tetap ingin pulang ke rumahmu. Tapi ingat, Senin besok kamu harus ke perusahaan Daddy, Daddy ingin memberitahukan kamu kepada kolega-kolega bisnis Daddy."
"Tap..."
"Tidak ada tapi-tapi, kamu sudah berjanji akan menjalankan bisnis Daddy untuk sementara, sampai anak kamu lahir dan tumbuh dewasa." Ucap tuan Banyu, tanpa bantahan.
"Baik dad, kalau begitu Jeffry pamit dulu. Assalamu'alaikum." Ucapnya seraya mencium punggung tangan nyonya Kayla dan tuan Banyu.
Setelah peninggalan Jeffry, nuansa mansion kembali sepi, tidak seperti waktu semalam ramai.
Tuan Banyu pergi untuk bermain golf di taman belakang, sedangkan Vio kini berada di balkon yang berada di kamarnya.
Tok, tok, tok.
"Siapa?" Teriak Vio dari arah balkon.
"Sayang apa mommy boleh masuk?" Tanya nyonya Kayla, seraya membuka pintu kamar putrinya.
Mendengar suara mommy nya, Vio pun langsung masuk kedalam.
"Ada apa mom?" Tanya Vio pada mommy nya, setelah ia masuk ke dalam kamarnya.
"Mommy ingin bicara berdua denganmu, apa boleh?" Jawab nyonya Kayla sekaligus bertanya.
"Tentu saja mom."
Mereka pun duduk di sofa yang ada di kamar.
"Bagaimana keadaan mu?" Tanya nyonya Kayla, setelah mereka duduk di sofa.
"Aku baik mom." Jawab Vio.
"Kalau hatimu bagaimana?" Tanya nyonya Kayla lagi.
"Maksudnya?" Bukannya menjawab, Vio justru malah balik bertanya.
"Hatimu, apakah sudah mulai menerima keadaan ini, dan sudah memaafkan kesalahan kita semua kepada mu, karena sudah membohongi mu." Ujar nyonya Kayla.
"Soal itu, aku belum bisa menerima ini semua. Tapi untuk memaafkan, aku sudah memaafkan kalian semua." Ucapnya.
"Termasuk memaafkan suamimu?"