Violleta

Violleta
BAB 116



"Kalau begitu papah juga pamit, jaga kesehatan kamu, jangan pikirkan apapun." Ucap tuan Putra, seraya mengelus pucuk kepala Vio.


Disusul oleh Nares yang juga berpamitan. Setelah kedua orang tua, beserta adiknya Jeffry pulang, kini di dalam kamar Vio hanya tinggal, tuan Abimanyu, nyonya Kayla, dan Jeffry.


Dan tak lama datang pak Asep dengan menenteng sebuah kantong plastik yang berisi obat untuk Vio.


"Maaf tuan ini obat non Vio." Ucap pak Asep seraya memberikan kantong plastik yang berisi obat itu.


"Terima kasih pak, kamu boleh pergi." Ujar tuan Abimanyu, seraya mengambil kantong plastik itu.


"Sama-sama tuan, kalau begitu saya permisi." Pak Asep pun pergi dari kamar itu.


"Sayang sebaiknya kamu minum obat dulu, lalu habis itu tidur." Ucap nyonya Kayla, seraya menyerahkan obat dan juga vitamin, serta segelas air putih kepada Vio.


"Terima kasih mom." Ujar Vio, setelah meminum obat dan juga vitamin.


Lalu ia pun membaringkan tubuhnya di atas ranjang dibantu oleh Jeffry, sebenarnya ia bisa melakukan sendiri, namun apalah daya suaminya itu tidak membiarkannya.


Dan juga ia tak mungkin menolak, karena masih ada Daddy dan mommy nya di kamar.


Setelah membantu membaringkan Vio di atas ranjang, Jeffry pun menyelimuti nya dengan selimut sampai ke dada.


"Istirahat lah, aku akan pulang."


"Apa aku boleh menyentuh perutmu? Maksud ku aku ingin bicara dengan calon anak kita." Ucap Jeffry lagi.


"Terima kasih." Ujar Jeffry, ia pun langsung mengarahkan wajahnya ke arah Vio, dan tangannya yang mengelus lembut perut Vio.


"Assalamu'alaikum calon anak ayah. Baik-baik ya didalam, jangan buat bunda mu lelah dan sakit, jaga dia disaat ayah tidak ada di sisi kalian. Ayah pamit pulang dulu, kamu gak perlu khawatir ayah janji akan kesini lagi menengok kamu dan juga bunda kamu. Ayah pamit assalamu'alaikum." Ucap Jeffry dengan mata berkaca-kaca, karena ia merasa terharu akhirnya ia bisa berkomunikasi dengan calon anaknya itu. Dan tak lupa ia memberikan ciuman ke perut Vio, dan hal itu berhasil membuat Vio menegang lantaran yang dilakukan oleh Jeffry.


Sejujurnya ia pun merindukan sentuhan yang dilakukan oleh suaminya itu, apalagi saat dalam keadaan mengandung seperti ini, kadang ia ingin memeluk dan menghirup aroma tubuh Jeffry yang maskulin itu.


Namun apa daya, rasa kecewa dan marahnya masih besar dalam hatinya, sehingga ia memilih untuk tidak melakukan itu.


Dan juga, sebenarnya Vio tak masalah dan keberatan jika Jeffry ingin mengobrol dengan calon anaknya, ia pun berhak untuk melakukan itu, bagaimana pun Jeffry adalah ayah kandung dari anak yang dikandungnya.


Namun Jeffry tak melakukan itu, mungkin Jeffry berpikir jika ia melakukan itu maka akan membuat Vio semakin marah dengannya, lantaran sudah berani menyentuh perutnya, walaupun dengan alasan ingin berbicara dengan calon anak mereka.


Apa yang dilakukan Jeffry membuat nyonya Kayla dan tuan Banyu atau Abimanyu itu merasa iba, mereka tau betapa tersiksanya Jeffry tidak bisa leluasa menjaga anak dan istrinya.


Setelah berbicara dengan calon anaknya, Jeffry pun berpamitan kepada Vio dan juga mertuanya.


Namun nyonya Kayla dan tuan Banyu melarang Jeffry untuk pergi dari mansion.


"Terima kasih kamu sudah mengijinkan aku untuk bicara dengan calon anak kita, yasudah kalau begitu aku pamit pulang dulu." Ucapnya.


"Mom, dad. Aku pamit pulang dulu, mungkin nanti aku akan kemari lagi." Ucapnya lagi.