Violleta

Violleta
BAB 40



"Yasudah kalau begitu aku pamit dulu mas. Assalamu'alaikum." Ucap nya sambil mencium punggung tangan Jeffry.


"Wa'alaikum salam." Jawab Jeffry dan Nares, secara bersamaan.


Selepas peninggalan Vio, Nares pun mulai membuka suara.


Dia duduk tegak dan menghadap ke arah sang kakak dengan wajah seriusnya.


"Apa yang ingin kamu sampaikan!" Tanya Jeffry.


"Aku hanya ingin menyampaikan, kapan kau akan memberi tahu kepada Vio, bahwa kakak bukanlah orang yang kakak ipar cintai dan yang ingin dinikahi."


"Entahlah aku pun bingung kapan aku menceritakan semuanya kepada Vio, tapi sejujurnya aku tidak mau kalau Vio tahu, bahwasanya aku ini bukanlah kekasihnya." Ujar Jeffry dengan wajah sendunya.


"Bolehkah aku egois, jujur aku tidak ingin kehilangan sosok yang baik seperti Vio." Ujarnya lagi.


"Apa kau sudah mencintai kakak ipar ka?" Tanya Nares.


"Aku tidak tahu. Maybe yes, maybe no." Jawab nya dengan lesu.


"Kakak itu bagaimana sih! Seharusnya kakak itu harus punya pendirian, katakan jika kakak cinta sama dia, kakak harus jujur dan jelaskan semuanya. Dan kakak itu gak boleh egois, kakak ipar harus tau semuanya, memangnya kakak mau dalam rumah tangga kakak terdapat suatu kebohongan! Dan bagaimana jika kakak ipar tahu semuanya dari orang lain! Apa gak semakin kecewanya kakak ipar sama kakak?!"


"Kamu benar! Tapi aku benar-benar tidak sanggup untuk menceritakan semuanya, berikan kakak waktu untuk mengungkapkan yang sebenarnya..."


"Dan untuk pertanyaan, apakah kakak mencintai kakak ipar mu! Itu memang benar, kakak sudah mencintai." Ucap Jeffry.


"Sejak kapan! Kakak mencintainya?" Tanya Nares.


"Sejak kakak menyentuhnya." Jawab Jeffry dengan wajah menunduk.


"Apa!" Pekik Nares.


"Ck, ck, ck. Baru juga kita pakai bahasa aku, kamu. Tapi sekarang sudah kembali lagi kedalam mode Tom and Jerry." Kesal Nares.


"Ya habisnya lu yang mulai duluan."


"Ya, ya, ya. Gua yang selalu salah."


Ya, Jeffry dan Nares memang sering menggunakan bahasa aku, kamu, dan juga gua, lu.


Mereka sering menggunakan aku-kamu, ketika mereka sedang dalam mode serius, jika ketika mereka dalam keadaan mode Tom and Jerry, atau dalam keadaan bercanda baru lah mereka menggunakan gua-elu.


"Jika tidak ada lagi yang ingin lu bicarakan! Sebaiknya lu ke luar dari ruangan gua, gua mau melanjutkan pekerjaan."


"Iya, bawel bawel banget sih."


Jeffry pun hanya acuh, dan dia pun duduk kembali di kursi kebesarannya dan memulai pekerjaannya yang tadi sempat tertunda.


"Yasudah gua pamit dulu, tapi lu ingat kata-kata gua. Lebih baik lu kasih tau segera sama kakak ipar daripada nanti ada orang lain yang kasih tau."


"Hmmm." Jeffry pun hanya berdeham.


Sebelum Nares membuka pintu, Jeffry pun bertanya.


"Eh tapi tunggu, bagaimana bisa orang lain tau tentang rahasia ini! Sementara rahasia ini hanya keluarga kita, keluarga Vio, dan keluarga almarhum. Jadi gua rasa gak mungkin Vio tau dari orang lain, dan gua rasa pihak dari keluarga almarhum gak mungkin kasih tau yang sebenarnya sebelum gua yang kasih tau."


"Ka, lu lupa! Lu kan ngasih tau rahasia ini ke teman-teman tongkrongan lu."


"Iya gua tau, tapi gua jamin mereka gak bakal ember alias gak bakal kasih...