Violleta

Violleta
BAB 126



Setelah membaik dan tak lagi menangis, mereka pun memutuskan untuk pergi dari sana.


Lantaran Jeffry harus pergi ke perusahaan dan juga Vio harus beristirahat, karena setelah mengetahui yang sebenarnya akhir-akhir ini kondisi Vio menurun, lantaran banyak yang ia pikirkan.


Tak butuh waktu lama mobil yang dikendarai oleh Jeffry telah sampai di halaman rumah mereka.


Setelah mematikan mobilnya, Jeffry pun turun dan membuka pintu mobil untuk Vio, setelah itu Jeffry pun menuntun sang istri sampai di depan pintu.


Sebenarnya Vio merasa risih jika diperlukan seperti anak kecil, namun karena tak mau berdebat ia pun hanya bisa pasrah.


"Aku pergi bekerja, jika terjadi sesuatu hubungi aku ya!" Ucap Jeffry.


"Iya."


"Yasudah kalau begitu, istirahat lah, jangan terlalu banyak pikiran ingat kamu sedang mengandung."


"Iya." Ujar Vio masih dengan nada dingin, Jeffry pun hanya bisa menghela nafasnya, kemudian Jeffry pun sedikit menundukkan badannya agar setara dengan perut Vio.


"Hai sayang, ayah pergi berkerja dulu ya! Ingat jangan buat bunda kelelahan dan kecapean, baik-baik yah, dan juga jaga bunda selagi ayah tak berada di samping kalian." Ucapnya pada anak yang dikandung oleh Vio.


Setelah berbicara dengan calon anaknya dan juga memberikan kecupan di perut Vio, Jeffry pun kembali menegakan tubuhnya.


"Yasudah kalau begitu aku berangkat ya, assalamu'alaikum." Ucap Jeffry pada sang istri.


"Wa'alaikum salam." Jawab Vio, seraya mencium punggung tangan, sebagai rasa takzim.


Di dalam kamar, setelah makan siang dan juga meminum susu hamil. Kini Vio tengah merenung duduk di atas tempat tidur, seraya memikirkan apa yang terbaik untuk hidupnya dan juga keluarga.


Setelah merenung dan berpikir, akhirnya Vio memutuskan untuk memberikan Jeffry kesempatan. Toh dia juga tidak boleh egois, hanya mementingkan dirinya sendiri, ia sampai melupakan ada makhluk hidup yang kini sedang tumbuh di rahimnya, menginginkan keluarga yang bahagia setelah ia lahir.


Mungkin yang dilakukan Jeffry dulu memang salah, tapi apa salahnya jika dia diberikan kesempatan. Sebenarnya Vio sudah memikirkan hal ini sejak mommy dan juga ibu mertuanya memberikan nasihat pada dirinya.


Setelah mengambil keputusan untuk tetap menjalankan rumah tangga dengan Jeffry, Vio pun akhirnya tidur siang.


Malam hari pun tiba, kini Vio tengah berkutat di dapur, untuk memasak makan malam. Ya, setelah Vio menerima takdirnya, ia pun mulai melakukan kembali kewajibannya sebagai seorang istri.


Setelah menyusun makanan di atas meja, tak lama terdengar orang yang mengucapkan salam, siapa lagi kalau bukan suaminya itu, Jeffry.


"Assalamu'alaikum." Ucapnya dari arah ruang tengah.


"Wa'alaikum salam." Jawab Vio, setelah berada di ruang tengah, dan menyalim punggung tangan suaminya itu.


"Tumben kamu pulang jam delapan malam, biasanya kamu pulang jam lima sore." Ucap Vio, seraya membuka jas dan juga dasi yang dipakai oleh Jeffry. Dan hal itu membuat Jeffry terbengong, lantaran sudah lama Vio tak melakukan ini, dan terlebih lagi Vio menyambutnya dengan senyuman.


Apakah istrinya itu sudah tak lagi marah padanya? Dan juga istrinya itu takkan meminta untuk bercerai darinya? Entahlah, namun Jeffry berharap, istrinya itu sudah tak lagi marah padanya dan mulai menerima takdir yang ditakdirkan untuk dirinya.


"Itu karena tadi aku lembur, jadi oleh karena itu aku pulang agak malam."