
"Maksudmu! Siapa wanita sialan itu?" Tanya ibunya Dona.
"Tentu Vio siapa lagi."
"Maksudmu Tania Violleta, anak dari wanita miskin itu."
"Ya iya, siapa lagi. Kalau bukan anak dari tante Kayla sama om Banyu."
Ibunya Dona pun hanya menjawabnya dengan anggukan. Tapi tiba-tiba ia teringat dengan satu nama yang tadi anaknya katakan.
"Tunggu-tunggu, tadi kamu bilang siapa nama mantan kekasihmu?" Tanyanya.
"Jeffry! Memang nya kenapa?"
"Kenapa mommy merasa bahwa nama mantan kekasih mu sama dengan suaminya Vio yah."
"Ck, mom, mom. Mom itu bagaimana sih! Memang nya nama Jeffry hanya ada satu, ya jelas banyak nama yang sama." Sebal Dona.
"Iya juga ya, kenapa mommy gak kepikiran."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kediaman Vio dan Jeffry.
Setelah makan malam selesai, mereka pun pergi ke kamar. Di dalam kamar, Jeffry pun langsung merebahkan diri di kasur sambil memainkan handphone nya.
Sedangkan sang istri, Vio. Dia masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaian dengan piyama tidurnya dan juga membersihkan diri.
Tak butuh waktu lama, Vio pun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan piyama berbentuk jubah sebatas lutut dengan warna hitam, ditambah rambut digerai indah.
Hal itupun tak luput dari perhatian Jeffry yang diam-diam sedang menatapnya.
"Mas." Panggil Vio.
"Iya." Jawab Jeffry sambil meletakkan handphone miliknya ke atas meja yang berada di samping tempat tidur.
Vio pun berjalan ke arah Jeffry, sesampainya ia dihadapan Jeffry ia pun langsung duduk di atas pangkuan sang suami. Karena kebetulan posisi Jeffry kali ini sedang duduk berselonjoran sambil bersandar di atas kepala ranjang.
*Jeffry pun langsung menelan ludah nya dengan susah, sambil berucap dalam hati. "Astaga, Vio apa yang kamu lakukan! Kamu bisa membangunkan junior ku sayang."
"Tuh kan benar dia bangun." Ucap nya lagi dalam hati*.
"Emmm, sayang ada apa hm!" Tanya Jeffry dengan suara serak.
"Memangnya kenapa? Memangnya aku tidak boleh ya duduk di pangkuan suamiku sendiri." Ujar Vio sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Jeffry.
"Ya-ya boleh, tapi kamu gak biasanya kaya gini!"
"Entah aku juga tidak tau, hari ini aku hanya ingin bermesraan dengan suamiku yang tampan ini." Ucap Vio selara menyenderkan kepalanya di dada bidang sang suami.
"Yasudah kalau yang ini kamu mau." Jawab Jeffry sambil memeluk pinggang Vio dengan kedua tangannya.
"Tapi sayang kamu tau! Apa yang sudah kamu lakukan ini sudah membangunkan sesuatu yang ada pada suamimu ini." Bisik Jeffry di telinga Vio, masih dengan nada seraknya.
"Memang apa yang bangun." Tanya Vio dengan polosnya.
"Memangnya kamu tidak merasakannya dibawah!"
Deg!
Dan benar saja, Vio merasakan sesuatu yang keras di bawah sana. Dan hal itupun sudah berhasil membuat kedua pipinya merah merona akibat malu.
"Sayang kenapa kedua pipimu merah?" Goda Jeffry.
Bukannya menjawab Vio malah terus menyembunyikan wajahnya ke dada sang suami. Dan Jeffry pun hanya terkekeh melihat sang istri yang sedang menahan malu.
"Maaf." Cicit Vio masih menyembunyikan wajahnya.
"Maaf untuk apa?" Tanya Jeffry.
"Maaf karena sudah membangunkan milikmu." Ucap Vio dengan suara pelan namun masih bisa di dengar oleh Jeffry.
"Sudah-sudah tidak apa-apa, lebih baik sekarang kita tidur." Jawab Jeffry, Vio pun langsung menegakkan badannya.