Violleta

Violleta
BAB 131



Setelah memakai pakaiannya, kini Jeffry pun membantu memakaikan pakaian Vio.


Sebelum itu, ia pun mengambil baju Vio di lemari, tidak mungkin bukan ia membiarkan sang istri memakai dress piyamanya, apalagi piyama itu memperlihatkan kaki jenjang sang istri.


Tak banyak memilih, dan karena terburu-buru, Jeffry pun langsung menarik satu baju Vio di lemari, yakni baju daster modern lah yang ia tarik.


Setelah mengambilnya, buru-buru Jeffry memakaikannya ke Vio, dan setelah memakaikan baju kepada Vio, Jeffry pun langsung menggendong Vio ala bridal style, untuk di bawa ke rumah sakit.


"Sayang kamu gak pakaikan aku Daleman nya?" Tanya Vio, ditengah rasa sakitnya.


"Gak ada waktu sayang." Jawab Jeffry.


Ditengah menuruni tangga, Jeffry pun berteriak memanggil bi Ijah untuk membawakan keperluan si bayi nantinya.


"Bi, bi Ijah." Teriak Jeffry.


"Iya den." Ucap bi Ijah, terengah-engah karena ia berlari dari belakang rumah menuju sumber suara.


"Tolong nanti bawakan perlengkapan bayi saya ya bi, bibi nanti minta antar sama pak Asep saja, saya gk ada waktu." Ujarnya, seraya melangkah cepat menuju garasi mobil.


Setelah masuk kedalam mobil, Jeffry pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Sabar ya sayang, bentar lagi kita akan sampai." Ucap Jeffry masih tetap fokus mengemudi, namun satu tangannya mengusap perut Vio.


"Sakit mas." Rengek Vio, karena rasa sakitnya semakin terasa.


"Iya sabar." Ujarnya, masih mengelus perut Vio.


Ditengah perjalanan, tiba-tiba air ketuban Vio pecah, alhasil membuat Jeffry semakin panik.


"Sayang itu air apa? Kamu pipis kah?" Tanyanya melihat ke arah Vio, tempat yang Vio duduki basah karena air ketuban.


"Apa?!" Mendengar perkataan Vio, membuat Jeffry semakin gusar, ia pun menambahkan kecepatan mobilnya.


Hanya butuh waktu sedikit, karena kondisi jalanan pun lenggang tak banyak kendaraan, dikarenakan hari sudah menunjukkan pukul dua belas malam.


Mobil yang dikendarai oleh Jeffry pun sampai di rumah sakit, setelah mematikan mobilnya, Jeffry pun langsung keluar dan menuju ke arah Vio.


Setelah itu ia membuka pintu mobil Vio dan membuka seat belt, lalu mengendong vio ala bridal style.


Bahkan ia tak perduli mobilnya parkir sembarangan, yang ia pikirkan saat ini hanyalah kondisi sang istri dan juga calon anaknya.


"Dokter, suster, tolong istri saya mau melahirkan." Teriak Jeffry di dalam rumah sakit.


Mendengar teriakkan dari Jeffry, membuat suster, perawat dan juga dokter menghampiri nya.


Dengan dua orang perawat yang mendorong hospital bad untuk Vio, setelah itu Vio pun langsung dibaringkan di hospital bad oleh Jeffry.


Dan perawat tadi pun langsung mendorongnya, diikuti oleh suster dan juga dokter, serta Jeffry.


"Maaf pak, sebaiknya anda tunggu diluar dulu." Pinta salah satu suster.


"Tapi saya ingin mendampingi istri saya yang melahirkan sus." Ujar Jeffry.


"Iya saya tau, tapi untuk sekarang ini sebaiknya anda tunggu dulu di luar. Nanti setelah pembukaan nya sudah cukup, baru anda bisa masuk kedalam untuk mendampingi istri anda." Ucap suster.


"Baiklah." Jeffry pun mengalah, ia pun duduk di kursi besi yang ada di luar ruangan tempat Vio bersalin.


Tak lama terdengar suara langkah kaki yang mendekat, yang ternyata adalah bi Ijah yang tengah membawa tas bayi, yang berisi perlengkapan bayi, dan juga pak Asep.