Violleta

Violleta
BAB 70



Ia pun berjalan gontai menuju ranjangnya.


Setelah sampai di ranjangnya, ia pun langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.


"Tuan apa sebaiknya saya panggilkan dokter saja, wajah tuan terlihat pucat."


"Seterah."


"Baik kalau begitu, saya permisi untuk menelepon dokter terlebih dahulu." Baru juga sang asisten ingin keluar dari ruangan tersebut, tiba-tiba Jeffry memanggilnya.


"Oh ya Roy, tolong belikan saya rujak."


"A-apa tuan rujak!"


"Iya, apa kamu tuli ha." Bentak Jeffry.


"Maafkan saya tuan, saya hanya merasa heran sama tuan, tidak biasanya tuan ingin memakan rujak."


"Saya juga tidak tau, sudah sana cepat belikan."


"Baik tuan, saya akan meminta Siska untuk membelikannya."


"Kenpa harus Siska? Kenapa bukan kamu?"


"Karena saya harus menunggu dokter tuan."


"Yasudah kalau begitu cepat." Setelah mengucapkan hal itu, Jeffry pun kembali merebahkan tubuhnya dan menutup matanya menggunakan sebelah tangannya.


Sementara Roy keluar dari ruangan sang bos, dan menuju ke meja seketaris untuk meminta membelikan rujak pesanan sang bos, setelah meminta tolong pada sang sekretaris, ia pun langsung menelpon dokter pribadi keluarga Syahputra.


Tak butuh waktu lama, dokter pun sampai dan langsung memeriksa keadaan Jeffry.


"Bagaimana dok, keadaan saya." Tanya Jeffry, setelah selesai diperiksa.


"Keadaan anda baik-baik saja, tensi darah anda juga normal, dan badan anda juga tidak menunjukkan gejala demam." Jawab dokter.


"Mm begitu. Dari penjelasan anda, saya sarankan untuk membawa istri anda ke dokter spesialis kandungan, dan menurut diagnosa saya anda ini mengalami kehamilan simpatik, yang dimana istri anda sedang mengandung tapi justru anda yang akan merasakan gejala kehamilan itu."


"Benarkah? Istri saya sedang hamil? Tapi kenapa dia tidak menunjukkan gejala seperti orang yang sedang hamil, misal mual atau menginginkan sesuatu atau bisa disebut ngidam?"


"Tadi saya sudah mengatakan, bahwa andalah yang menggantikan istri anda untuk merasakan gejala ibu hamil seperti, mual dan lain-lain."


"Baiklah jika tidak ada hal lainnya, saya permisi." Dokter itupun berpamitan.


Di ruangan itu tinggallah Jeffry dan sang asisten, Roy.


"Roy benarkah istri saya sedang hamil?"


"Mungkin saja tuan, dari saya dengar penjelasan dokter, saya rasa memang istri anda sedang hamil dan anda yang menggantikan istri anda untuk merasakan gejala ibu hamil."


"Benarkah, apa buktinya."


"Benar. Bukankah tadi dokter sudah menjelaskan gejala-gejala ibu hamil pada umumnya! Bukankah anda sudah merasakannya?! Seperti mual, dan bahkan anda tadi meminta saya untuk membelikan rujak, padahal sebelumnya anda tidak suka makan rujak."


"Kau benar juga Roy, aku harus memeriksa istri ku ke dokter kandungan, agar dugaan dokter itu benar bahwa istriku hamil anakku." Ucapnya dengan wajah senang.


"Semoga saja dugaan dokter tadi benar, bahwa istri anda sedang hamil tuan."


"Oh ya. Ngomong-ngomong, Siska sudah datang belum, kenapa lama sekali membeli rujaknya, memangnya dia beli dimana."


"Entah, kalau begitu saya permisi keluar dulu, nanti setelah Siska datang saya akan menyuruhnya untuk mengantarkan pesanan anda tuan."


"Ya baiklah sana, saya mau istirahat sebentar."


"Baik, permisi tuan."


"Emm."


Roy pun keluar dari ruangan Jeffry dan...