
"Tumben anak itu nyuruh kamu datang kemari, biasanya dia paling tidak mau nemuin kamu kalau kamu kesini, mau apa dia?" Tanya tuan Banyu.
"Jeffry juga tidak tau dad, yang jelas Vio nyuruh Jeffry datang kemari."
Tuan Banyu pun hanya mengangguk.
"Yasudah kalau begitu temui dia saja langsung, tadi sih ada dikamar nya."
"Memangnya boleh dad?" Tanya Jeffry.
"Memangnya kenapa tidak boleh? Kamu ini suaminya, ya jelas boleh masuk ke kamar Vio, bahkan mandi berdua juga boleh, toh kalian sepasang suami istri."
Yang diucapkan oleh tuan Banyu berhasil membuat Jeffry tersipu malu.
"Tapi, bagaimana Vio tidak ingin aku ke kamarnya."
"Kau ini belum juga mencoba sudah pasrah saja, coba saja dulu siapa tau dia memperbolehkan kamu untuk masuk ke kamarnya, jangan dulu menyerah selagi belum mencoba, bagaimana kamu ingin memenangkan hati Vio, gini aja kamu sudah menyerah dan pasrah terlebih dahulu."
"Bukan begitu maksudku, Jeffry hanya tidak ingin membuat Vio semakin marah sama Jeffry, itu saja."
"Huh, tapi Daddy yakin dia tidak akan marah padamu, buktinya menghubungi mu untuk datang kemari kan?" Tanyanya, dan dijawab oleh Jeffry dengan anggukan kepala.
"Nah jadi coba saja dulu."
"Baik dad, kalau gitu Jeffry permisi dulu." Ucap Jeffry, belum sempat ia berdiri dari duduknya, tiba-tiba Vio datang dari arah tangga.
"Kau sudah datang?" Tanya Vio, seraya menuruni tangga.
"Ya, baru saja aku ingin menemui mu di kamar." Jawab Jeffry, setelah Vio bergabung dengannya dan juga tuan Banyu.
Vio pun tak menjawab atau menanggapi ucapan yang dilontarkan oleh suaminya itu, ia malah duduk di samping Jeffry dengan jarak begitu dekat, sehingga membuat Jeffry merasakan jantungnya yang berdebar dan gugup. Seakan-akan ia seperti anak remaja yang baru menjalin hubungan dengan seorang wanita.
Terjadi keheningan sejenak, tak lama seorang pelayan datang sambil membawa koper berukuran sedang milik Vio.
"Permisi." Ucap pelayan itu, dan berhasil membuat Jeffry, tuan Banyu, dan Vio menoleh.
"Maaf mengganggu, non Vio ini kopernya." Ucapnya lagi, seraya menaruh koper yang ia bawa di dekat Vio.
"Terima kasih ya, Fatimah." Ujar Vio.
"Sama-sama non, kalau begitu saya pamit kebelakang dulu. Mari non dan tuan." Pamitnya, pelayan yang bernama Fatimah pun pamit undur diri.
Setelah peninggalan Fatimah, tak lama nyonya Kayla datang dari arah depan, karena ia baru saja menyirami tanaman bunga miliknya.
"Loh Jeffry kamu ada disini?" Tanya nyonya Kayla setelah bergabung dengan mereka.
"Iya mom." Jawab Jeffry seraya menyalami ibu mertuanya itu.
"Ada keperluan apa?" Tanyanya lagi, sambil duduk di samping sang suami.
"Kurang tau Vio mom, Jeffry cuman disuruh kemari oleh Vio."
Nyonya Kayla pun hanya beroh ria, sambil manggut-manggut.
"Lalu kenapa koper milikmu ada disini nak?" Tanyanya pada sang putri.
"Vio memutuskan untuk kembali ke rumah yang Vio dan mas Jeffry tempati mom." Jawab Vio, dan hal itu berhasil membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut, namun juga merasa bahagia, lantaran Vio mau kembali ke ruang yang ia tempati bersama sang suami.
Jeffry pun tak berhenti tersenyum, ia merasa bahagia lantaran istrinya itu mau tinggal lagi bersamanya.
Namun sayang kebahagiaan yang Jeffry rasakan tak sepenuhnya ada, setelah tadi berpamitan dengan kedua orang tua Vio.