Violleta

Violleta
BAB 97



Pada saat mereka sedang menunggu, tiba-tiba pintu ruangan di buka.


Dokter pun keluar dari ruangan ICU.


"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya nyonya Kayla.


"Alhamdulillah keadaan pasien baik, dan pasien pun sudah siuman dari komanya. Dan sekarang, pasien boleh di pindahkan ke ruang rawat inap."


"Baik, bawa anak saya ke ruangan VVIP." Pinta tuan Abimanyu.


"Baik tuan."


"Lalu bagaimana dengan kondisi kehamilan istri saya dok? Apakah kandungannya baik-baik saja?" Kali ini Jeffry yang bertanya.


"Untuk itu anda bisa tanyakan ke dokter spesialis kandungan, kalau begitu saya permisi dulu."


"Baik, terima kasih." Ujar Jeffry dan kedua mertuanya.


Setelah dokter itu pergi, kini giliran hospital bad yang digunakan oleh Vio keluar dari ruang ICU, dan di dorong menuju ruang rawat inap VVIP, sesuai yang di perintahkan oleh tuan Abimanyu.


Kini mereka semua berada di ruang VVIP tempat Vio dirawat.


Sejam yang lalu, Vio sudah siuman dari komanya. Dan sekarang kini ia tengah di suapi oleh sang mommy.


Dan untuk tuan Abimanyu, kini ia tengah mengangkat telepon dari sang asisten pribadinya. Sementara Jeffry, ia hanya bisa melihat Vio dari sofa yang ada di ruangan tersebut, lantaran sang istri tidak mau disuapi olehnya, jangankan di suapi, di ajak bicara saja Vio hanya di balas diam oleh Vio.


Jeffry pun memaklumi, mungkin kini Vio masih marah padanya, jadi oleh sebab itu ia didiamkan oleh sang istri.


Huffstt. Jeffry pun membuang nafas dengan kasar.


Cklek.


Pintu ruangan pun dibuka, menampilkan seseorang yang tak lain ialah, mamah, papah Jeffry, beserta sang adik yaitu Nares.


"Wa'alaikum salam." Jawab, nyonya Kayla, Jeffry dan Vio.


"Mamah, papah." Jeffry pun beranjak dari duduknya dan menghampiri kedua orangtuanya, untuk menyalami keduanya.


Begitupun dengan nyonya Kayla, yang beranjak dari duduknya, setelah menyuapi sang anak.


Dan menghampiri besannya itu.


Setelah bersalaman bersama termasuk tuan Abimanyu yang ternyata sudah berada di ruangan Vio.


Mamah Anggun pun menghampiri sang menantu dan duduk di kursi yang tadi sempat di duduki oleh nyonya Kayla.


"Bagaimana keadaan mu nak?" Tanya mamah Anggun kepada Vio seraya memegang tangan Vio yang tidak dihinfus.


"Alhamdulillah baik mah." Jawab Vio dengan tersenyum, walaupun ia sempat kecewa dan marah, namun ia tak mungkin menghilangkan rasa sopan santunnya terhadap orang yang lebih tua, apalagi terhadap kedua orang tuanya beserta kedua mertuanya.


"Syukurlah, lalu bagaimana keadaan cucu mamah, apakah dia juga baik?"


"Kata dokter barusan kandungan Vio Alhamdulillah baik, nanti kalau misal keadaan Vio sudah baik dan diperbolehkan untuk pulang ke rumah, dokter menyuruh Vio untuk memeriksa kandungan dengan cara USG." Ujar Vio, dengan nada masih lemas.


"Baiklah kalau begitu, sebaiknya kamu istirahat saja. Dan ya, maafkan mamah dan juga keluarga mamah, bukan bermaksud kami membohongi mu." Ucapnya.


"Sudahlah mah, Vio masih gak mau membahas masalah itu."


"Baiklah kalau begitu istirahat lah." Setelah mengucapkan hal itu, mamah Anggun pun beranjak dari duduknya, dan ikut bergabung bersama yang lainnya setelah mencium kening sang menantu.


Melihat sang mamah yang beranjak dari duduknya, Jeffry pun melangkahkan kakinya ke arah kursi yang tadi sempat diduduki sang mamah.


Ia pun duduk di kursi...