Violleta

Violleta
BAB 88



"Maaf." Hanya itu yang bisa Jeffry katakan.


"Jadi benar, kamu bukan Jeffry yang aku kenal. Jadi kamu orang lain! Heh, bodoh aku memang bodoh. Pantas saja, di awal pernikahan kita, sikap kamu aneh, aku seperti orang asing bagimu, ternyata memang kamu orang asing. Dan pantas aja kamu ingin tau kenapa aku bisa kecelakaan dan mengalami buta, padahal aku sudah menceritakan semuanya pada Jeffry ku, tapi ternyata aku menikah dengan orang yang tidak pernah sama sekali aku cintai, dan aku telah dibohongi."


"Sayang aku bisa jelaskan semuanya." Jeffry pun ingin memegang tangan Vio, namun lagi-lagi dilarangnya.


"Diam, dan stop. Aku tidak sudi di sentuh oleh pembohong seperti kamu." Teriak Vio.


"Aku terpaksa..." Belum sempat Jeffry melanjutkan perkataannya, Vio langsung menyela.


"Jika kamu memang terpaksa menikah denganku, kenapa kamu mau? Apa karena kamu tidak ingin di hukum di penjara? Jika memang itu alasannya, kenapa kamu tidak mencerminkan aku di awal pernikahan, kenapa kamu malah bertahan? Dan kenapa tidak bilang dari awal?!" Teriak Vio, dengan air mata yang terus mengalir di pipi mulusnya.


Sementara orang lain, hanya bisa menonton tanpa ikut campur.


"Bukan begitu..."


"Terus bagaimana!"


"Dengarkan aku dulu, oke. Aku akan jelaskan semuanya."


"Tidak perlu, semuanya sudah jelas. Yang jelas, aku kecewa sama kamu mas." Tekan Vio.


Ia pun pergi meninggalkan Jeffry, dengan air mata yang terus mengalir.


"Sayang kamu mau kemana?" Teriak Jeffry, yang melihat sang istri yang berlari ke luar rumah.


"Sudah lah Jef, biarkan dia sendiri." Ucap Dona, dengan menahan Jeffry agar tidak mengejar Vio.


"Lepas." Jeffry pun melepaskan tangan Dona dari tangannya.


"Ini semua gara-gara lu, jika terjadi sesuatu sama Vio, gua gak akan segan-segan buat perhitungan ke lu, ngerti." Bentak Jeffry.


Tak banyak waktu, Jeffry pun langsung menyusul Vio, sebelum sang istrinya itu pergi jauh.


Namun disaat ingin mengejar Vio, dia justru berpas-pasan dengan sang adik Nares.


"Gua denger dari orang suruhan gua, katanya wanita rubah itu bikin ulah, jadi makanya gua datang kesini."


"Jadi lu masih ngawasin gua hah!" Geram Jeffry, bagaimana tidak geram, sang adik justru masih menyuruh orang untuk menjaganya, padahal jelas-jelas ia sudah dewasa, apalagi sudah menikah.


"Hehehe sorry bang, habisnya lu itu selalu ceroboh. Gua takutnya lu itu bisa terjebak kaya dulu lagi."


"Gua itu udah besar, dan gua jamin gak bakal ceroboh lagi, jadi mendingan lu suruh orang suruhan lu itu, untuk tidak memantau gua lagi."


"Masa, terus ini kenapa? Kenapa kakak ipar bisa tau dari orang lain?"


"Ya... Sudahlah, awas gua mau ngejar Vio. Kayanya dia udah naik taksi."


"Yasudah kalau gitu gua juga ikut."


"Ya udah ayok."


Mereka pun masuk kedalam mobilnya masing-masing. Namun, belum sempat Jeffry masuk kedalam mobilnya.


Tiba-tiba rose memanggilnya.


"Jef tunggu."


"Ada apa? Gua gak ada waktu."


"Ya gua tau. Nih, gua cuman mau kasih ini. Tas istri lu ketinggalan."


"Oh oke thanks."


"Jef gua boleh ikut sama lu? Gua takutnya lu gak konsen mengemudi." Ujar Tio.


"Yang di bilang bang Tio, benar ka. Sebaiknya, biarkan bang Tio yang...