
Sambil melihat ke arah Vio.
"Itu mah maunya kamu mas." Ujar Vio dengan mengerucutkan bibirnya.
Cup.
Satu kecupan berhasil di layangkan oleh Jeffry pada sang istri.
"Mas." Rengek Vio.
"Hehehe, mangkannya jangan digituin, aku kan jadi gemes jadinya."
Vio pun tidak menghiraukan ucapan sang suami, ia masih dengan wajah cemberutnya.
"Sayang udah jangan cemberut dong, nanti aku cium lagi nih! Mau?!"
"Ih mas, udah deh jangan bercandain aku Mulu, katanya mau istirahat!"
"Iya, iya, maaf. Tapi ini kan lagi istirahat, sekaligus manja sama kamu." Ucap Jeffry, kembali memeluk Vio.
Vio pun hanya mengelus rambut sang suami, yang kini sedang berada di dadanya.
"Mas." Ucap Vio, tak ada jawaban dari sang empu, Vio pun melihat ke arah wajah Jeffry, yang ternyata sedang tidur.
"Hm, ternyata kamu sudah tidur, pantas aku panggil-panggil gak nyaut." ujarnya lagi, dan ia pun ikut tidur, dan entah kenapa akhir-akhir ini ia suka sekali mengantuk.
Dan akhirnya mereka pun tidur bersama, dalam keadaan saling berpelukan.
Malam hari pun tiba, tepat pada saat Vio dan Jeffry ingin ke ruang makan, namun harus di hentikan lantaran bel rumah berbunyi, pertanda ada seseorang yang bertamu.
Ting tong, ting tong.
"Mas aku buka pintu dulu ya, sepertinya ada yang bertamu."
"Iya, aku tunggu di meja makan ya."
"Iya mas."
Setelah mengucapkan itu, Vio pun langsung ke arah pintu, sementara Jeffry pergi ke ruang makan.
"Siapa?" Ucap Vio, sambil membuka pintu.
"Assalamu'alaikum." Jawab orang yang bertamu.
"Wa'alaikum salam, mamah, papah, Nares." Jawab Vio, setelah membuka pintu.
"Apa kabar nak." Ucap mamah Anggun.
"Kabar kami pun baik."
"Ck, kakak ipar lupa sama diriku? Sungguh teganya dirimu ka." Ujar Nares, dengan wajah yang dibuat sedih.
"Oh astaga, maafkan aku adik ipar, bagaimana kabar mu."
"Alhamdulillah baik."
"Ya sudah, mah pah, adik ipar, silahkan masuk."
Mereka pun masuk ke dalam.
"Oh ya, dimana suami mu?" Tanya papah Putra.
"Mas Jeffry, sudah ada di ruang makan pah, mari kita ke ruang makan, mamah sama papah dan juga Nares, sudah makan apa belum?" Tanya Vio, kepada mertua dan adik iparnya itu.
"Kebetulan sekali ka, kita belum makan." Jawab Nares.
"Kamu ini." Ucap mamah Anggun kepada putra bungsunya, sambil memukul tangan putranya dengan pelan.
"Apa sih mah! Ko aku di pukul?! Emang bener kan?"
"Sudah-sudah, kenapa malah bertengkar! Malu tuh diliatin sama menantu kita mah."
"Maafkan kita nak." Ucap mamah Anggun.
"Tidak masalah mah. Oh ya, mari silahkan."
"Iya." Jawab mereka serempak.
Mereka pun berjalan menuju ruang makan.
"Sayang kenapa lama? Memangnya siapa yang bertamu?" Tanya Jeffry, setelah melihat sang istri sudah di hadapannya.
Belum sempat Vio menjawab, suara bas sudah menyela terlebih dahulu.
"Cih, gak ada sopan nya lu sama keluarga, bukannya nyambut kedatangan keluarganya, ini mah malah nunggu di meja makan." Sengit Nares, setelah sampai diruang makan.
"Ck, mana gua tau, kalau lu, mamah dan papah yang bertamu."
"Sudah-sudah jangan pada berantem, mah pah, silahkan duduk." Ucap Vio.
"Iya nak." Jawab mamah papah.