
Ternyata ada di sana bahkan sudah berada di dalam ruangan tersebut.
Sejak kapan dia berada di sini? Dan sejak kapan dia berada di dalam ruangan ini? Entahlah semuanya tidak ada yang tau dan hanya dia dan tuhan yang tau๐
"Nares, sejak kapan kamu ada di sini? Dan sedang apa kamu di sini!" Tanya Putra kepada anak keduanya.
"Papah, nanti akan ku jelaskan. Ceritanya panjang, sekarang ada yang ingin tuan Jefri katakan kepada kalian semua. Terkhusus nya kau kak." Jawab Nares dengan melihat ke arah kakaknya.
"Baiklah." Ucap pak Putra.
Sementara itu ibu langsung menghampiri anaknya, Jefri.
"Nak, bagaimana keadaanmu? Dan kenapa kamu menolak untuk melakukan operasi?" Tanya ibu.
"Aku baik Bu, dan ibu tidak perlu khawatir."
"Apa kamu bilang! Kamu menyuruh ibu untuk tidak khawatir, melihat keadaan kamu begini. Ibu mana yang tidak khawatir dan sedih melihat anaknya berada dalam kondisi begini?! Dan pokonya ibu tidak mau tau, kamu harus melakukan operasi." Tegas ibu.
"Bu sudahlah, jangan menyuruh ku untuk melakukan operasi. Aku sudah pasrah Bu. Dan aku rasa hari ini memang harus kembali kepada yang di atas, jadi..." Belum sempat Jefri melanjutkan perkataannya, sang ibu sudah lebih dulu memotong nya.
"Apa yang kamu katakan barusan Jef! Tidak kamu tidak boleh meninggalkan ibu. Jika kamu meninggalkan ibu, ibu dan ayahmu sama siapa nak! Cuman kamu yang kami punya."
"Apa ibu lupa! Bukannya masih ada mbak Sinta?!"
"Cih, Mbak mu kan ikut tinggal bersama suaminya di luar kota."
"T-tapi kan, masih bisa menemui kalian."
"Tapi kan..." Belum sempat sang ibu melanjutkan bicaranya, Jefri menyelanya terlebih dulu.
"Sudahlah Bu, aku sudah tidak banyak waktu." Lirih Jefri dengan napas tersengal-sengal.
"Permintaan apa yang kamu minta, nak!" Ucap tuan Banyu.
"Paman apa bisa aku meminta tolong, kepada paman? Bisakah paman membiarkan Vio untuk datang kemari! Karena sebelum aku pergi, aku ingin melihatnya untuk terakhir kalinya. Sebelum aku benar-benar pergi dari dunia ini untuk selamanya." Lirih Jafri.
"Tidak paman. Aku tidak bisa menjaganya lagi, maafkan aku paman. Aku rasa waktu ku tidak lama lagi, jadi aku mohon tolong hubungi Vio untuk datang kemari." Mohon Jefri pada tuan Banyu.
"Jangan bicara seperti itu. Heh, baiklah paman akan menghubungi pak Asep untuk menemani Vio datang kemari." Jawab tuan Banyu.
"Terima kasih, paman."
Tuan Banyu pun keluar dari ruangan tersebut, untuk menelepon sang supir pribadi putrinya. Untuk segera membawa Vio ke rumah sakit.
Sementara tuan Banyu menghubungi sang supir pribadi putrinya. Di dalam ruangan i
ICU, hening tidak ada yang bersuara kecuali tangis dari ibu Jefri. Yang sedang di tenangkan oleh suaminya berserta nyonya Kayla.
Tidak butuh lama tuan Banyu kembali masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Bagaimana paman." Tanya Jefri.
"Kamu tidak perlu khawatir, saya sudah menghubungi pak Asep dan mungkin sebentar lagi mereka akan sampai."
"Terima kasih, paman."
"Sama-sama, seharusnya kamu tidak perlu berterimakasih." Jawab tuan Banyu.
"Oh ya, ada satu hal lagi. Yang ingin aku sampaikan kepada kalian, terkhusus nya kepada anda tuan Jeffry." Ucap Jefri, sambil matanya melirik ke arah Jeffry.