
Sementara wanita paruh baya itu hanya mendengus kesal dan membuang muka ke arah lain.
"Loh nyonya Anggun, anda sedang apa di sini. Apakah ada yang sedang sakit?" Tanya Kayla ibu dari Vio.
Ya, orang tua Vio baru saja mendapatkan kabar dari calon besannya. Bahwasanya calon menantu mereka mengalami kecelakaan dan di rawat di rumah sakit.
"Ohh, nyonya Kayla! Tidaka ada yang sakit nyonya. Nyonya dan tuan sendiri sedang apa di sini?" Jawab Anggun.
"Tentu saja, karena kami ingin mengetahui kondisi calon menantu kami."
"Jadi, korban yang mengalami kecelakaan ini adalah calon menantu anda tuan!" Kali ini pak Putra yang bertanya.
"Benar sekali, tuan Putra." Jawab tuan Banyu
"Ohh astaga. Kami benar-benar minta maaf karena ulah putra kami, calon menantu anda mengalami kecelakaan."
"Maksudnya!" Tanya nyonya Kayla.
"Putra mereka yang sudah menabrak anak ku." Bukan pak Putra yang menjawab, melainkan ibu Jefri yang menjawabnya.
"Astaga." Pekik nyonya Kayla.
"Kami benar-benar, minta maaf atas ulah anak kami." Ucap pak Putra, dengan wajah penuh penyesalan.
"Sudahlah tuan, sudah saya katakan ini semua musibah." Jawab ayah Angga.
"Benar apa yang di ucapkan tuan Angga barusan, bahwasanya ini adalah musibah." Kali ini tuan Banyu ikut menimpal.
Setelah cukup waktu lama, akhirnya dokter pun ke luar dari ruangan.
"Dok, bagaimana kondisi anak saya?" Tanya ibu Jefri pada sang dokter.
"Mohon tenang Bu, mari ikut saya ke ruangan ada yang ingin saya sampaikan."
Dokter dan kedua orang tua Jefri pun pergi ke ruangan pribadi dokter, yang tidak jauh dari ruangan ICU tempat Jefri di rawat.
Sesampainya mereka di ruangan pribadi dokter.
"Jadi begini, kondisi putra kalian dalam keadaan kritis. Dan mengalami pendarahan cukup hebat, dan untungnya kami berhasil menghentikan pendarahan tersebut walaupun hanya sementara." Jawab dokter.
"Maksudnya dok!"
"Maksudnya, kami memerlukan transfusi darah. Hanya saja di rumah sakit ini hanya ada dua kantong darah, dan itu pun sudah kami gunakan di awal untuk menghentikan sementara pendarahan."
"Kalau begitu, ambil darah saya saja dok! Kebetulan darah kami sama."
"Bisa saja, tapi kami memerlukan 5 kantong darah lagi untuk benar-benar menghentikan darah yang keluar. Dan ibu hanya mampu memberikan dua kantong saja."
"Apakah tidak bisa meminta tolong kepada pihak rumah sakit lain, untuk memberikan tiga kantong darah lagi." ucap pak Putra
"Sebenarnya kami sudah menghubungi pihak rumah sakit lain, dan Meraka mempunyai golongan darah putra kalian. Hanya saja..."
"Hanya saja apa dok?!" Tanya ibu Jefri.
Dokter itupun hanya bisa menghela napasnya.
"Hanya saja putra anda menolak untuk di operasi."
"Apa." Ucap kedua pasangan suami istri itu secara bersamaan.
"Tapi kenapa?"
"Hah. Saya pun tidak tau, sebaiknya kalian langsung menemuinya dan bertanya padanya."
"Baiklah, kami permisi dok."
"Silahkan."
Mereka pun masuk kedalam ruangan ICU. Dan bukan hanya kedua orang tua Jefri saja yang masuk, tapi juga tuan Banyu dan nyonya Kayla. Serta Jeffry berserta kedua orangtuanya. Di karenakan mereka semua di pinta untuk masuk kedalam oleh Jefri melalui sang perawat.
Setelah mereka semua masuk ke dalam ruangan, Jeffry dan kedua orangtuanya di kejutkan oleh keberadaan adik kandung Jeffry.