
Setelah itu, ia pun mulai merangkak ke atas ranjang dan mulai mendekat ke arah sang istri.
Setelah berada di depan Vio, Jeffry pun menarik tengkuk leher Vio dengan lengannya, dengan perlahan.
Perlahan Jeffry mendekatkan wajahnya ke wajah Vio, hingga deru napas bisa keduanya rasakan.
Jeffry pun memiringkan sedikit wajahnya, agar bisa mencium bibir ranum Vio. Perlahan namun pasti, sehingga kedua bibir mereka menempel, dan hal itu pun membuat Vio memejamkan matanya.
Setelah kedua bibir mereka menyatu, perlahan Jeffry mendorong tubuh Vio agar bisa berbaring di atas ranjang, tanpa harus melepaskan ciuman keduanya.
Setelah Vio berbaring di atas kasur, Jeffry pun menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya.
Entah sejak kapan tubuh mereka sudah polos tanpa sehelai benang pun.
Setelah itu, terjadilah yang seharusnya terjadi yang dilakukan oleh pasangan suami istri.
Setelah selesai melakukan aktivitas suami istri, Jeffry dan Vio belum beranjak dari ranjangnya.
Kali ini mereka sedang duduk bersandar di kasur, Jeffry yang sedang duduk sambil bersandar di atas kepala kasur dan Vio bersandar di dada bidang suaminya.
"Mas." Tanya Vio sambil memainkan jari telunjuk nya di dada sang suami.
"Hmm." Jawab Jeffry seraya membelai rambut Vio.
"Aku boleh tanya sesuatu sama kamu?" Tanyanya.
"Memang nya kamu nanya apa hm!"
"Aku ... Aku ingin menanyakan, apa hubungan kamu sama Dona." Cicit Vio, dengan kepala menunduk.
Jeffry pun merubah posisi nya yang tadinya bersandar kini duduk tegak, begitupun dengan Vio duduk tegak dan berhadapan dengan sang suami, dengan masih memakai selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu!"
"Kenapa kamu marah! Maaf kalau begitu." Jawabnya sambil menundukkan kepalanya.
Jeffry pun hanya menghela nafasnya.
"Aku tidak marah, kamu berhak tau tentang masa lalu ku, begitu juga tentang percintaan ku." Ucapnya lagi, setelah melihat wajah Vio.
"Baiklah, aku akan ceritakan bagaimana aku bisa kenal dengan Dona."
Jeffry pun mulai menceritakan masa lalu nya bersama Dona.
Flashback on.
Satu tahun yang lalu, tepatnya di sebuah jalanan yang sepi, terdapat seorang wanita yang sedang diganggu oleh sekelompok preman.
Namun ketika salah satu preman itu berusaha ingin menarik pakaian yang di gunakan wanita tersebut, ada sebuah pukulan yang berhasil mendarat di wajahnya.
"Kurang ajar siapa lu! Berani-beraninya mengganggu kesenangan kita saja." Ucap salah satu preman yang tadi kena pukulan di wajahnya.
"Kenapa? Tidak terima! Gua gak akan biarkan kalian semua melecehkan wanita." Teriak pria yang menolong wanita tadi.
Setelah mengucapkan kata itu, dan tak butuh waktu lama, mereka pun saling berkelahi antara tiga lawan satu.
Setelah perkelahian itu, akhirnya dimenangkan oleh pria yang menyelamatkan wanita tadi, alhasil ketiga preman itu pun pergi dengan luka yang di dapat memenuhi wajah mereka.
"Terima kasih tuan, atas bantuannya." Ucap wanita itu.
Pria itu pun hanya mengangguk kan kepalanya, sebagai jawaban.
"Oh ya, bolehkah saya tau nama anda tuan?"
"Jeffry." Ucapnya dengan nada dingin.
"Ohh, kalau saya Dona. Sekali lagi terima kasih, atas bantuannya."
"Sudah. Tidak ada hal lain lagi bukan! Kalau begitu saya permisi."
Sebelum menaiki motor sport nya, Jeffry pun...