
Dan dia pun mulai membangunkan Jeffry sambil mengguncangkan badan Jeffry.
"Mas."
"Hmmm." Ucap Jeffry dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Badanmu demam, kita pergi ke rumah sakit ya." Pinta Vio.
"Tidak perlu."
"Tapi badanmu panas, aku khawatir." Lirih Vio.
"Kamu gak perlu khawatir, aku baik-baik aja. Tinggal minum obat demam, aku yakin pasti sembuh hal ini sudah bisa."
"Baiklah kalau begitu, aku tinggal sebentar ya! Aku mau mandi dulu, lalu aku akan meminta pak Asep buat belikan kamu bubur ayam dulu."
Jeffry pun hanya menganggukkan kepalanya. Dan setelah Vio mandi dan berpakaian rumahan, ia pun bergegas menemui supir pribadinya untuk membelikan bubur ayam untuk sang suami.
Ya. Pak Asep diminta Vio untuk mengikutinya tinggal di rumah yang ia tinggali bersama Jeffry suaminya, dan meminta pak Asep untuk tetap menjadi supir pribadinya.
Tak butuh waktu lama pak Asep pun sudah kembali dengan membawa dua bungkus bubur ayam.
"Permisi non." Ucap pak Asep kepada Vio yang kebetulan sedang berada di ruang tamu.
"Iya pak."
"Ini non pesanannya."
"Oh terima kasih pak, loh tapi ko dua bungkus pak! Kan saya cuman pesan satu bungkus."
"Saya sengaja non. Karena saya tau pasti non juga belum sarapan."
"Iya juga sih, saya lupa kalau saya juga belum sarapan." Jawab Vio sambil terkekeh.
"Saya maklumi non. Pasti non khawatir banget sama tuan yang sedang sakit."
"Yasudah kalau begitu saya mau siapin ini dulu ya pak, oh ya. Pak Asep juga beli sarapan buat bapak kan."
"Sudah non, saya juga tadi beli buat saya."
"Bagus kalau begitu, saya permisi dan terima kasih ya pak."
"Sama-sama non. Kali butuh sesuatu panggil saya aja non."
"Sip pak."
"Iya."
Setelah itu pak Asep pun kembali ke ruangannya yang berada di samping rumah. Sedangkan Vio berada di dapur sedang menyiapkan bubur untuk sarapan sang suami.
"Mas bangun, sarapan dulu yuk."
Jeffry pun membuka matanya dan duduk sambil bersandar di atas kepala ranjang.
"Sarapan dulu yah, nih aku sudah bawakan bubur ayam buat mas. Nanti habis sarapan minum obat." Ucap Vio dan Jeffry pun hanya mengangguk.
Vio pun menyuapi Jeffry.
"Bagaimana sudah agak mendingan!" Tanya Vio sambil menyentuh kening Jeffry.
"Lumayan berkat tadi kamu kompres." Jawab Jeffry dengan suara pelan.
"Syukurlah."
"Oh ya kamu gak sarapan?" Tanya Jeffry.
"Nanti aja, setelah mas sarapan dan minuman obat."
"Pantas saja Jefri sayang dan cinta sama gadis ini, bahkan dia rela mendonorkan matanya. Ternyata dia memang gadis yang baik. Gua beruntung banget bisa nikah sama dia." Ucap Jeffry dalam hati.
"Mas ko bengong! Lagi mikirin apa?"
"Gak aku cuman mikir, aku beruntung banget bisa nikahin gadis yang baik dan cantik kaya kamu, dan menjadikan kamu sebagai istriku."
"Mas ini bisa aja." Ucap Vio sambil tersenyum malu.
"Loh tapi emang benar."
"Udah ah, nih makan lagi. Supaya cepat sembuh."
Vio hendak menyuapinya lagi namun tangan nya di tahan oleh Jeffry.
"Kenapa."
"Kami juga makan." Ujar Jeffry sambil membalikkan sendok ke arah mulut Vio.
"Tapi..."
"Husstt, gak ada tapi²an. Sekarang buka mulutnya." Ucap Jeffry, mau tak mau Vio pun membuka mulutnya.