Violleta

Violleta
BAB 113



"Baiklah kalau begitu saya ucapkan terima kasih, karena sudah mau hadir di acara makan malam ini, maaf jika ada kekurangan dalam hal menjamu."


"Tidak ada yang kurang sama sekali paman, justru kami mengucapkan terima kasih, karena masih menganggap kami sebagai keluarga dari paman, padahal kakek dan ayah sudah tiada."


"Jangan bicara seperti itu, bagaimana pun kalian tetap menjadi keluarga dari Abimanyu."


"Terima kasih paman, kalau begitu kami pamit pulang, terima kasih sekali lagi atas undangan makan malamnya."


"Iya."


Setelah pamit kepada semua orang yang ada di ruangan itu, Erik beserta istri dan juga mamahnya pun pergi dari mansion itu.


Kini tinggallah dua keluarga yang masih berada di ruangan itu.


"Apa yang ingin kamu katakan?" Tanya tuan Abimanyu pada Vio, anak semata wayangnya.


"A-aku, ingin meminta cerai sama mas Jeffry." Ucap Vio, sambil menundukkan kepalanya, karena tidak sanggup melihat semua orang yang ada di ruangan itu, terlebih lagi mommy dan juga mertuanya.


Jedar.


Pengakuan Vio berhasil membuat semua orang terkejut, kecuali tuan Abimanyu, karena ia sudah mengerti apa yang ingin dikatakan oleh putrinya itu.


Setelah mendengarkan perkataan Vio, Jeffry pun langsung bersimpuh di depannya, seraya memegang tangan sang istri.


"Vi, apa maksud mu! Kamu tidak bercanda kan? Katakan kalau kamu hanya bercanda kan? Tanya Jeffry, seraya melihat mata sang istri yang masih menunduk.


"Tidak, aku tidak bercanda. Aku benar-benar bersungguh-sungguh untuk meminta kamu untuk mencarikan aku." Jawab Vio dengan lirih.


"Aku akan meminta cerai sama kamu setelah anak ini lahir, dan untuk mengurusi anak kita, kamu gak perlu khawatir aku akan mengurus nya sendiri, dan juga aku gak akan melarang kamu untuk bertemu dengannya, kamu boleh bertemu dengannya kapanpun." Ujarnya, masih dengan pendirian untuk meminta cerai.


"Tapi kenapa? Apa karena aku membohongi mu? Jika memang itu alasannya aku minta maaf, dan aku siap menanggung semuanya, termasuk dipenjara. Asalkan kamu tidak meminta perceraian, aku siap dipenjara Vi, asal kamu tetap bersama ku." Lirih Jeffry.


"Aku tidak meminta mu untuk mempertanggung jawabkan kesalahan mu, dan tidak memintamu untuk dipenjara, aku hanya ingin kita berpisah itu saja." Kekeh Vio.


"Tidak aku tidak akan menceraikan kamu, sampai kapanpun." Tegas Jeffry.


"Kamu..."


"Sebaiknya kalian bicarakan masalah rumah tangga kalian berdua, kami permisi dulu, ingat jangan pernah pakai emosi, bicaralah dengan kepala dingin." Sela tuan Abimanyu.


Setelah mengatakan itu, tuan Abimanyu, nyonya Kayla, serta kedua orang tua Jeffry, dan juga Nares, pergi dari ruang keluarga.


Membiarkan sepasang suami istri untuk menyelesaikan masalah mereka berdua, namun tetep dengan pengawasan mereka.


"Sayang aku mohon tarik kata-kata mu itu." Ujar Jeffry, setelah keluarganya pergi dari ruangan.


"Tidak, sampai kapan pun aku tidak akan menarik kata-kata ku, dan akan meminta bercerai denganmu." Tegas Vio.


"Bagaimana kalau aku tidak mau?" Tanya Jeffry, seraya berdiri dari duduknya.


"Aku bisa mendaftarkan gugatan perceraian di pengadilan." Jawabnya dengan dingin.


"Dengarkan aku, sampai kapan pun aku tidak akan peranah menceraikan kamu. Aku tidak peduli kamu mau mendaftarkan nya di pengadilan sekalipun aku tetep tidak akan menceraikan kamu sampai kapanpun." Tekannya.