
Vio pun menaruh tes pack di wastafel, dan ia memilih keluar dari kamar mandi.
Di ruang tengah, telah terjadi keributan antara rose dan Dona.
"Lu apa-apaan sih, pergi gak lu dari rumah gua! Lu itu gak diundang." Ucap rose.
"Apaan sih, gua kesini buat ketemu sama Vio. Ada sesuatu yang ingin gua tunjukkin sama dia."
"Hal apa yang ingin lu tunjukkin sama Vio." Kali ini Jeffry yang berbicara.
"Rahasia, kamu gak perlu tau sayang."
"Cih." Jeffry berdecak.
"Udah mendingan lu sono, ganggu acara gua aja lu." Ujar rose.
"Gua gak akan pergi, sebelum ketemu sama Vio." Tekan Dona.
"Vio, Vio, Vio." Teriak Dona.
"Heh, nenek sihir lu itu ya..." Belum sempat rose bicara, Vio menyela.
"Ada apa, kenapa teriak-teriak?" Tanya Vio.
"Dona." Lanjutnya.
"Akhirnya lu keluar, ada sesuatu yang ingin gua tunjukkin sama lu."
"Apa?"
"Sesuatu rahasia yang suami lu sembunyikan." Ujar Dona, dengan senyum sinis nya.
"Mas kamu sembunyikan apa dariku? Dan rahasia apa yang kamu sembunyikan?" Tanya Vio pada sang suami.
"Aku gak sembunyikan apa-apa dari kamu sayang! Kamu percaya sama aku, jangan percaya sama dia." Tunjuk Jeffry, pada Dona.
"Oh ya, atau kamu takut. Rahasia yang selama ini kamu simpan, akan ketahuan?!"
"Cukup Dona. Lebih baik lu pergi dari sini, sebelum gua seret." Tekan Jeffry.
"Tapi sayangnya gua gak mau, sebelum Vio tau tentang rahasia yang lu sembunyikan."
"Lu..."
"Ini lu lihat saja." Dona pun memberikan handphone nya kepada Vio, dan menunjukkan sebuah rekaman video tentang Jeffry, yang bercerita bahwa dia di pinta untuk menikahi Vio, wanita yang tidak ia cintai.
Jika tidak maka ia akan masuk ke dalam penjara. Tidak ada pilihan lain, ia pun akhirnya menerima tawaran sebagai pengantin pengganti. Kepda sahabatnya, yang kebetulan mereka sedang kumpul di Club.
Terkejut! Itulah yang di rasakan oleh Vio, setelah melihat rekaman video.
"Mas, apa yang ada di video ini benar?" Tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
"Katakan mas." Teriak Vio.
"Sayang itu semua tidak benar, kamu jangan pernah dengarkan apa yang ia katakan." Ungkap Jeffry, ia pun perlahan memegang tangan Vio, namun sayang Vio pun menepisnya.
"Vio, kamu benar-benar kasihan. Di bohongi oleh suami mu termasuk dengan keluarga mu sendiri."
"Sayang jangan percaya sama dia, dia ingin menghancurkan rumah tangga kita sayang."
"Apa? Aku, menghancurkan rumah tanggamu, justru kamu sendiri yang menghancurkan rumah tanggamu." Ujar Dona.
"Diam kamu Dona, lebih baik kamu pergi." Tekan Jeffry.
"Tidak akan."
"Pergi, atau aku..."
"Diam." Teriak Vio.
Dan seketika Dona dan Jeffry pun berhenti berdebat.
"Sayang." Ucap Jeffry, dan ia pun ingin memegang tangan sang istri, namun dilarang.
"Stop. Jangan pernah pegang aku mas." Tekan Vio, dan seketika...
Plak.
Satu tamparan mendarat di pipi Jeffry. Ya, Vio menampar Jeffry.
"Sayang kamu." Ucap Jeffry dengan wajah tidak percaya, bahwa sang istri yang selama ini selalu menghormati dirinya, kini menamparnya.
"Kenapa? Kamu marah, aku menamparmu! Lalu kamu apa? Yang sudah membohongiku selama ini, kenapa mas? Kenapa kamu menyembunyikan semua ini dariku!" Teriak Vio.
"Maaf." Hanya itu yang...