Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Mulai sadar



Sepulang sekolah Zea, Devan dan Luna berniat ingin pergi ke Rumah Sakit untuk melihat keadaan Davin.


"Van, Badan kamu ngerasa sakit juga ya?" Tanya Zea saat mereka berada didalam mobil menuju Runah Sakit.


"Sakit kenapa? Aku baik-baik aja." Jawab Devan bingung.


"Kata Zahra(Teman sebangku) kalo kita kembar terus yang satu sakit, Satunya juga bakalan ngerasa sakit." Ucap Zea polos meyakini apa yang dikatakan oleh sahabatnya disekolah.


"Emang aku sama Davin satu badan? Ya gak lah. Buktinya aku sehat baik-baik aja gak ngerasa sakit." Jawab Devan santai memberi penjelasan pada Zea.


"Gitu ya? Coba sini." Zea langsung menarik dan memutar tubuh Devan mencari punggungnya dan PLAAAAKKKKK......Suara pukulan itu terdengar nyaring di dalam mobil.


"Auuuuu.....Kamu kenapa mukul aku?" Protes Devan nyaring sambil mengusap punggungnya dengan tangan yang tidak begitu sampai.


"Zea kok gitu sama bang Devan? Kasian kan bang Devannya sakit, Minta maaf sama bang Devan." Perintah sang ibu yang juga kaget saat melihat Zea memukul punggung Devan dengan keras.


"Hehe maaf, Aku cuma pengen buktiin aja. Aku pikir punggung kamu betulan ngerasa sakit sama kek bang Davin." Katanya tersenyum membuat Devan ingin membalas pukulan itu jika Zea adalah seorang laki-laki.


"Kalo dipukul gini biarpun gak kembar juga bakalan ngerasa sakit." Sahut Devan kesal memasang wajah masam.


"Iya maaf."


"Kalian ada-ada aja sih kelakuannya." Ucap Luna sambil fokus menyetir.


***


"Eriska, Ayo kita makan siang dulu." Ajak Dhika, Ini sudah waktunya jam makan siang dan istirahat namun Eriska masih betah mengerjakan pekerjaannya.


"Iya...." Sahut Eriska tersenyum ingin meletakan lap yang ia pegang.


"Kerjaain dulu tugas kamu, Inikan hari pertama kamu kerja jangan sampai ada karyawan yang mengeluh sama hasil kerjaan kamu bisa-bisa kamu dipecat." Celetuk Widya sambil lalu, Mendengar hal itu Eriska mengurungkan niatnya untuk makan siang. Ia tidak mau jika ada karyawan yang protes tentang pekerjaannya.


Tidak lama Dhika kembali menghampiri Eriska membawa kotak makanannya.


"Loh ayo kita makan, Udah tinggalin aja dulu kerjaan kamu ini waktunya istirahat." Ucap pria berwajah manis itu.


"Iya mas, Duluan aja nanti saya nyusul." Sahut Eriska tersenyum. Eriska mengusap keringat dipelipisnya. Lelah sudah pasti ia rasakan karena sejak jam 7 pagi ia sudah datang dan langsung bekerja tanpa berhenti karena tatapan sinis dari beberapa orang karyawan wanita. Namun mau bagaimana lagi, Ia sangat membutuhkan pekerjaan ini.


"Eh orang baru!" Panggil salah satu staf wanita yang baru saja datang menghampiri Eriska.


"Iya mbak...." Sahut Eriska tetap ramah walau mendapat perlakuaan ketus dari beberapa orang.


"Tolong photocopy kan file ini, Ingat jangan sampai ada yang terlewat dan hasilnya harus terang jangan buram apalagi kabur." Katanya memberikan setumpuk kertas ketangan Eriska, Eriska mengangguk paham.


"Dan satu lagi, Belikan saya ice coffe hazelnut di caffe seberang jalan sana." Tambah wanita itu sambil menunjuk kearah cafee seberang jalan kantor.


"Oh iya, Saya lupa bawa uangnya. Pake uang kamu dulu, Nanti saya ganti." Katanya lalu pergi, Eriska tersenyum dan langsung pergi keruang photocopy.


Eriska mengerjakan tugas itu dengan sangat teliti dan hati-hati, Ia bahkan mengulang jika ada lembar photocopy yang terlihat buram dan setelah hampir setengah jam ia mengerjakan tugas itu, Giliran ia pergi ke caffe untuk membeli pesanan staf wanita tadi.


"Ice coffe hazelnut 1." Ucap Eriska, Sambil menunggu pesanan dibuatkan ia membaca sedikit file yang tadi diphotocopy nya.


"Ini pesanan anda." Kata pelayan caffe menyodorkan segelas coffe ice pesanan nya beserta nota harga. Eriska melihat harga yang tertera 25.000 untuk satu gelas ice coffe, Beruntung ia memiliki uang sebesar 30.000 di dalam sakunya. Eriska langsung membayar dan pergi dari sana.


Setibanya dikantor, Eriska langsung menuju ruangan staf yang menyuruhnya tadi yang bekerja di departemen HRD. Eriska mengetuk pintu ruangan itu lalu masuk kesana.


"Ini pesanan nya mbak." Ucap Eriska ramah dan sopan, Wanita itu hanya mengangguk sambil menyuruh Eriska meletakan semua yang ia bawa tadi dimeja sampingnya dan Eriska pun melakukannya. Karena meja itu penuh dengan beberapa map, Secara tidak sengaja Eriska menumpahkan minuman yang ia bawa tadi keatas lembaran kertas photocopy.


"YA AMPUN! KAMU BISA KERJA GAK SIH?LIAT NIH, JADI BASAH SEMUA KAN!" Teriak staf itu membentak Eriska.


"Maafin saya mbak, Saya bener-bener gak sengaja." Sahut Eriska panik, Ia mengambil tisu dan langsung membersihkan meja itu dari tumpahan air.


"Heran deh kenapa orang seperti kamu bisa dengan mudah masuk keperusahaan ini! Kerja gini aja gak becus!" Tambahnya lagi, Eriska hanya bisa tertunduk menerima semua ucapan staf itu karena ia merasa bahwa ini memang kesalahannya.


"Ada apa ini?" Kata Kenan yang tiba-tiba masuk, Sejak tadi dia berdiri didepan pintu memperhatikan semua dari luar.


"Ini pak, Karyawan baru ini numpahin air keatas file hasil meeting tadi pagi." Katanya langsung melapor pada Kenan karena Kenan terkenal galak dan tegas dikantornya.


"Maafkan saya pak, Ini salah saya dan saya benar-benar tidak sengaja." Jawab Eriska masih menunduk.


"Mulai sekarang gak ada yang boleh menyuhnya kecuali saya, Dan kamu ikut saya ke ruangan." Kata Kenan lalu pergi dari tempat itu menuju keruangan nya. Eriska pun langsung mengikuti perintah Kenan.


"******! Rasain, Kamu pikir bisa dengan mudah menghadapi pak Ken?" Ucap staf tadi sinis.


Kenan duduk disinggasananya menunggu Eriska dan tidak lama Eriska datang.


"Maafin saya pak, Saya benar-benar tidak sengaja melakukannya." Ucap Eriska langsung minta maaf pada Kenan.


"Mulai sekarang kamu kerja untuk saya. Tugas kamu membuat minuman untuk saya dan membersihakan ruangan saya, Kamu juga harus siap datang kapanpun saya memanggil kamu." Kata Kenan serius, Eriska mengangguk dan menerima hukuman itu.


"Kamu gak protes?" Tambah Kenan lagi membuat Eriska bingung dan langsung mengangkat wajahnya melihat kearah Kenan yang malah tersenyum padanya.


"Mak....Sud bapak?" Tanya Eriska ragu.


"Kamu terlalu serius, Entar stres kerja disini. Maaf aku harus bersikap seperti tadi didepan orang lain, Aku cuma gak mau mereka salah paham dan malah menyudutkan kamu." Ucap Kenan, Eriska masih bingung dengan pria yang duduk dihadapannya ini.


"Pasti berat untuk kamu bekerja ditempat ini, Rekan kerja yang tidak bersahabat sampai beberapa orang-orang tidak menganggap kamu sebagai karyawan disini." Tambah Kenan yang ternyata tau jika Eriska tidak diterima ditempat ini.


Mendengar hal itu Eriska tersenyum pada Kenan, Ia menghargai niat tulus Kenan yang ingin membantunya.


"Saya bahkan pernah melewati masa terberat daripada saat ini. Pandangan buruk orang lain terhadap diri saya itu sudah biasa, Bahkan tidak lagi berpengaruh untuk saya. Di dunia ini akan selalu ada orang yang membenci walau tidak tau apa alasannya, Walau kita diam sekalipun tetap akan ada yang tidak menyukainya. Itulah hidup, Dunia ini kejam saat ia meninggikan seseorang maka seseorang itu harus siap jika suatu saat dunia melemparnya dari ketinggian." Kenan terdiam mendengar ucapan Eriska bagaimana bisa seorang wanita yang dulunya selalu berada disamping pria brengsek dan ba*ingan seperti Baron, Memiliki sifat seperti ini? Pikirnya saat itu.


"Maaf pak, Kalau tidak ada pagi yang ingin dibicarakan saya permisi."Kata Eriska menyadarkan Kenan dari diamnya.


"Oke, Kamu bisa kembali. Ucapanku tadi serius, Mulai saat ini kamu bekerja untuk ku." Tambah Kenan, Eriska hanya tersenyum tipis lalu pergi dari tempat itu.


***


"Dan keruangan gue sebentar." Kata El dalam sambungan telepon. Berselang beberapa menit kemudian Daniel masuk keruangan El.


"Kenapa? Ada masalah?" Tanya Daniel.langsung duduk di sofa.


"Insiden di kebun binatang kemaren, Itu bukan murni kecelakaan." Ucap El serius membuat Daniel bingung.


"Ada yang sengaja main-main sama nyawa anak gue." Daniel benar-benar kaget mendengar hal itu. El berdiri lalu ikut duduk di sofa yang sama dengan El.


"Jadi maksud lo ada yang sengaja bawa Zea masuk kesana dan ninggalin dia ditempat itu. Dan pelakunya bukan monyet yang dimaksud sama petugas kebun binatang?" El mengangguk membenarkan tebakan Daniel.


Gue gak tau siapa orangnya, Yang jelas gerak-gerak gue dan keluarga gue lagi diawasi sama seseorang."


"Terus lo tau darimana kalo itu semua adalah faktor kesengajaan?"


"CCTV." Sahut El singkat.


"Loh bukannya CCTV juga mati?"


"CCTV baru dimatikan saat Zea ada di dalam, Sebelumnya lampu ruangan sempat dinyalakan dan CCTV juga saat itu nyala. Gue udah nyuruh orang-orang gue untuk nyelidiki kasus itu dan bener feeling gue, Kalo itu semua bukan karena kecelakaan." Jelas El membuat Daniel ikut berpikir siapa dalang yang ada dibalik itu semua karena anaknya juga menjadi korban.


"Kita lagi di awasi, Kumpulkan semua data karyawan termasuk data karyawan baru yang masih magang." Daniel mengangguk dan langsung melaksanakan perintah El karena ini menyangkut keluarga ia tidak main-main dengan tugas yang diberikan atasannya itu.


Setelah Daniel keluar, El langsung menghubungi beberapa orang anak buahnya yang sudah ditugaskan untuk mengikuti dan melindungi Luna beserta anak-anak. Rumah sakit tempat Davin dirawat pun dalam pantauan El saat ini, Kali ini ia tidak ingin kecolongan seperti kemarin. Beruntung Zea dan Davin selamat dan walaupun Davin terluka tapi tidak mengalami luka yang serius karena jika sampai anak-anak nya terluka parah mungkin ia akan menutup tempat wisata itu untuk selamanya entah bagaimana pun caranya.


***


Saat ini Luna, Devan dan Zea berada diRumah Sakit. Luna dan Dara mengobrol sedangkan Zea dan Davin asik bercanda dan Devan sibuk dengan gamenya ditiap saat dan ditiap tempat. Keadaan Davin pun mulai membaik walau kadang ia masih sering meringis merasa pedih dipunggungnya tetapi ia anak yang kuat.


"Abang Davin, Sakit gini boleh makan cokelat gak?" Tanya Zea sebelum memberikan sebatang cokelat yang ia bawa dalam tas kecilnya untuk Davin.


"Davin itu yang sakit punggungnya bukan mulutnya." Sahut Devan tetap fokus dengan benda yang sedang ia pegang. Mendengar hal itu Zea langsung membuka tas ranselnya dan mengeluarkan sebatang cokelat, Susu cokelat dan lolipop cokelat.


"Ini buat bang Devan." Kata Zea menyerahkan semua makanan yang terbuat dari cokelat itu pada Davin membuat Davin dan Devan menganga.


"Kok cokelat semua?" Tanya Devan melihat satu persatu.


"Kan bang Davin cowok, Kalo cewek baru aku kasih yang stroberry warnanya merah muda." Sahut Zea polos membuat Devan membuang nafas panjang sedangkan Davin tersenyum lucu.


"Iya, Makasih ya. Entar kalo udah gak minum obat pasti abang makan semuanya."


"Gak lama gigi kamu ompong semua kek gigi Zea." Celetuk Devan cuek membuat Zea mendengus kesal. Luna dan Dara hanya bisa menggelengkan kepala melihat ketiga bocah kecil itu.


***


Tidak terasa waktu terus berjalan, Eriska buru-buru mengganti pakaian dan langsung pergi menuju ruangan HRD namun pintu itu sudah terkunci. Ia baru sadar jika para staf sudah pulang sejak jam 4 sore tadi.


Eriska mengeluarkan uang di kantung celananya yang hanya tinggal 5000 rupiah sisa ia membeli coffe ice tadi.


"Gimana aku mau beli sayuran untuk ibu? Uangku tinggal segini." Katanya terlihat sangat kecewa. Karena ibunya menderita gagal ginjal, Tidak sembarang makanan bisa masuk dengan damai kedalam tubuh tua nya. Eriska berjalan menuju meja security berharap jika staf yang menyuruhnya tadi menitipkan uang ganti untuk ice coffe yang ia beli.


"Ummmm pak maaf saya mau tanya, Apa bu Mila menitip sesuatu pada bapak untuk diberikan pada saya?" Tanya Eriska penuh harap karena uang itu sangat penting untuknya.


"Gak ada mbak, Bu Mila gak ada nitip apa-apa sama saya." Sahut security tersebut yang langsung menghancurkan harapan Eriska.


"Oh ya udah, Kalo gitu saya permisi." Eriska pulang dengan tangan hampa, Ia berjalan pelan keluar dari area kantor.


Tintt.....Tinntt..... Suara klakson mobil menghentikan langkahnya, Tidak lama pintu mobil itu terbuka dan Kenan keluar dari sana.


"Kamu baru pulang?" Tanya Kenan mengampiri Eriska.


"Iya." Sahut Eriska singkat, Pikirannya masih bergelud bagaimana caranya ia bisa membeli makanan untuk ibunya. Sebuah ide muncul begitu saja di otaknya namun ia buru-buru menepis semua ide itu.


"Kamu kenapa? Capek ya kerja dikantorku?" Tanya Kenan lagi. Eriska hanya menggeleng menjawab pertanyaan Kenan.


"Ummm pak, Apa saya bisa minta tolong?" Tanya Eriska yang akhirnya mengikuti ide yang terus-terusan muncul di otaknya. Mata Kenan menyipit mendengar hal itu.


"Kamu lagi ada masalah?" Tanya Kenan, Eriska kembali menggelengkan kepalanya.


"Lalu?" Tanya Kenan penasaran.


"Apa saya boleh meminjam uang sebesar 100.000? Saya tau ini keterlaluan tapi anda bisa potong gaji saya untuk bulan depan." Kata Eriska menundukan wajahnya. Mendengar hal itu Kenan penasaran masalah apa yang dihadapi Eriska saat ini.


"Aku bisa bantu kamu tapi tentu itu semua tidak dengan cuma-cuma." Ucap Kenan, Ia bukannya ingin memanfaatkan Eriska ia hanya ingin tau apa yang membuat Eriska terlihat begitu menyedihkan.


"Tidak sulit, Sebagai gantinya kamu harus berjanji jika kita hanya berdua maka berhenti bicara formal. Kedua anggap aku sebagai seorang teman bukan atasan, Ketiga aku mau tau untuk apa uang itu? Dan kenapa hanya sejumlah itu?" Ucap Kenan, Eriska terdiam ia benar-benar bingung saat ini. Jika ia tidak menyetui semua persyaratan itu bagai mana dengan ibunya? Jika ia menyetujui betapa malunya ia bicara jujur tentang keadaan nya saat ini.


"Yes or no?" Ucap Kenan lagi.


"Pertama saya bisa penuhi, Kedua bagaimanapun juga anda tetap atasan saya yang harus saya hormati, Ketiga saya butuh uang itu untuk membeli bahan makanan khusus bagi orang yang mengidap gagal ginjal yaitu ibu saya sendiri." Sahut Eriska cepat sambil memejamkan kedua matanya. Kenan seketika diam, Baginya uang 100.000 bukan apa-apa bahkan terasa tidak ada artinya tapi bagi wanita yang berdiri dihadapannya saat ini uang 100.000 bisa untuk mencukupi kebutuhannya dan ibunya.


"Kamu masih bicara formal." Kata Kenan menegur Eriska.


"Ma.....Maaf."


"Kalo gitu ayo kita belanja bahan makanan untuk ibu kamu." Ajak Kenan langsung menarik Eriska untuk masuk kemobil mewahnya.


"Huh?" Eriska bingung namun tetap berjalan mengikuti Kenan.


***


Setelah selesai berbelanja kebutuhan untuk ibunya Kenan memaksa untuk mengantar Eriska pulang dan walaupun Eriska terus menolaknya Kenan tetap saja keras kepala.


"Rumahku jauh, Mobil kamu gak bisa dibawa masuk karena harus menaiki beberapa anak tangga." Kata Eriska masih berusaha menolaknya namun Kenan juga tetap bertahan pada keinginan nya dan akhirnya tidak ad pilihan lain selain mengizinkan Kenan mengantarkannya pulang.


"Tiap hari kamu ngelewati jalan ini?" Tanya Kenan sambil melihat-lihat sekelilingnya.


"Mmmmm....." Sahut Eriska singkat.


"Kamu gak takut? Jalannya sepi dan cukup gelap."


"Satu-satunya hal yang paling aku takuti di dunia ini adalah kehilangan orang yang aku cintai yaitu ibuku." Jawab Eriska tersenyum, Kenan mengangguk mendengar hal itu.


"Tapi langit malam disini bagus banget ya, Udaranya juga sejuk banget." Eriska mengangguk dan tersenyum sambil mereka terus berjalan menaiki anak tangga satu persatu.


Bersambung.....