
Sesuai yang dikatakan nya pada Dara, Saat ini El dan dua pengecara nya sedang berada dikantor polisi untuk membebaskan Rendy.
"Selamat siang pak, Saya Elang Edgar Wirayudha ingin membebaskan Rendy Keano dengan membawa surat kuasa dan bukti dari korban yang ingin saudara Rendy dibebaskan." Ucapnya lalu pengecara tersebut memberikan surat kuasa beserta video dari Daniel yang menginginkan kebebasan untuk Rendy.
Setelah menerima dan melihat semua yang diserahkan El, Polisi itu langsung menuju ruang sel untuk membebaskan Rendy.
"Hari ini kamu bebas, Lain kali jangan bertindak bodoh lagi." Ucap polisi itu sambil membuka pintu sel. Rendy masih bingung kenapa ia dibebaskan tanpa bersyara.
"Daniel yang minta gue untuk kesini dan bebasin lo." Ucap El menjawab pertanyaan Rendy.
"Ma.....Maksud lo Daniel....."
"Mmmmm......Kondisi Daniel makin membaik dan hari ini dia sudah boleh pulang kerumah." Mendengar itu Rendy langsung menghampiri El dan memeluk El membuat El risih karena ia tidak begitu dekat dengan Rendy.
"Gue rasa kita gak sedekat ini sampai-sampai lo harus meluk gue." Kata El jujur sambil melepaskan diri dari pelukan Rendy. Bukannya malu atau berhenti Rendy malah tertawa dan terus memeluk El membuat El buru-buru pergi dari sana.
"Lo pulang sendiri ya, Gue mau langsung ke kantor soalnya." El lalu masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan Rendy yang teramat bahagia disana.
Rendy langsung menghubungi Dara untuk menanyakan keadaan Daniel dan alamat rumah Daniel.
"Kak.....Syukurlah akhirnya kakak bebas. Dara seneng banget."
"Iya, Kamu sekarang dimana? Gimana keadaan Daniel?"
"Kita udah mau pulang nih, Dara mungkin langsung kerumah Daniel dulu nganterin dia."
"Alamatnya dimana? Kakak mau kesana, Ummmmmm ada beberapa hal yang pengen kakak omongin sama Daniel." Dara mengerti maksud Rendy, Ia lalu memberikan alamat rumah Daniel dan menunggu disana.
Setelah sambungan telepon diakhiri, Rendy bergegas kesana untuk menemui Daniel dan Dara.
***
"Pak, Ada paket untuk bapak." Kata sekertaris El memberikan sebuah amplop berwarna coklat muda pada El.
"Kok gak ada nama nama pengirimnya? Ini dari siapa?"
"Kata kurir yang antar dari seorang pria yang namanya Barron." Mata El seketika terbuka lebar saat mendengar nama itu.
"Ya udah kamu boleh pergi." Setelah sekertaris itu pergi El buru-buru membuka amplop besar yang isinya adalah photo-photo Dara dan Luna saat ada dihalaman rumah sakit kemarin. El langsung mengepal kuat tangannya, Rahangnya tercetak jelas sedang menahan suatu perasaan tidak suka. Tidak lama telepon El berbunyi, Ia melihat hanya nomer yang disembunyikan yang tertera dilayar hapenya.
"Apa kabar Leondra? Oh maaf, Maksud gue CEO dari Diamond Group pak Elang Wirayudha. Oh iya, Pasti masih ingat banget kan sama gue? Gimana hasil photographer gue? Gak kalah kan sama photographer yang ada diperusahaan lo?"
"Jangan pernah coba-coba untuk ganggu mereka walau hanya satu helai rambutpun. Atau lo bakal masuk kepenjara untuk kedua kalinya!" Ancam El serius dan tegas.
"Hahahaha okelah santai, Setelah 23 tahun gak ketemu lo masih sama kek dulu ya. Gue gak tertarik sama mereka, Gue lebih tertarik sama lo." Ucap pria yang bernama Barron itu, Ia adalah pria-pria yang dimaksud El dulu yang membakar tubuh Daniel dan El yang menyelamatkannya dengan cara mengirim mereka semua kepenjara khusus anak dibawah umur. Setelah El diangkat oleh keluarga Wirayudha ia tidak tau lagi kabar dari barron dan komplotannya.
"Apa mau lo?"
"Gak sekarang bray, Tapi cepat atau lambat gue bakal datang ketempat lo jadi lo harus siap-siap." Telepon pun langsung diputuskan Barron begitu saja, Tanpa memberikan penjelasan lebih akurat membuat El kesal dan memukul keras mejanya.
Elang Edgar Wirayudha siapa yang bisa mengalahkan pria ini, Anak tunggal dari bos mafia yang terkenal dan besar. Walaupun ia menolak untuk mewarisi kerajaan besar milik ayahnya pada kenyataan nya darah memang lebih kental daripada air. Jauh diluar sana El memang seorang bos dari sebuah genk yang cukup besar dan disegani, Namun tidak seberingas genk milik ayahnya.
"Lacak orang yang bernama Barron, Cari tau semua hal tentangnya." El lalu memutuskan sambungan telepon dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Bukan hal yang sulit bagi El untuk menemukan seseorang walau orang itu berada dimana ia bisa dengan mudah mencarinya.
***
Sesampainya dirumah Daniel. Dara dan Luna membantu Daniel turun dari mobil. Disana juga sudah ada Rendy yang menunggu kedatangan mereka. Walau sedikit ragu, Rendy tetap menghampiri Daniel yang sudah lebih dulu tersenyum padanya.
Dara dan Luna masuk terlebih dulu kerumah Daniel sengaja memberikan waktu untuk dua pria itu bicara.....
"Maafin gue soal kemaren."
"Gue tau perasaan lo saat itu, Kalo gue jadi lo mungkin gue juga bakal lakuin hal yang sama." Jawab Daniel santai agar lawan bicaranya juga bisa relax tidak merasa terintimidasi oleh kesalahan nya sendiri.
"Dara ade gue satu-satunya. Dari kecil cuma gue tempat dia ngadu, Orangtua kita sibuk sama urusan masing-masing mungkin karena hal itu gue dan Dara saling mengisi satu sama lain. Bagi gue gak ada yang lebih penting selain kebahagian nya, Apapun bakal gue lakuin buat dia. Dimata gue, Dia tetap ade gue yang masih kecil dan suka ngerengek sama gue. Mau ikut kemana pun gue pergi sampai-sampai gantungin dibaju gue biar gak gue tinggalin." Ucap Rendy ia tersenyum sambil mengenang masa-masa itu.
"Terimakasih karena lo selama ini ngejaga Dara. Lo kakak yang hebat dan terbaik buat dia, Terimakasih lo mau kasih gue kesempatan untuk ngejaga ade lo dan hidup sama dia."
"Lo boleh lakuin hal apapun, Tapi satu yang gak boleh lo lakuin. Jangan pernah nyakitin hatinya atau bikin dia nangis. Kalo itu sampai terjadi lo masih inget kan rasanya gue hajar?" Mendengar ancaman Rendy, Daniel langsung bergidik ngeri.
"Heee.......Badan gue masih nyeri gara-gara lo, Sumpah." Rendy tertawa mendengar ucapan Daniel.
"Tapi tenaga gue gak ada apa-apanya dibanding suaminya Luna." Daniel tertawa mendengar Rendy menyinggung bosnya itu.
"Dia sih emang monster, Belajar bela diri sama naruto mungkin entar lagi bakal jadi hokage." Sontak Rendy tertawa terbahak mendengar itu semua dari mulut Daniel.
(Kok telinga gue daritadi bedengung? Pasti ada ada yang ngomongin gue) Ucap El yang masih sibuk bekerja.
"Pantes aja gue gak bisa gerak, Ternyata gue ngelawan ninja." Balas Rendy, Kali ini mereka berdua benar-benar sangat bersemangat menceritakan El seolah lupa siapa El.
"Dia juga anggota avengers." Tambah Daniel sambil menahan tawa.
"Siapa?"
"Hulk." Tawa mereka berdua makin menjadi tidak sadar jika sejak tadi Luna istri dari Hulk itu sudah berdiri didekat mereka berdua dengan menyilangkan kedua tangan didepan dada.
"Ehhhememm....." Dehaman Luna menyadarkan keduanya. Sontak mereka berdua langsung terdiam tanpa ada suara sedikitpun hanya suara nafas yang terdengar. Luna berjalan pelan kearah kedua pria yang sejak tadi asik menceritakan suaminya itu. Wajah panik pun langsung terlukis diwajah Rendy dan Daniel.
"Ummmm......Kakak mau ketemu Dara bentar ya. Dan, Gue duluan." Rendy langsung berdiri meninggalkan Daniel sendiri disana sedangkan Daniel langsung kalang kabut harus menghadapi Luna seorang diri.
"H......Hai Lun... " Katanya sambil melambai Luna, Luna hanya tersenyum tanpa mengatakan apa-apa membuat Daniel menelan ludahnya.
"Seru ceritanya?" Tanya Luna yang kini sudah duduk disampingnya melihat kearah Daniel dengan senyum yang tentu artinya tidak sedang merasa senang.
"Hah? Oooo.....Oh ta.....Tadi kita bedua cuma becanda kok, Serius cuma becanda." Luna menaikan kedua alisnya mendengar pembelaan Daniel.
"Selamat untuk semua ya kak, Dari kemaren aku gak sempat ngomong apapun sama kak Daniel." Daniel terkejut saat Luna menyelamati nya dan tidak marah padanya.
"Terimakasih ya, Tanpa kamu dan El ini semua mungkin gak akan terjadi. Kalian yang nyelamatin hidupku." Jawab Daniel tersenyum.
"Kami cuma ngelakuin tugas kami, Selebihnya kakak berjuang sendiri." Daniel tersenyum lalu mengulurkan tangannya ingin berjabat tangan membuat Luna heran.
"Udah jangan kebanyakan mikir." Daniel langsung menangkap tangan Luna.
"Mulai saat ini dan selamanya, Saya yang bernama Gibran Daniel sah menjadi kakak laki-laki bagi adik angkat saya yang bernama Aluna(Siapa nama lengkap kamu?) Sela Daniel bertanya dalam ikrar janjinya membuat Luna tersenyum lucu.
"Aluna Dewi Mentari" Jawab Dara dari kejauhan sambil tersenyum melihat calon suami dan sahabatnya itu.
"Oh Aluna Dewi Mentari. Keputusan ini sah dan tidak boleh ditolak oleh Aluna sebagai seorang adik." Sontak Luna tertawa karena tingkah Daniel.
"Bener ya kata bang El, Kak Daniel itu konyol." Ucap Luna dalam tawanya, Daniel hanya tersenyum. Baginya El dan Luna sangat berarti sebab mereka berdua lah yang sangat berusaha agar Daniel bisa mendapatkan hati Dara. Tanpa mereka mungkin Daniel tidak akan ada ditempat ini sekarang.
"Yah kok pulang?" Ucap Dara.
"Kan udah sore."
"Jangan pulang dong, Disini aja. Lagian kalian juga cuma berdua dirumah, Sepi tau mending disini." Bujuk Dara agar Luna tidak jadi pulang kerumahnya.
"Mereka mau lanjutin bikin El junior sayang, Biarin aja." Sontak Daniel langsung mendapatkan tatapan membunuh dari Dara dan Luna.
"Oooooo...... Oke." Daniel langsung menutup mulutnya rapat tidak berani lagi bicara sembarangan didepan kedua wanita hamil ini.
"Kenapa gak minta bang El jemput aja kesini?"
"Iya, Mending suruh El jemput kesini. Sekalian kita makan malam bareng ya sebagai rasa syukur karena aku baru aja keluar dari rumah sakit dan Rendy baru keluar dari rumah tahanan." Katanya lagi asal bicara, Kali ini Rendy yang menatapnya tajam membuat Daniel menyengir.
Dara langsung meraih hapenya dan menghubungi nomer telepon El.
"Kenapa Ra?" Tanya El yang menerima telepon Dara.
"Bang, Entar jemputin Luma dirumah Daniel ya. Sekalian entar malam kita makan malam bareng buat ngerayain kesembuhan Daniel."
"Oh, Oke nih udah diparkiran." Dara lalu mematikan sambungan teleponnya.
"Beres." Katanya pada Luna, Luna hanya membuang nafas.
"Kata siapa lo udah sembuh? Oon lo sih bakal tetep permanen Dan." Celetuk El sambil melajukan mobilnya menuju rumah Daniel.
"Kamu gak nginep disini kan malam ini?" Tanya Luna pada Dara saat mereka berdua sedang duduk diteras belakang.
"Ya gak lah, Apaan sih nanya gitu. Aku pulang ke kosan sama kak Rendy." Jawab Dara malu-malu.
"Kak Rendy masih gak mau pulang kerumahnya?" Dara menggeleng menjawab pertanyaan Luna.
"Kamu tau sendiri gimana papa aku, Dia lebih mentingin nama baik lekuarga daripada kami berdua." Luna mengusap lembut pundak sahabat nya itu.
"Ummmm.......Ayo kita kerumah kamu." Ucap Daniel yang baru datang. Dara dan Luna langsung diam tidak mengatakan apapun. Daniel berjongkok dihadapan Dara sambil menggenggam kedua tangan Dara.
"Apa salahnya kita mencoba?" Tanya Daniel pelan meyakinkan Dara.
"Tapi lo gak tau gimana bokap gue." Sambung Rendy sambil membawa beberapa kotak pizza makanan yang mereka pesan untuk makan malam.
"Dari kecil aku emang gak pernah tau gimana rasanya punya orangtua. Satu-satunya Keluarga yang aku punya cuma El, Dia sahabatku kadang jadi kakak buatku, Kadang dia juga jadi adik dan sesekali dia jadi orangtua buat aku. Mungkin orangtua kamu bakal nolak kita, Tapi setau ku gak ada orang tua yang gak sayang sama anak-anaknya." Katanya sambil tersenyum pada Dara, Sedangakan Dara masih takut untuk pulang dan bertemu orangtuanya.
"Lagipula aku pengen mereka merestui kita." Sambungnya lagi yakin.
"Gue saranin gak usah kerumah. Restu mereka biar gue yang wakilin, Ngadepin gue sendirian aja lo gak bisa apalagi ngadepin bokap gue." Celetuk Rendy yang sibuk menata meja ditanam.
"Lo bikin rusak suasana romantis aja sih bang." Tegur Daniel dengan wajah kesal.
"Lagi ngomongin apaan sih? Tanggal o
pernikahan?" El yang baru datang langsung menghampiri Luna mengecup kening, Pipi dan bibir wanitanya itu lalu mencium perut rata Lun membuat Daniel berdecih melihatnya.
"Si Daniel pengen kerumah gue dan ketemu orangtua gue." Jawab Rendy
"Ya bagus dong. Emang harus gitu, Kan baru lo yang ngehajar Daniel bokap lo belum dapat giliran."
"Ish.....Baru nongol udah ngajak tawuran!" Sambar Daniel, Luna langsung mencubit pelan pinggang El membuat pria itu mengernyit.
"Mungkin kalian bakal mikir orang tua mana sih yang gak sayang sama anak-anaknya? Tapi untuk hal ini tolong dengerin gue baik-baik. Sebenernya gue malu mesti ngomongin keluarga gue sendiri didepan kalian, Tapi gue rasa kalian juga perlu tau kalo orangtua kita berbeda dari orangtua kebanyakan. Jangankan gue anak cowok, Ade gue yang nyata banget anak cewek aja sering banget kena pukul sama bokap gue. Dan puncaknya saat bokap gue tau Dara hamil, Kek orang kesurupan dia mukulin Dara tanpa rasa kasian dan ampun. Gue gak tau apa yang bakal terjadi kalo gue lambat sedikit aja datang pagi itu, Dan hal itulah yang bikin gue gelap mata ngehajar Daniel habis-habisan." Dara tenrtunduk diam, Malu sudah pasti dan sakit hati sudah jelas semua bercampur aduk menjadi satu hingga tidak terasa airmata nya jatuh. Daniel langsung memeluk Dara seolah sangat mengerti perasaan Dara saat ini, Ia berusaha menenangkan Dara.
"Stttt......Udah jangan dipikirin dulu ya. Gak baik untuk kesehatan janin kamu, Yang penting sekarang kamu dan kak Daniel nikah aja dulu." Saran Luna sambil menenangkan sahabatnya itu.
"Yang dibilang Luna bener. Yang penting kita nikah aja dulu." Sambung Daniel, Dara mengangguk menghapus airmata nya.
"Udah selesai belum? Gue perlu bantuan disini." Teriak Rendy yang sibuk sendiri mengatur taman.
"Lo bantuin sana kakak ipar lo!" Celetuk El memerintah Daniel.
"Gue masih dalam masa pemulihan, Lo sana yang bantuin."
"Enak aja, Gue kangen sama anak istri gue pengen sayang-sayangan." Keributan mereka berdua benar-benar membuat Dara dan Luna menggelengkan kepala.
"Cepat kalian bantuin atau kita yang kesana buat bantu kak Rendy." Ucap Dara mengancam kedua pria itu.
"Jangan!" Sahut El dan Daniel bersamaan. Mereka berdua akhirnya mengalah dan mau tidak mau ikut membantu Rendy meski tetap Rendy yang paling banyak bekerja sedangkan Daniel dan El hanya banyak bicara.
***
Malam ini mereka berlima berkumpul untuk makan malam bersama, Tidak ada lagi kesedihan yang terlihat hanya ada kebahagian yang terpancar dari wajah mereka.
Setelah selesai makan malam Dara dan Luna sibuk menonton drama korea kesukaan mereka berdua dilaptop milik Daniel sedangkan El, Rendy dan Daniel masih santai dihalaman belakang sambil mengobrol.
"Gue misi mau angkat telepon bentar." Ucap Rendy lalu pergi dari sana.
"Lo pernah denger kabar tentang Barron setelah malam itu?" Tanya El serius pada Daniel. Daniel kaget saat El yang tiba-tiba membahas tentang Barron, Laki-laki j*****m yang membuat Daniel mentato tubuhnya karena bekas luka bakar yang disebabkan oleh Barron.
"Kenapa tiba-tiba lo ngebahas dia?" Tanya Daniel penasaran, El lalu mengeluarkan photo-photo yang dikirim oleh Barron dari balik saku jasnya.
"Apa ini?"
"Lo liat aja." Daniel membuka amplop itu dan matanya langsung membesar saat melihat photo Dara dan Luna.
"Tadi siang dia ngirim itu kekantor. Dan dia juga ngehubungin gue."
"Mau apa lagi si a****g itu? Kenapa dia kirim photo Luna dan Dara? Apa maksudnya?"
"Gue udah suruh orang buat nyari dan ngawasin dia. Tapi kalo gue liat bukan Dara dan Luna yang mereka incar, Tapi gue." Mendengar itu Daniel makin bingung. Ia tau sahabatnya itu bisa menjaga diri tapi tetap saja ia terlihat khawatir saat ini.
Bersambung......
Dikit banget ya? Iyasih Author juga tau, Author lagi kehabisan ide siih jadi bingung mau manjangin ceritanya.......
Maafkan untuk eps kali ini yg kurang memuaskan.....
Vote
like
komen ttp diharapkan......Moga next eps bisa asik lagi ya. 😘😘😘😘😘