
Pagi telah tiba, El sudah terbangun dan baru saja selesai mandi, mengingat hari ini adalah hari kepulangannya, El sangat bersemangat karena akan segera bertemu dengan anak dan istrinya. Tapi masih ada satu masalah yang tersisa, Siapa lagi kalau bukan biang masalah si Daniel. Sudah jam tujuh pagi tapi manusia absurd itu masih asik molor di ranjang, Mana tidurnya ngorok pula bikin El tambah geli ngeliatnya.
"Itu Dara kok bisa anteng gitu ya denger ngorok nya Daniel. Gue aja yang orang lain merinding dengernya kek lagi liat mukanya gitu tidur mangap-mangap kek ikan emas yang ada dipasar.
Woi kebo, Bangun lo!" Ucap El sambil narik selimut yang dipake sama Daniel buat nutupin badannya.
Nyatanya, Daniel sama sekali tidak terusik sedikitpun. Biarpun selimutnya ditarik-tarik paksa sama El bahkan sampai bikin badannya ikut ketarik-tarik juga menjauh dari bantal.
"Ga bangun-bangun gue injak juga lo dimuka!" Ancam El membuat Daniel mau tidak mau membuka matanya.
"Apaan sih El ah, Berisik banget sih lo pagi-pagi kek burung tetangga! Lo ga tau semalam gue ga bisa tidur gara-gara mikirin hantu dikamar gue..Udahlah biarin gue tidur dulu!" Sahut Daniel malas lalu mencoba kembali tidur.
Melihat hal itu El langsung mengambil bantal guling dan tanpa aba-aba apalagi hitungan 1-2-3 ia langsung memukulkan bantal guling itu kebadan Daniel hingga mau tidak mau Daniel langsung bangkit dan mendudukan badannya yang masih ingin tidur. Daniel yang merasa tidurnya terganggu menatap El dengan tatapan ingin menelan utuh manusia yang ada di hadapannya ini, Namun tatapan itu tidak berpengaruh untuk El yang benar-benar sangat bersemangat memukuli Daniel menggunakan guling.
"Lo kayaknya kalo ga ganggu gue hidup lo suram ya!" Ucap Daniel kesal lalu menguap lebar.
"Lo mau pulang apa nggak hah?! Lo mau kita terlambat balik?!" Sembur El galak tidak perduli jika lawan bicaranya masih mengantuk. Ini sih kalau kata Daniel, dia lagi kesurupan dan perlu dipanggilin orang pintar buat nenangin.
"Ya selow dulu lah brader. Gak perlu buru-buru juga dong, Toh bandaranya gak akan lari ninggalin kita kan?" Sahut Daniel sambil menggaruk-garuk badannya.
"Lo lama-lama beneran gue injak sampe hancur lo ya! Ngeselin banget emang! Lo waktu kecil dikasih makan apaan sih tua gini baru keliat kan efeknya."
"Ya bubur sama nasi lah, Kadang juga dikasih cemilan kek biskuit-biskuit gitu. Anak sehat gue, Vaksin gue juga full gak ada yang kelewat vitamin dari A sampai Z dikasih gue." Kata Daniel malah menerangkan nya membuat El makin ingin meledak saat ini juga.
El yang sudah tidak bisa lagi menahan perasaan nya pada Daniel langsung menyeret Daniel masuk kedalam kamar mandi gak peduli kalo pria dua anak itu teriak-teriak El tetap menyeret nya kekamar mandi, Ga lupa juga dia ngunciin Daniel dari luar biar Daniel gak kabur dan segera mandi.
"Kebiasaan banget sih terlalu santai gitu! Entar kalau sudah ketinggalan pesawat, Dia juga yang ngamuk-ngamuk kek orang kesurupan." Gerutu El, Entah siapa yang kesurupan diantara mereka berdua saat ini. Kata Daniel, El yang kesurupan dan perlu orang pintar sedangkan kata El, Daniel lah orang yang kesurupan. Pada intinya mereka berdua sama-sama membutuhkan orang pintar untuk menjinak kan kebobrokan mereka masing-masing.
***
El sudah siap dengan setelannya, Kopernya pun sudah dipacking dengan rapi. Begitu juga dengan Daniel, Tapi bedanya Daniel membawa lebih banyak barang-barang belanjaannya dan titipan istrinya. Itulah kenapa dia masih berjalan pelan sambil narik koper dibelakang sana.
"Woi, lo bisa cepat nggak sih?" Teriak El.
"Sabar woi! Kalo lo mau gue cepet, Bantuin dong jangan marah-marah doang! Keriput baru tau rasa lo!" El tidak menghiraukan Daniel karena kalau sampai ia kembali bicara maka yang ada mereka hanya akan terus bertengkar dan tidak mencari taksi.
"El bantuin gue woi!" Daniel terlihat ngos-ngosan setelah berlari mengejar El yang berjalan jauh didepannya.
Ga adil lo! Kan disini ada barang bini lo juga." Celetuk Daniel yang selalu berusaha memancing keributan dengan bosnya itu.
"Pamrih banget sih lo sama tenaga." Cibir El kesal. Dia langsung ngambil barang belanjaan dari tangan Daniel yang berisi titipan istrinya.
"Nih juga bawain sekalian." Daniel nyorongin seplastik barang lagi.
"Bawa sendiri!" Kata El ketus terus berjalan tanpa melihat kearah Daniel yang berwajah masam.
"Payah banget sih lo jadi bos, Harusnya lo sediain sarana dong buat kita. Atau kalo gak lo telepon Mr. Lee aja minta dikirim mobil karena kita gak nemu taksi yang kosong. Lagian ini hari apa sih kok orang-orang keluar rumah semua sampai-sampai sulit banget nyari taksi yang kosong." Kata Daniel terus mengomel sepanjang jalan. Terang saja ia tidak bisa terima begitu saja jalan kaki dengan santai seperti El, Andai bisa dilihat betapa keren dan tampannya saat ini si Daniel dengan penampilan nya yang baru.
"Banyak omong lo! Laki kan lo? Kalo laki udah jangan banyak omong!" Sahut El membuat Daniel mengoloknya dari belakang.
Dalam hati El juga sebenarnya terus mengomel tapi bukan karena mereka berjalan kaki melainkan karena sikap Daniel yang membuatnya dongkol.
"Lain kali kalo pergi kemanapun gue gak akan mau lagi ngajakin Daniel yang kerjaannya bikin gue naik darah mulu. Mending gue ngajak Luna untung banyak daripada bawa Daniel rugi terus, Banyak-banyakin pengeluaran perusahaan aja." Katanya dalam hati dan tetap terus berjalan.
"El.. lo serius kita ke bandara jalan kaki?" Tanya Daniel lagi sambil nyeret-nyeret kopernya sok keberatan.
"Yang mau jalan kaki siapa?" Sahut El ketus sudah malas meladeni semua ucapan Daniel.
"Lah ini kita lagi jalan?"
"Kan dari awal gue udah bilang Gibran Daniel kalo kita lagi nyari taksi kosong, Bukannya mau jalan kaki ke bandara ya Tuhan beratnya jalani hidup kalo dia ada di dekat hamba." Keluh El, Daniel hanya mengangguk kan kepalanya entah ia baru faham atau ia baru saja mendengar ucapan El. Maklumlah tadi pagi ia masih sangat mengantuk saat El menyeretnya keluar dari hotel.
"El lo kenapa sih marah-marah mulu sama gue? Apa lo ga bisa bersikap lembut ke cowok ganteng kek gue gini?" Tambah Daniel lagi yang selalu bicara hal tidak penting bagi El.
"Ngeliat muka lo aja udah emosi gue." Sahut El, Padahal ia benar-benar malas menanggapi Daniel tapi tetap saja mulutnya selalu menjawab ucapan Daniel.
Tiba-tiba Daniel berhenti melangkah dan dengan sengaja ngelempar kopernya sembarangan.
"Aaah capek gue! Bahasa Korea-nya ojol apaan sih? Sumpah ga tahan gue pengen pingsan, Dara oppa capek." Katanya setengah berteriak membuat El memutar tubuhnya sambil membuang nafas jengah memperhatikan pria gila yang ada dibelakang nya saat ini.
Jadi alasan kenapa mereka bisa berjalan kaki itu semua karena mereka tidak bisa menemukan taksi kosong sejak tadi. Mereka sudah berjalan cukup jauh namun belum bisa menemukan taksi, Betapa sibuk kehidupan di Negara maju seperti Korea pantas saja sebagian dari mereka lebih memilih untuk menggunakan sepeda daripada mobil. Hal ini saja sudah membuat El kesal takut jika mereka terlambat ke bandara ditambah suara ocehan Daniel yang yang terlalu cerewet untuk ukuran laki-laki membuat El makin merasa kesal.
"Gausah banyak tingkah oppa-oppa geli gue dengernya cepetan jalan! Lo mau ketinggalan pesawat?! Gue tinggal lo disini bodo amat jadi gelandangan di Korea." Kata El sambil berkacak pinggang.
"Ga bakal gue jadi gelandangan, Yang ada gue bakal jadi boyband. Diajak debut dong gue! Apalagi muka gue mirip sama membernya Super Junior. Pasti bakal jadi super star gue disini. Terus lo tiba-tiba datang lo pengen kerjasama sama gue, Lo pengen gue kembali lagi jadi anak buah lo. Ahhhh faham gue alur ceritanya." Sahut Daniel menghayal terlalu ekstrem
"Mimpi lo ketinggian entar tabrakan sama pesawat! Muka modal bedak tabur gitu doang banyak gaya! Lo cepet ga jalannya?! Mau gue seret lagi?" Ancam El yang sudah mengambil ancang-ancang ingin berjalan kearah Daniel yang sekarang sedang duduk santai diatas jalanan.
"Dalem sing mulio kanjeng Elang, Monggo." Sahut Daniel dengan bahasa jawa lemah lembut ia tersenyum sambil berjalan menarik kopernya kembali. Lebih baik untuknya daripada ia kembali diseret seperti tadi pagi.
"Gue bawa mayat apa baju ya? Berat banget ini koper gila." Celoteh Daniel yang ingin ikut berlari mengejar El namun kopernya terlalu berat untuk ditarik.
"Buruan! Taksinya kosong." Kata El memberitahu pada Daniel, Ia pun langsung memasukan koper miliknya kedalam bagasi
"Oke."
Daniel langsung berlari dan menarik kopernya sekuat tenaga, El sudah berbicara dengan supir taksi itu.
"Kek nya ga cukup deh bagasinya sama koper lo. Belum lagi sama tas-tas belanjaan yang lo bawa kek tukang kreditan gini." Kata El menunjuk beberapa paper bag milik Daniel.
"Lah, terus gue gimana dong?"
"Lo pangku aja kopernya."
"El.. otak lo masih ada ditempatnya kan? Gak ketinggalan di kamar hotel kan ya? Narik aja gue sekuat tenaga dan dengan santainya tanpa ada rasa iba lo nyuruh gue mangku nih koper? Lo becanda? Gak lucu becanda lo." Jawab Daniel yang rasanya sangat ingin menangis jika ia harus memangku koper seberat kountener itu.
"Kuping lo juga pastinya gak ketinggalan kan? Pasti denger dong kalo bagasinya penuh. Jadi pilih mana? Mangku koper atau tinggal disini nungguin taksi yang lain. The choice is yours bro." Tambah El tersenyum ringan tanpa beban atau kerut kesal diwajahnya.
"Udahlah, Pangku doang masa gak kuat? Malu dong kalo sampai Dara tau, Masa iya suaminya gak jantan gitu? Lagian ini juga udah deket sama bandara." Kata El benar-benar puas melihat Daniel sengsara.
Setelah mempertimbangkan masak-masak hingga hampir gosong sangking masaknya Daniel akhirnya dengan sangat teramat berat hati masuk kedalam taksi sambil mengangkat dengan setengah hidup dan mati koper yang sangat berat itu.
"Nah gitu dong mas, Kan kek laki beneran jadinya." Kata El, Kini roda sedang berputar jika tadi El yang dibuat kesal olah Daniel maka saat ini Daniel lah yang dibuat murka oleh El itulah yang namanya KEHIDUPAN. Jadi saat kita berada di atas jangan sekali-kali sombong apalagi merasa sudah menguasai dunia karena hidup itu seperti roda saat roda itu berputar maka semua pun ikut berubah dalam sekejap.
"Kok diem terus mas? Biasanya gak bisa dimanapun dan kapanpun." Kata El lagi membuka obrolan saat mereka sedang dalam perjalanan menuju bandara.
"Banyak omong lo!" Sahut Daniel menyalak membuat El tertawa bahagia.
Daniel dengan sekuat tenaga memeluk kopernya sambil berdesakan berbagi tempat dengan beberapa kantong belanjaan lainnya di kursi belakang. Sedangkan El duduk santai menikmati perjalanan sambil sesekali bersiul ria dan tersenyum hangat saat melihat kearah Daniel.
"Dikasih makan apa tuh orang waktu bayi. Besarnya punya kelebihan bikin orang sengsara." Gumam Daniel pelan di kursi belakang.
Setelah melewati kurang lebih 30 menit perjalanan. Mereka akhirnya sampai di bandara pukul 7:45 dan penerbangan mereka pukul 8:40 waktu setempat.
El menurunkan koper-koper nya dan membayar ongkos taksi.
"El bantuin ini berat, Bangke kan lo gak tau-tau gitu." Kata Daniel yang bersusah payah mengeluarkan kopernya dari dalam taksi dibantu oleh supir taksi tersebut.
"Lah koper segede buku gambar gitu doang lo minta bantuin. Otot lo mana otot? Makanya pakai otak aja gak cukup kan, Tetep perlu otot juga kan?" Kata El mengeluarkan koper berat itu dengan satu tangan.
"Alah nyombong basi lo! Bantuin gue bawain nih paper bag." Kata Daniel cuek sambil menyerahkan beberapa paper bag lalu menarik kopernya.
"Ngelunjak. Gitu tuh yang bikin gue males, Udah gak tau makasih ngelunjak pula. Dulu waktu lahir pasti gak di Azanin tuh makanya gitu tua nya." Kata El namun ia tetap membawa tas-tas belanjaan itu walaupun mulutnya tidak bisa diam.
"Bodo amat apa kata lu. Gue udah lima L lelah, Letih, Lesu, Lunglai, Lapar." Sahut Daniel sambil terus berjalan memasuki bandara. Karena buru-buru mereka tidak sempat sarapan.
"Alah manja! Baru juga gitu. Gak cocok lo manja-manjaan apa lagi mau manja sama gue jangan harap."
"Dih siapa juga yang mau manja-manjaan sama lo pedean!"
Dan jika akhirnya mereka seperti saat ini, Maka tidak akan ada yang mau mengalah satu sama lain. Sampai tiba di Indonesia pun mereka akan terus tetap bertengkar.
"Lo tau gak dulu ada yang ngata-ngatain gue dan nindas gue ya persia kek lo saat ini, Dan malemnya dia muntah paku." Kata Daniel dengan wajah serius.
"Iya percaya gue, Buktinya Dara bisa lo nikahin padahal kan dia benci banget sama lo." Sahut El membenarkan ucapan Daniel membuat Daniel melihat kearahnya.
"Maksud lo gue nyantet dia?" Ucap Daniel tegas didekat wajah El. Mereka saat ini sedang duduk menghilangkan penat.
"Guna-guna oon. Nyebut aja udah salah sosoan mau bikin orang muntah paku. Kalo muntah liat muka lo atau jengkel sama omongan lo ya bisa jadi itu."
"Ya sama, Intinya sama-sama dikirimin kan? Gitu doang ribet banget sih." Bela Daniel yang benar-benar tidak mau kalah.
"Ya beda lah, Lo dulunya sekolah beneran kan? Gak asal nembak ijazah kan? Masa gitu doang lo gak bisa bedain. Mana yang namanya guna-guna mana yang namanya santet."
"Ya gue sekolah yang gue pelajari Ipa, Ips, Mamematika, Fisika dan lainnya bukan jurusan ilmu hitam santet menyantet dan segala macam guna-guna. Lo tau banget masalah gituan, Lo dulunya belajar emang?" Serang Daniel lagi......
"Lo gak belajar Bahasa Indonesia kan makanya gak tau sama yang namanya perbedaan. Itu sama aja lo ngira domba itu kambing dan kambing itu domba udah gak ada bedanya padahal biarpun satu spesies mereka tetep beda." Terang El menjelaskan maksudnya pada Daniel.
"Ya elu juga salah satu spesies nya kenapa gak disebut?"
"Lo lama-lama kok bangke nya makin parah ya! Kalo gue spesies domba lo masuk spesies bintang laut nah beteman dah tu sama spongebob, Tau kan si patrick gimana. Ya kek elu!" Balas El, Sangking tidak terasanya mereka saling melempar umpatan waktu keberangkatan mereka pun akhirnya tiba. Setelah puas menghambur-hamburkan uang juga sumpah serapah mereka masuk kedalam pesawat dengan perasaan damai karena puas mengeluarkan kekesalan mereka masing-masing.
***Bersambung......
Well eps khusus mereka berdua akhirnya End ya, Next eps udah lengkap formasinya kek power rangers ada Luna, Dara, Devan, Davin, Zea om Rendy dan para pemain lainnya***.