
Sesampainya di tempat latihan Kenan segera turun membawa seikat bunga sebanyak 7 batang sesuai dengan umur Zea. Dilihatnya Zea, Devan dan Davin sedang berlatih bersama Rendy. Kenan masuk dan langsung duduk di sebelah Luna.
"Siang mom...." Sapa Kenan santai pada Luna, Membuat Luna mengerutkan dahinya. Mendengar hal itu Dara langsung mendaratkan sebuah jitakan kecil dikepala Kenan.
"Apa sih Ra? Kamu mau disapa juga? Kata Daniel aku harus jaga jarak loh." Dara kembali mengangkat tangan nya dan ingin kembali mengulang saat ia menjitak kepala Kenan namun Kenan buru-buru minta maaf.
"Becanda ibu-ibu, Ya ampun serius banget sih."
"Bukannya kamu ikut meeting di kantor?" Tanya Luna pada Kenan yang berdiri memegang baju ganti bersiap untuk turun kelapangan.
"Gue disuruh bigbos kesini buat gantiin dia ngajar Zea. Mau nyuruh Daniel yang kesini ya bakalan percuma, Dia gak bisa apa-apa gitu." Setelah mengucapkan hal yang membuat Dara naik darah, Kenan langsung berlari cepat menuju ruang ganti sambil tertawa.
"Gilanya gak ilang-ilang tau gak tuh cowok! Makanya jadi jomblo akut." Celetuk Dara kesal, Membuat Luna tertawa mendengarnya.
"Bisa ya kalian gitu, Lucu sekaligus kagum tau gak sih ngeliatnya." Kata Luna tertawa.
"Lucu apanya? Dia rese emang dari dulu juga gitu gak pernah berubah." Sahut Dara, Mereka kembali menyaksikan latihan anak-anak mereka.
"Om Kenan....." Teriak Zea saat melihat Kenan datang dengan memakai baju khas taekwondo berwarna putih dengan sabuk berwarna hitam melilit dipinggangnya. Karena tidak fokus Zea mendapatkan sebuah tinjuan diwajahnya dan itu dihadiahi oleh Devan. Semua orang kaget melihat kejadian yang tidak sengaja dilakukan oleh Devan, Kenan bahkan berlari kearah Zea yang terjatuh akibat pukulan Devan.
"Devan, Zea belum siap kok udah di pukul? Om Rendy kan tadi udah tunggu keduanya siap." Kata Rendy menegur kesalahan yang tidak sengaja dilakukan oleh Devan.
"Iya, Kan kasian Zea." Tambah Davin ikut menyalahkan.
"Aku gak sengaja, Lagian kenapa dia balik arah pas udah siap?" Bela Devan tidak mau kalah.
"Devan, Minta maaf sama Zea." Kata Rendy menyuruh Devan. Saat belajar Devan, Davin dan juga Zea tetaplah menjadi seorang murid bagi Rendy.
"Ren." Ucap Kenan meminta Rendy berhenti untuk menyalahkan Devan karena hanya akan membuat Devan merasa dikucilkan.
"Zea gak apa-apa?" Tambah Kenan lagi lalu membantu Zea berdiri, Zea menggeleng memegangi pipinya yang cukup merah karena tinjuan itu.
"Devan! Kok kamu gitu sih?" Tanya Dara yang baru saja datang. Melihat hal itu, Luna langsung memegangi tangan Dara agar Dara berhenti menyalahkan anaknya..
"Lagian dia gak kenapa-napa. Kenapa semua malah nyalahin aku sih? Aku gak sengaja, Serius aku bener-bener gak sengaja." Kata Devan berusaha membela diri.
"Devan betul, Dia emang gak sengaja. Zea juga lengah padahal udah siap." Tambah Luna ikut membela Devan.
"Devan, Apa om bilang barusan? Minta maaf." Ucap Rendy bersikeras membuat Devan kesal namun tetap melakukan hal yang disuruh oleh omnya. Devan berjalan kearah Zea dengan wajah marah, Kesal, Masam semua bercampur aduk.
"Maafin aku." Katanya singkat tidak ingin melihat wajah Zea.
"Zea, Bang Devan gak sengaja sayang." Kata Kenan membujuk Zea agar gadis kecil itu memaafkan Devan namun Zea masih diam enggan memberikan maaf untuk Devan.
"Zea." Panggil Luna sekali pagi dan tentu itu berhasil membuat Zea memaafkan Devan.
"Nah gitu dong, Kan enak latihannya." Sahut Kenan tersenyum begitu juga dengan yang lain, Hanya Zea dan Devan yang memasang wajah masam.
"Ayo kembali latihan." Kata Rendy sambil menepuk tangannya.
"Om Devan izin istirahat sebentar." Kata Devan mengangkat tangannya lalu ia beranjak dari sana. Ada garis kecewa di wajah Devan saat ini, Namun ia berusaha menyembunyikan nya. Devan berjalan kearah Dara untuk meminta handuk kecil lalu pergi ke toilet.
"Zea lanjutin belajarnya ya, Sebentar om kembali." Kata Kenan, Ia lalu pergi menyusul Devan.
"Dasar cewek cengeng! Nyusahin orang! Manja! Centil!" Kata-kata itulah yang pertama kali di dengar oleh Kenan saat masuk ke area toilet. Dilihatnya dari pantulan cermin Devan duduk dan bicara pada sebuah gantungan kunci yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Melihat anak itu mengingatkan nya pada sosok dirinya saat kecil, Namun ia kesal bukan karena seorang wanita melainkan karena Baron yang memang sejak dulu sudah memiliki sifat licik.
Kenan tersenyum sambil terus mendengarkan ocehan Devan yang meluapkan emosinya pada gantungan kunci tersebut.
"Kita terlihat mirip."Kata Kenan menghampiri Devan, Devan langsung berhenti dan menyembunyikan gantungan kunci itu dibelakangnya.
"Saat kecil om juga sering melakukan hal sama. Pergi ke toilet atau ke kamar bahkan masuk kedalam lemari baju lalu terus-terusan marah, Mengomel dan terus bicara hingga hati om merasa tenang." Tambah Kenan duduk disebelah Devan yang makin memasang wajah masam karena kedatangan Kenan.
"Om punya ibu dan saudara tiri, Bahkan ayah kamu mengenal saudara tiri om. Mereka jahat, Bener-bener jahat. Tiap hari om diperlakukan gak adil makanya om nekat belajar ilmu beladiri biar bisa ngadepin saudara tirinya om." Devan berdiri tidak tertarik mendengarkan kisah hidup Kenan.
"Kamu cemburu sama om?" Ucapan Kenan langsung membuat langkah Devan berhenti. Melihat hal itu Kenan tersenyum lalu ikut berdiri dan menghampiri Devan.
"Kamu marah sama om karena om deket sama Zea. Iya kan?" tanya Kenan lagi membuat Devan makin terlihat kesal.
"Jangan asal ngomong! Aku gak suka sama om karena emang aku gak suka." Jawab Devan tegas menolak keras ucapan Kenan. Kenan mengangguk menyembunyikan senyuman nya. Dan Devan segera pergi meninggalkan Kenan ditempat itu.
"Kalo kamu suka Zea, Kamu harus bisa ngalahin om terlebih dulu." Teriak Kenan sambil tertawa melihat Devan yang makin menjauh.
***
"Lo yakin kalo mereka bakalan setuju sama perubahan style dari kita? Ini bukan hal yang kecil loh El. Lo tau kan apa taruhannya kalo sampai kita gagal." Ucap Daniel kembali meyakinkan El yang tetap fokus bekerja.
"Ya makanya kita coba, Lagian lo yang ngasih ide kenapa jadi maju mundur sih?"
"Ini ide Ken, Gue cuma mengembangkan aja. Lagian harusnya dia juga ikut sibuk sama kita disini lo malah ngirim dia ke tempat latihan." Protes Daniel masih tidak terima dengan keputusan El mengirim Kenan kesana.
"Lo napa sih jadi ribet gini? Lo capek? Pengen libur?" Tanya El mulai beranjak dari layar laptop yang terus menerus ditatapnya sejak tadi.
"Ya gak gitu, Tau gue keadaan perusahaan lagi anjlok gini. Maksud gue biar Kenan disini bantuin gue bikin bahan buat presentasi, Lo kan tau gue lemah dibidang ini."
"Gak heran gue, Lo sih emang lemah dalam semua bidang." Sahut El cuek kembali bekerja.
"Bangke! Lo lupa lagi ngomong sama siapa huh?" Bentak Daniel tidak terima dengan ucapan El.
"Gue ngomong sama orang terbejadd yang pernah ada dimuka bumi." Balas El tidak peduli dan malas menanggapi.
"Bejad teriak bejad, Kan gila! Gue bejad juga karena dia lebih bejad. Gue jadi bejad juga karena dia yang ngajarin gue bejad. Capek ah gue, Jangan ganggu gue mau telepon istri tercinta.
Daniel keluar dari El dan langsung menuju ruangan miliknya dan El kembali melanjutkan pekerjaan nya.
***
Zea saat ini sedang di sebuah mini market,
Pulang dari tempat latihan ia menagih es krim pada ibunya. Zea sedang asik memilih beberapa cemilan dan cokelat lain nya sedangkan Luna menunggunya di meja kasir.
"Auuuuuu......Sorry." Kata Zea saat tubuhnya yang mungil tidak sengaja menabrak seseorang.
"Hati-hati ya de." Sahut orang itu, Namun ia langsung menghentikan Zea begitu melihat sesuatu pada diri Zea.
"Itu kalung kamu?" Tanya pria tua itu, Zea memegangi liontin kalungnya lalu mengangguk pelan sedikit takut.
"Siapa yang ngasih kalung itu ke kamu?" Tanya nya lagi penasaran pada kalung yang dipakai oleh Zea.
"Bigbos." Jawab Zea singkat
"Bigbos? Namanya Leondra?"
"Kakek siapa? Kenapa tanya-tanya tentang kalung saya? Dan kenapa kakek tau nama bigbos?" Pertanyaan polos keluar dari mulut mungil Zea. Mendengar hal itu pria tadi tersenyum pada Zea.
"Kakek ini teman nya bigbos kamu. Sekarang bigbos kamu ada dimana?" Zea menggeleng pelan sambil menunduk.
"Bigbos disurga sama oma." Jawab gadis kecil itu.
"Bram mati?" Katanya pelan tidak percaya.
"Zea, Udah belanjanya sayang?" Teriak Luna yang saat ini berjalan kearah Zea.
"Iya mom, Zea disini." Sahut Zea berlari mengejar ibunya.
"Loh kok gak bawa apa-apa? Tadi katanya mau pilih-pilih dulu."Ucap Luna saat Zea menghampirinya dengan tangan kosong.
"Tadi pas lagi milih-milih, Zea ketemu sama kakek-kakek. Dia ngajakin Zea ngobrol, Dia tau nama bigbos katanya dia temen bigbos." Kata Zea bicara jujur pada ibunya. Mendengar hal itu Luna langsung khawatir takut jika yang membawa anaknya mengobrol tadi adalah orang jahat.
"Dimana? Kan kata mommy gak boleh bicara sama orang asing."
"Disana mom, Dia baik sih mom ngajakin Zea ngobrol tapi Zea gak tau namanya." Zea lalu menunjukan pada Luna tempat ia dan kakek tadi mengobrol namun saat sampai disana, Tidaka ada terlihat seseorang ditempat itu selain karyawan mini market yang sedang tersenyum pada mereka.
"Kok hilang? Tadi beneran ada kok mom Zea gak bohong." Luna berlutut hingga tingginya sama rata dengan tubuh Zea.
"Lain kali jangan ngobrol sama orang asing ya sayang. Ya udah kita pulang yu, Makanan kamu juga udah cukup banyak tuh dimeja kasir.
Bersambung......
Maaf ya masih kurang max gini......Moga secepatanya author sehat n bisa kek biasa ya. Dukung terus Perfect Husband Eluna series ya temen2 biar author tetap semangat. Like lnya jangan lupa tiap baca jgn sampai ketinggalan.....Mksii ya 😘😘😘