
Pagi ini El mengantar Luna untuk chek up ke Dokter, Hal ini mereka lakukan setiap minggu dan selama awal kehamilan Luna ia tidak pernah lagi di uzinkan untuk bepergian sendirian atau diantar oleh supir. El benar-benar menjadi sosok suami siap siaga untuk Luna.
"Sejauh ini bayi bu Luna sehat, Geraknya juga sangat aktif. Tapi apa bu Luna tidak merasa sakit saat bayi bu Luna sedang bergerak aktif? Karena melihat kondisi ibu seperti saat ini, Tentu saya tau apa yang ibu rasakan." Kata Dokter kandungan yang memeriksa Luna, El hanya bisa menggenggam erat tangan Luna mendengar hal itu tanpa bisa melakukan apa-apa.
"Saya gak ngerasa sakit Dok, Kalo rasa nyilu sudah pasti ada tapi tidak berlebihan." Ucap Luna tersenyum pasti meyakinkan pada El jika ia baik-baik saja padahal setiap malam ia selalu terbangun dan diam-diam menahan rasa sakit yang amat luar biasa itu sendirian tanpa sepengetahuan suaminya. Ia hanya tidak ingin El tambah khawatir jika sampai ia tau Luna kesakitan, Pria itu sudah cukup menderita dan tersakiti hatinya.
"Apa anda yakin?" Tanya Dokter tidak percaya, Tentu ia tidak percaya jika Luna mengatakan hal tersebut.
"Iya Dok, Saya yakin." Sahut Luna pasti tersenyum manis seperti biasanya.
"Kalau begitu perawat akan melakukan pemeriksaan menyeluruh tentang kesehatan ibu Luna dan pak El mari ikut saya untuk mengambil resep obat dan vitamin." El mengangguk.
"Abang ambil resep obat sebentar ya." Kata El mencium kening Luna, Luna tersenyum dan mengangguk lalu El pergi menuju ruangan Dokter.
"Pak El, Ini hasil USG ibu Luna. Selain gambaran dari bayinya disana juga ada beberapa lembar yang menunjukan kondisi rahim ibu Luna saat ini yang bisa dibilang benar-benar memang sudah sangat mengkhawatirkan." Kata Dokter tadi menyerahkan lembaran kertas hasil USG istrinya saat mereka sudah berada di dalam ruangan.
"El meraih beberapa lembar kertas itu, Dilihatnya baik-baik tampak wajah lucu anaknya yang masih dalam kandungan Luna tersebut. Ia tersenyum tipis melihat beberapa lembar kertas itu sebelum ia beralih pada kertas yang membuat hatinya hancur.
"Pantas saja mommy sangat mencintaimu melebihi nyawanya sendiri. Hanya dengan melihatmu begini saja, Daddy sangat mencintaimu apalagi saat ini kamu dan mommy menyatu saling berbagi."
Kata El dalam hati. El lalu membuka lembaran yang tersusun paling akhir kertas yang menjelaskan tentang keadaan rahim Luna. Walau ia tidak mengerti dengan semua yang ia lihat disana namun ia tau betul jika tempat itu sedang sangat bermasalah.
"Saran saya ibu Luna melakukan operasi sc sejak dini karena jika bayi makin berkembang maka akan membahayakan nyawanya sendiri."
"Itu artinya bayi kami akan terlahir prematur. Lalu berapa persen kemungkinan terbesar untuk bertahan hidup Dok?" Tanya El mulai memerima saran yang diajukan oleh Dokter.
"80-90% mengingat kondisi ibu Luna seperti saat ini, Semoga tidak ada masalah pada bayi yang ia kandung." Mendengar hal itu seolah El memiliki harapan untuk menyelamatkan kedua cintanya.
"Sebaiknya anda harus bicara dengan ibu Luna mengenai masalah ini. Dan jika bu Luna setuju operasi bisa segera kita lakukan."
"Baik Dok, Secepatnya saya akan bicara dengan istri saya. Terimakasih Dok, Saya permisi." Ada sedikit senyuman bahagia mengembang di wajah El, Senyum yang jarang ia tampakan selama ini.
***
Setelah menyatakan perasaan nya pada Eriska, Ia belum pernah lagi bertemu wanita itu karena Eriska selalu mengindarinya hingga akhirnya Kenan nekat untuk masuk keruang cleaning servis pada saat jam istirahat untuk menemui Eriska.
"Ris, Tolong keruangan saya sekarang." Kata Kenan tegas agar tidak terjadi salah paham antara karyawan lain dengan Eriska. Eriska yang saat ini sedang makan siang sendirian mengangguk pelan menjawab Kenan.
"Tapi kamu habiskan aja dulu makanan kamu, Baru keruangan saya." Tambahnya lagi tidak ingin mengganggu makan siang wanita yang ia sukai. Sekuat apapun ia bersikap tegas pada wanita itu tetap saja ia bersikap lembut hingga membuat beberapa orang melihat kearahnya karena perhatiannya yang terlalu nampak pada Eriska.
"Saya sudah selesai makan." Kata Eriska menutup kotak makannya lalu berdiri tanpa memperhatikan pandangan sinis dari orang-orang sekitar.
Kenan mengulum senyuman lalu segera pergi menuju ruangannya diikuti oleh Eriska yang jauh berjalan dibelakangnya.
Eriksa mengetuk pintu ruangan Kenan lalu masuk kesan, Kenan sudah duduk manis menunggu kedatangan Eriska di kursi CEO miliknya.
"Kamu sedang berusaha menghindar dari aku." Ucap Kenan, Eriska hanya berdiri di dekat pintu tidak berniat untuk duduk atau mendekat pada Kenan dan melihat sikap Eriska yang terkesan menjaga jarak dengannya Kenan berdiri lalu berjalan kearah Eriska.
"Gak, Aku emang lagi sibuk banget. Dhika ambil cuti kerjaan jadi dua kali lipat bertambah." Kata Eriska berusaha santai dan tenang melihat Kenan datang kearahnya. Kenan mengunci pintu ruangannya agar tidak ada yang masuk dan mengganggu obrolannya dengan Eriska. Melihat hal itu membuat Eriska makin merasa gugup, Ia benar-benar salah tingkah saat ini apa lagi Kenan terus mendekatinya.
"Ken.....A...Apa mau kamu?" Kata Eriska terbata memdapat tatapan serius dari Ken.
"Jawaban untuk pertanyaanku." Sahut Kenan terus menatap Eriska yang mulai gelagapan.
"A....Aku, Maaf baiknya kita sebatas teman tidak lebih." Jawab Eriska cepat sambil memejamkan kedua matanya dan menundukan kepalanya enggan melihat Kenan yang berdiri tepat dihadapannya.
"Apa ini sebuah penolakan?" Tanya Kenan, Eriska langsung mengangguk cepat.
"Kamu serius? Liat aku, Apa yang gak kamu suka dari aku?" Tanya Kenan memegangi kedua bahu Eriska. Eriska membuka matanya lalu melihat Kenan.
"Kamu baik, Bahkan terlalu baik untukku sampai aku merasa kamu bukan pria yang tepat untukku." Mendengar hal itu Kenan langsung memasang wajah serius menatap dalam mata Eriska.
"Ris, Aku serius dan perasaanku ini nyata gak main-main."
"Aku tau Ken, Tapi maaf aku gak bisa terima kamu lebih dari teman." Katanya berpaling dari tatapan Kenan yang terasa sedang mengintimidasinya saat ini. Merasa tidak yakin Kenan langsung menahan wajah Eriska yang berpaling darinya.
Tanpa meminta izin lebih dulu, Kenan langsung mencium bibir tipis Eriska dan sukses membuat wanita berparas manis itu kaget bukan main membuka lebar matanya.
"Bagaimana sekarang? Bukannya kamu tau bagaimana bej*t dan baj*ngannya aku." Ucap Ken melepaskan bibir Eriska. Eriska terdiam sesaat lalu tersenyum pada Ken.
"Kamu bukan orang seperti itu. Aku rasa ini sudah cukup, Jam istirahat juga sudah habis aku akan kembali bekerja dan aku harap hubungan perteman kita tidak berubah karena hal ini." Kenan menjauh lalu membuka kunci pintu ruangannya mempersilahkan Eriska untuk keluar dan Eriska pun langsung pergi dari sana meninggalkan Kenan dengan kediaman nya.
"Kamu bohong Ris, Kamu pikir aku gak tau kalo kamu juga merasakan hal yang sama denganku. Aku bakal buktiin kalo aku benar, Liat aja nanti.
Sementara itu Eriska langsung menuju toilet mengurung diri didalam sana sambil memegangi dadanya. Jantungnya masih berdegup kencang sampai sekarang, Ini untuk.pertama kalinya ia merasa seperti melayang jauh dari pijakannya.
***
"Dan, Lo jemput anak-anak gak?" Tanya El dalam telepon. Saat ini ia masih di Rumah Sakit sedang menunggu Luna selesai diperiksa.
"Iya, Nih gue dijalan. Kenapa?"
"Oke santai aja, Entar biar dia pulang kerumah gue aja Dara juga udah lama gak ketemu dia kangen katanya." Sahut Daniel sambil tetap fokus menyetir.
"Oke makasih ya."
"Oke." Setelah sambungan telepon terputus Daniel langsung melajukan mobilnya menuju sekolah anak-anaknya. Ia tidak ingin ketiga anaknya itu menunggu lama disana.
dan benar saja, Saat sampai disekolah terlihat anak-anaknya sudah menunggu.
"Maaf ya ayah terlambat, Soalnya dijalan agak macet. Loh Zea mana?" Tanya Daniel yang hanya melihat Devan dan Davin disana.
"Zea kan udah pulang di jemput sama oma." Jawab Davin dan Devan ikut mengangguk.
"Oma?" Ucap Daniel bingung.
"Oma Mela ayah." Kata Devan lagi.
"Oma Mela tadi kesini?"
"Gak tau, Tadi pas belajar Zea dipanggil sama guru katanya ada omanya jemputin karena mommy lagi sakit parah. Kita berdua gak liat sih oma Melanya mungkin oma lagi nunggu di luar." Jelas Davin, Mendengar hal itu Daniel langsung menghubungi El saat itu juga.
"El, Lo ada minta tolong sama bunda buat jemputin Zea kesekolah?" Tanyanya mulai khawatir.
"Gak ada, Bunda lagi keluar kota temenin ayah tugas luar. Kenapa?" Tanya El yang saat ini sedang diparkiran baru saja ingin pulang.
"Zea gak ada disekolah, Tadi kata anak-anak ada oma Mela datang jemputin Zea karena Luma saat ini lagi dirawat. Tapi anak-anak gak liat mukanya karena dia lagi nunggu dikantor. El lo tenang dulu, Lo coba tanya bunda siapa tau Zea emang beneran lagi sama bunda yang baru pulang dari luar kota." Mendengar hal itu El langsung mematikan sambungan telepon dan menghubungi ibu angkatnya. Membuat Luna bingung melihatnya.
"El kenapa nak?" Tanya bu Mela saat sambungan telepon terhubung.
"Ummm gak apa-apa kangen aja, Bunda masih di luar kota?" Tanya El tidak ingin langsung menanyai ibunya tentang Zea karena ia tau pasti kedua orangtua nya itu akan langsung panik jika mendengar kabar tentang Zea.
"Iya bunda masih di Medan, Seminggu lagi baru pulang. Entar kalo pulang bunda langsung kerumah kamu aja karena ayah dan bunda udah kangen banget sama Zea." Jawab bu Mela, Jantung El serasa lepas saat itu juga. Dimana putri kecilnya itu saat ini dan siapa orang yang membawa Zea.
"O...oh iya bunda, El tunggu ya bunda. Ya udah kalo gitu teleponnya El matikan ya."
"Iya, Salam sama Luna dan Zea ya El."
"Iya bunda."
"Bang kenapa?" Tanya Luna penasaran melihat El seperti orang kebingungan. Baru saja El ingin mengatakan hal itu pada Luna hp El kembali berdering, Sebuah video masuk El langsung membuka video yang dikirim oleh nomor yang disembunyikan itu.
"Daddy, Zea takut.....Mommy tolongin Zea." Teriak Zea sambil menangis ketakutan. Matanya ditutup serta tangan kaki terikat hingga ia tidak bisa bergerak sama sekali tapi yang paling membuat darah El mendidih adalah terpasangnya sebuah bom rakitan di tubuh kecil Zea yang masih menggunakan pakaian sekolah itu.
Melihat video anaknya Luna langsung jatuh pingsan saat itu juga, Hati ibu mana yang kuat saat melihat anaknya dalam bahaya.
"Lun....Luna." El buru-buru menggendong istrinya kembali masuk kerumah sakit dan setelah Luna di tangani Dokter ia langsung menghubungi anak buahnya serta Daniel.
"Kamu dimana sayang, Tunggu daddy ya nak." Kata El yang saat ini sedang menuju ke markas besarnya. Seluruh anak buahnya yang mencapai ratusan orang langsung diperintah untuk mencari dan melacak keberadaan Zea. Tidak tanggung-tanggung ia bahkan akan memberikan uang sebesar 1 milyar jika anak buahnya itu berhasil mencari keberadaan Zea.
Daniel yang mendengar hal itupun langsung pergi menuju markas El namun ia lebih dulu mengantar Dara kerumah sakit untuk menjaga Luna yang tidak sadarkan diri.
***
"Cepat lacak keberadaan Zea sekarang juga!" Perintah El, Wajahnya merah padam tidak ada lagi terlihat El yang lemah lembut juga penyayang. Singa itu sedang murka siap menerkam siapapun yang mengganggunya.
"Bos, Ada sinyal milik Leondra yang aktif tapi atas nama bigbos." Kata salah satu anak buah El yang bekerja khusus itu.
"Kalung papa yang dipakai Zea." Ucapnya pelan saat ia ingat hadiah ulang tahun Zea yang diberikan oleh alm. Pak Bram.
"Itu sinyal milik Zea. Cepat lacak keberadaannya." Kata El tegang dan tidak lama Daniel datang.
"El ini ulah Tommy, Ini rekaman cctv sekolah." Kata Daniel menyerahkan bukti rekaman pada El. Dan benar saja wanita yang dikira adalah bu Mela ternyata orang lain dan saat itu Zea langsung dibawa masuk kedalam mobil orang seorang pria yang menyamar menjadi supir.
"BAN*SAT!" Umpat El sangat marah, Ia bahkan melempar sebuah kursi kosong hingga hancur.
"Bos, Ini alamatnya." El dan Daniel langsung pergi ketempat itu membawa ratusan anak buah mereka.
***
Merasa frustasi Kenan menelepon Daniel, Niatnya ingin mengajak suami dari mantannya itu menemaninya minum sambil ia bercerita tentang penolakan Eriska namun Daniel tidak mengangkat teleponnya hingga ia menghubungi Dara untuk menanyakan Daniel.
"Ra, Daniel kerja? Kok aku telepon beberapa kali gak diangkat?" Tanya Kenan sambil berputar-putar dikursinya.
"Daniel sekarang lagi sama bang El. Zea di culik, Dan aku lagi nemani Luna dirumah sakit. Sampai sekarang dia belum juga sadarkan diri saat tau Zea diculik." Kata Dara menjelaskan keadaan darurat saat ini pada Kenan. Mendengar hal itu Kenan kaget dan langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Zea diculik? Ya udah aku bakal coba lacak hp Daniel dan nyusul mereka kesana." Kata Kenan bergegas pergi dari ruangannya dan kebetulan Eriska mengantar teh hangat kesana, Kenan tidak berpaling melihat atau menegur wanita itu seperti biasanya. Ia sudah tidak lagi memikirkan hal lain selain keselamatan Zea saat ini.
Bersambung.....
Selamat tegang berjamaah para kesayanganku 😘😘😘😘 jangan lupa vote, komen, like, rate n fav yaaaa love u all