
El tidak langsung kembali kerumah sakit. Ia lebih memilih melampiaskan kemarahannya pada samsak tinju. Digebuknya kuat samsak itu, Keringat sudah membasahi tubuhnya nafasnya pun ngos-ngosan namun ia enggan untuk berhenti. Daniel dan Rendy hanya diam menjadi penonton mereka tau apa yang sedang dirasakan El saat ini.
Bosan melihat El yang terus memukuli benda itu, Rendy melepaskan bajunya lalu memakai sarung tangan tinju.
"Lo mau ngapain bang?" Tanya Daniel mulai bingung melihat Rendy.
"Bosen gue ngeliat dia gak punya lawan." Jawab Rendy menghampiri El.
"Kenapa sih kalian itu selalu main otot? Gue tau badan kalian itu gede tapi gak melulu pake otot kan? Ngerasa kehina gue kalo kalian main otot gini " Sambar Daniel tidak terima, Ia juga berjalan menyusul El dan Rendy yang kini sudah berhadapan.
"Ayo lawan gue. Keluarin semua uneg-uneg lo, Lengah dikit gue kucurin darah lo dari hidung." Tantang Rendy, Ia ingin El mengeluarkan semua emosinya hingga hatinya tidak lagi sesak akan perbuatan Clara.
"Saat lo nunggu gue lengah, Gue udah lebih dulu bikin gigi lo rontok." Balas El menerima tantangan dari Rendy. El menyukai sikap Rendy, Wajarlah selama ini Daniel selalu lari jika El mengajaknya untuk adu kekuatan.
"Kalian tau gak? Secara gak langsung kalian itu lagi pamer, Dan kalian tau pamer itu gak baik juga dilarang agama karena pamer adalah sifat keji dari setan. Jadi kalo kalian masih mau jadi manusia STOP pamer otot dan nyombong depan gue. Tapi kalo kalian tetap pamer berarti kalian salah satu anggota setan yang perlu dijauhi." Kata Daniel panjang lebar namun tidak digubris sama sekali oleh El dan Rendy, Keduanya malah mulai melayangkan tinjuan masing-masing.
"Ish duo bangke emang! Dulu aja lo selalu nurut apa kata gue, Sekarang cuma karena ada orang baru yang badannya lebih gede dan tenaganya sebanding sama lo. Lo gak hirauin gue lagi, Oke fine its oke gak masalah." Celetuk Daniel yang duduk menonton sahabatnya dan kakak iparnya bermain tinju.
El dan Rendy saling bertukar tinju.....Beberapa kali tinjuan Daniel mengenai wajah Rendy membuat wajah putih yang dipenuhi cambang itu sedikit berwarna merah.
"Heran gue apa sih enaknya digebukin gitu? Gak sudi gue muka ganteng gini dimemar-memarin."
"Ini namanya hobi laki. Lo laki apa bukan?" Jawab El disela-sela permainan nya.
"Bangke! Lo sama gue siapa yang lebih laki? Disaat gue udah nyetak dua baby kembar lo masih tarik ulur sama Luna." Sontak Rendy berhenti dari permainan nya lalu melihat tajam kearah Daniel yang duduk.
"Ya.....Gak ada maksud apa-apa sorry, Kan gue udah sah jadi gak perlu sinis gitu dong lo liatnya." Sambung Daniel yang lagi.
"Kok lama-lama gue jadi pengen ngelawan lo ya?" Ucap Rendy sambil berkacak pinggang. Tubuhnya tidak kalah basah dengan tubuh El.
"Jangan, Dia sekarang udah punya banyak tanggung jawab. Lo gak mau kan ade lo jadi janda muda." Sahut El meraih botol minum.
"Sialan! Bangke lo El! Amit-amit jangan sampe, Mulut lo kurang ajar banget sih! Lo itu tipe orang yang hatinya mati dan otak tidak berfungsi." Bentak Daniel sambil berdiri berjalan kearah El. Puas membuat batin Daniel tersiksa El duduk istirahat melepaskan sarung tinjunya.
"Lo yakin Clara yang ada dibalik itu semua?" Tanya Rendy yang saat ini duduk disebelah El.
"Entahlah, Karena terkadang yang kita liat belum tentu sama dengan yang kita dengar. Begitu juga sebaliknya, Yang kita dengar belum tentu sama dengan yang kita lihat."
"Jadi alasan lo nyekap Clara?" Sambung Daniel yang ikut duduk disana.
"Gue perlu waktu untuk nyari tau kebenaran nya. " Jawab El ragu-ragu, Ia benar-benar bingung saat ini. Ia tau Clara tidak berbohong saat ini, Tapi ia juga tidak bisa langsung meyakini begitu saja hanya karena Clara terlihat jujur.
"Ngomong-ngomong lumayan juga rasanya." Ucap Rendy memegangi rahangnya yang terkena tinjuan El.
"Hmmmmm mulai lagi ngomongin otot! Udah ah mau balik ngantor gue. Karena gue perlu menafkahi istri dan anak-anak gue. Istri gue butuh uang buat beli berlian dan arisan anak-anak gue udah gue kreditin rumah masing-masing plus mobil dan isinya. Jadi gak ada waktu bersantai-santai kek kalian." Kata Daniel berdiri dan beranjak dari tempat itu meninggalkan Rendy dan El.
***
Luna sedang menggendong Zea ditemani ibu mertuanya. Bayi itu kini sudah sehat dan berada dalam satu kamar dengan Luna.
"Daddy pasti seneng banget kalo dia tau kamu udah keluar dari ruang perawatan." Ucap Luna tersenyum pada bayi perempuannya. El memang belum tau jika anaknya sudah keluar dari ruang perawatan dan tentu Luna juga sengaja tidak memberitahukan pada El.
Sedang asik berbincang dengan sang ibu mertua pintu ruangan terbuka membuat Luna dan bu Mela kaget, Mereka pikir itu adalah El yang datang ternyata bukan.
Pria itu masuk tanpa permisi membuat bu Mela bertanya-tanya siapa sosok pria tegap itu, Sedangkan Luna tau siapa yang datang berkunjung. Luna mendekap kuat anaknya, Takut jika pak Bram berbuat sesuatu.
"Itukah cucuku?" Kata pak Bram melihat kearah bayi yang sedang tidur nyenyak dalam dekapan ibunya. Wajahnya terlihat sangat marah mungkin karena ia tau bahwa anak El adalah seorang anak perempuan bukan laki-laki.
"Maaf bapak siapa ya?" Tanya bu Mela penasaran tentu ia penasaran mendengar pak Bram menyebut Zea adalah cucunya.
"Saya Ayah kandung El." Mendengar jawaban itu bu Mela benar-benar kaget sekaligus tidak percaya.
"Ayah kandung El? Maksud bapak apa? El anak saya!" Bantah bu Mela keras namun tidak digubris oleh pak Bram. Ia tetap fokus pada bayi yang ada di gendongan Luna yang saat ini sedang menangis terbangun karena haus.
Pak Bram terus mendekati Luna dan Zea yang makin nyaring menangis, Bu Mela pun langsung berjalan kearah yang sama namun anak buah pak Bram tiba-tiba masuk kedalam ruangan membuat Luna dan bu Mela benar-benar kaget dan takut jika pak Bram berbuat hal yang gila, Terlebih Luna tau jika pria paruh baya itu sangat menginginkan cucu laki-laki.
Anak buah pak Bram langsung menahan bu Mela dan menutup mulutnya agar tidak berteriak.
Dengan sangat mudah pria itu mengambil Zea dari pelukan Luna, Luna yang masih merasa sakit pada perutnya tidak bisa melawan banyak.
"Stttttt.......Jangan berteriak." Ancam pak Bram pada Luna, Membuat Luna menutup rapat mulutnya. Ia tau kemungkinan terburuk jika ia tidak mengikuti ucapan mertuanya itu. Luna hanya bisa berharap El cepat kembali.
Pak Bram melihat datar kearah Zea yang mulai berhenti menangis. Dalam hatinya terus menerus tidak terima kehadiran Zea karena bukan cucu perempuan yang ia inginkan.
Zea yang kini sudah tidak lagi menangis menatap kearah pria yang harusnya ia panggil kakek itu.
"Apa yang harus aku lakukan pada mu? Jelas aku menginginkan seorang cucu laki-laki kenapa malah kamu yang hadir?" Ucap pak Bram dalam hati. Seperti mengerti dan mendengar ucapan pak Bram bayi mungil dan cantik itu menggenggam jari kakeknya sambil menatap wajah datar dan dingin pak Bram.
Mata cerah, Bersih dan bersinar itu terus menatap wajah orang yang menggendongnya, Tangan kecil mungil itupun terus menggenggam jemari pak Bram membuat hati pak Bram yang awalnya keras tidak ingin menerima kehadiran Zea melemah.
"Siapa namanya?" Tanya pak Bram.
"Zea, Zea Naela Aurora." Jawab Luna ragu-ragu.
"Zea....." Ucap pak Bram mengulang, Tanpa sadar pria itu tersenyum lalu mencium pipi Zea membuat Luna dan ibu Mela kaget melihatnya.
"Semoga kamu menjadi anak yang pemberani seperti ayah dan ibu kamu." Ucap pak Bram lalu mengembalikan Zea pada Luna. Pak Bram lalu menyuruh anak buahnya melepaskan bu Mela yang sejak tadi dibungkam.
"Maafkan saya." Ucapnya lalu pergi dari sana tanpa mengucapkan apapun. Bu Mela langsung mendatangi Luna dan cucunya dengan perasaan khawatir.
"Bunda gak apa-apa?" Tanya Luna yang malah khawatir pada ibu mertuanya itu.
"Dia bener bun, Yang barusan datang adalah ayah kandung bang El." Ucap Luna pelan, Bu Mela masih bingung dan belum bisa menerima begitu saja kenyataan yang ada.
"Gak mungkin Lun, Bunda sendiri yang angkat El dari panti asuhan dan saat bunda tanya tentang keluarganya El bilang kalo dia yatim piatu gak punya siapa-siapa." Bantah bu Mela lagi masih tidak ingin percaya yang dikatakan menantunya.
"Luna juga kaget saat pertama kali tau kenyataan nya, Tapi itu semua emang bener. Pak Bram adalah ayah kandung dari bang El." Bu Mela terduduk lesu, Rasanya seperti menerima berita buruk yang membuatnya kehilangan semua tenaganya hingga tubuhnya terasa sangat lemah.
"Zea, Daddy datang." Ucap El yang baru datang membawa tas belanjaan, Entah apa yang baru ia beli untuk anak perempuannya. Ia baru tau dari dokter yang bertugas menangani anaknya jika Zea sudah keluar dari ruang perawatan. Mendengar berita itu El buru-buru keruangan Luna tidak sabar ingin segera menggendong bayi kecilnya.
"Loh bunda, Bunda kenapa?" Tanya El yang melihat ibunya terduduk lesu.
"Bang, Tadi pak Bram kemari. Dan bunda baru tau tentang hal ini." Ucap Luna menjelaskan pada suaminya. El berjalan pelan menuju bu Mela, Ia tau saat ini perasaan bu Mela pasti merasa dibohongi oleh El.
"El, Kita perlu nak." Kata bu Mela saat El ada didepannya. Bu Mela berdiri lalu mengajak El keluar dari ruangan itu, Ia ingin bicara dengan El sebagai seorang ibu dan anak.
"Maafin El bun." Kata El pelan dan menundukan kepalanya. Saat ini mereka berdua sedang duduk dikantin rumah sakit, Dan untungnya kantin rumah sakit sedang sepi saat ini.
"Apa dia beneran papa kamu?" Tanya bu Mela sekali lagi memastikan pada El. El mengangguk pelan, Anggukan yang serasa menusuk hati bu Mela. Airmata nya pun tidak bisa lagi ia tahan.
"Maafin El bunda, Maafin El. Bukan maksud El nutupi ini semua, Bukan maksud El bohong sama bunda dan ayah." Kata El yang langsung berjongkok didepan bu Mela sambil merebahkan kepalanya di pangkuan bu Mela.
"Papa El bukan orang yang baik, Dia bos mafia. Dia juga yang menyebabkan mama El meninggal. El gak mau hidup seperti itu, El gak mau jadi bagian dari hidup papa. El gak tau seandainya ayah dan bunda gak adopsi El mungkin El bakalan hidup kek papa kandung El sekarang ini. Orang tua El cuma ayah bunda, El gak mau yang lain. El sengaja gak bilang karena El takut ayah bunda gak jadi adopsi El waktu itu karena tau El adalah anak seorang mafia. Maafin El bunda, Maafin El." Katanya lagi, Tangis bu Mela makin pecah mendengar kisah hidup El yang sangat menyakitkan untuk anak seusianya saat itu. Diusapnya pelan kepala El yang ada dipangkuan nya saat ini.
"Sejak bunda dan ayah memutuskan mengangkat kamu sebagai anak kami. Ayah dan bunda gak perduli dengan latar belakang kamu. Dari mana asal kamu, Siapa orang tua mu, Dan bagaimana kehidupan kamu. Bagi kami berdua, Kamu adalah anak kami anak keluarga Wirayudha sampai kapanpun akan tetap seperti itu, Tidak ada yang bisa merubahnya." Kata bu Mela disela tangisnya, Bukan ia marah karena kebohongan El. Ia hanya takut jika suatu saat anak laki-lakinya itu pergi meninggalkan ia dan suaminya, Ia hanya takut jika suatu saat El menghilangkan nama keluarga yang kini melekat padanya. Ia tidak bisa dan tidak ingin kehilangan El.
"Maafin El bunda, Maafin El." Katanya masih berjongkok dihadapan ibunya. bu Mela memeluk El, Ia bahkan rela mengorbankan nyawa untuk anak laki-laki nya tersebut.
"Kamu anak bunda, Gak ada bisa merubah itu." Katanya menangis dalam pelukan El, El merasa benar-benar beruntung ia dikelilingi oleh orang-orang yang tulus mencintainya.
***
Daniel saat ini sedang bertugas diluar kantor bersama Jessy karyawan magang yang ada dibagian departemen nya. Jessy yang sejak tadi mencuri-curi pandang pada Daniel benar-benar terhipnotis oleh ketampanan ayah yang memiliki dua orang anak itu.
"Pak, Bapak gak bosen gitu mulu tiap hari?" Tanya Jessy pada Daniel. Mereka saat ini sedang berada disebuah cafe outdoor sedang menunggu klien untuk memperpanjang kontrak pekerjaan.
"Saya emang kenapa?" Tanya Daniel heran.
"Tiap hari bapak ganteng terus, Emang bapak gak bosen? Dan tolong aja kalo senyum dikondisikan, Soalnya senyuman bapak itu manis banget." Rayu Jessy sambil tertawa, Mendengar hal itu Daniel pun ikut tertawa. Jessy tipe gadis periang dan ceria, Ia juga banyak bicara membuat Daniel sering tertawa karena ucapannya.
"Kamu bisa aja sih, Pasti biar kontak kamu juga diperpanjang juga kan makanya ngomong gitu." Sahut Daniel sambil menyedot minuman nya.
"Loh, Serius saya pak. Udah cakep ganteng lagi ngerepotin saya banget sih bapak ini." Tambah Jessy, Daniel sebenarnya tau saat ini Jessy menggodanya namun ia tetap berusaha santai dan tidak menanggapi ucapan Jessy. Ia tidak ingin semua candaan dan perlakuannya disalah artikan oleh Jessy.
Daniel tersenyum saat melihat dua anak laki-laki yang sedang makan es krim dimeja sebelahnya.
"Bapak suka anak-anak ya?" Tanya Jessy lagi.
"Anak saya nanti kalo besar pasti seperti mereka." Kata Daniel sambil tersenyum.
"Maksud bapak?"
"Iya, Anak kembar saya. Umur mereka baru tiga bulan." Bukan tanpa alasan Daniel bicara seperti ini, Ia ingin menegaskan secara tidak langsung dan sopan pada Jessy bahwa ia sudah memiliki keluarga. Semenjak menikah Daniel lebih menghargai perasaan wanita, Ia tidak lagi seperti dulu yang semaunya menyakiti perasaan wanita.
"Ja......Jadi bapak udah punya anak?" Tanya Jessy tidak yakin. Daniel mengangguk lalu ia meraih hp miliknya dan memamerkan photo anak kembar juga istrinya pada Jessy membuat Jessy membisu sambil melihat ke layar hape Daniel.
"Ini istri saya, Namanya Dara. Dia seumuran sama kamu, Dan ini kedua anak saya. Mereka kembar namanya Davin dan Devan." Tambah Daniel menjelaskan pada Jessy membuat wajah Jessy yang sejak tadi tersenyum berubah murung.
"O....Oh, Bapak pasti sangat mencintai mereka." Kata Jessy berhenti menatap layar hp Daniel dan kini menundukan kepalanya enggan melihat kearah Daniel tidak seperti biasanya.
"Hmmmm.....Mereka nyawa saya, Mereka hidup saya. Tanpa mereka saya gak akan bisa hidup, Saya rela kehilangan apapun didunia ini asal jangan mereka bertiga." Ucapan Daniel seperti sebuah belati yang menikam pas didada Jessy membuat gadis itu nyaris meneteskan air matanya didepan Daniel.
"Maaf pak saya ke toilet sebentar." Kata Jessy lalu buru-buru pergi dari hadapan Daniel. Setelah Jessy pergi Daniel menghela nafasnya, Ia merasa tidak enak sebenarnya tapi ini memang harus ia lakukan agar Jessy berhenti.
**Bersambung.....
Hai kesayangan2 author yg baik hati 😘
Author mau kasih review sedikit nih tentang novel yang bakal rilis setelah Eluna end.....
Jadi ada beberapa novel yang author buat, Nah dari sekian banyak itu author mau bikin Perfect husband series.....Tapi author masih bingung yg mna yg bakalan duluan di rilis.
Hidden Beauty
Jadi ini ceritanya seorang perempuan yang ditinggal sama suaminya karena menurut suaminya dia itu sudah gak menarik lagi. Dan disaat resmi bercerai wanita itu memutuskan tidak akan menikah lagi dan akan fokus untuk membesarkan anaknya yang baru berusia 3 tahun. Tapi rencananya gagal saat bertemu pria kaya raya yang menjadi bos ditempatnya bekerja karena pria itu jatuh hati padanya dan terus mengejarnya. (genre dewasa dan romance)
Stuck on U
Kalo ini tentang cowok yang baru berumur 20 tahun yang jatuh cinta sama wanita berumur 28 tahun berstatus janda dan memiliki satu orang anak. Tentulah orangtua dari pria ini menentang keras keinginan anak tunggalnya tersebut untuk menikahi wanita itu. (Genre dewasa, Romance dan komedi)
Always you
Ini bercerita tentang seorang photographer yang dirundung rasa galau memilih antara dua wanita. Pertama wanita yang dipacarinya selama 4 tahun dan yang kedua adalah gadis yang merupakan adik dari sahabatnya sendiri yang berhasil menjungkir balikan dunia dan perasaan nya......(Genre Dewasa, Romance, Dan komedi ini juga sudah pernah author post ke w*****t dan lumayan laris ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤ karena emang konyol story nya.)
Kalian bisa kasih saran yg mana bakal dirilis untuk jadi seri perfect husband 2......
Atau lanjutin Khanaya I wanna love u?????