Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Kotak makan



Hubungan baik Luna dan El sudah berjalan selama dua bulan sebagai seorang kakak dan adik. El dan Luna juga merasa sama-sama nyaman dengan menjalaninya. Tentu tidak lagi ada rasa canggung antara mereka berdua. Mereka juga memutuskan menyembunyikan status pernikahan dari orang lain, Jika ada yang bertanya pada Luna tentang El maka ia akan menjawab kalau El adalah kakak sepupunya begitu juga dengan El.


Pagi ini Luna sudah mulai masuk kuliah, Luna sempat tidak ingin melanjutkan pendidikan karena biaya, Tapi setelah dibujuk El dan El menanggung semua biaya pendidikannya hingga selesai Luna akhirnya setuju dengan balasan El harus mengizinkan Luna ikut bantu-bantu mengurus rumah besar milik El. Selain bisa mengurangi pekerjaan bi Irah, Luna juga tidak ingin mrndapatkan semua bantuan gratis dari El tanpa ada usaha.


Awalnya El menolak karena memang ini sudah menjadi tanggung jawabnya, Tapi karena Luna memang seorang keras kepala mau tidak mau El meng-iyakan syarat yang diberikan Luna.


Luna sedang sibuk membuat bekal untuknya, Daripada membeli makanan dikantin akan lebih baik jika ia membuatnya sendiri.


"Nyiapin bekal buat siapa mba?" Tanya bi Irah penasaran melihat Luna.


"Buat saya sendiri bi, Daripada jajan dikantin kan lebih baik bawa bekal sendiri."


"Oh iya, Bener itu. Kirain buat mas El." Katanya lagi tersenyum.


"Bang El? Emang bang El mau makan bekal begini? Bukannya dikantornya ada kantin ya bi?"


"Ya jelas ada, Tapi yang namanya mas El gak pernah sama sekali makan dikantin. Kalo udah kerja dia sering lupa makan, Kadang cuma minum kopi aja."


"Apa sekalian buatin bekal aja ya buat bang El? Apa gak berlebihan? Tapi kalo entar gak dimakan?" Hati Luna mulai sibuk berdiskusi namun tangannya sudah langsung bekerja mengambil kotak makan kecil dan memasukan bekal untuk El kedalamnya.


"Loh mba Luna makannya dua tempat?" Tegur bi Irah yang melihat Luna membuat dua kotak makan.


"Hah? Ummmmm......Ini buat bang El. Ya sapa tau aja dia mau makan, Oh iya bi saya minta tolong ya kasih ini ke bang El soalnya saya mau berangkat cepat." Katanya menyodorkan kotak makan berwarna biru muda itu kedepan bi Irah.


"Mba Luna gak nunggu mas El biar sekalian dianterin sama mas El?"


"Ummmm......Gak usah bi. Biar saya naik bus aja, Ya udah kalo gitu saya kekamar dulu ya." Luna lalu pergi kekamarnya untuk bersiap pergi kekampus. Ini hari pertamanya kuliah jangan sampai ia terlambat itu sebabnya ia bangun pagi-pagi dan menyiapkan semuanya.


***


"Luna belum bangun bi? Kok tumben jam segini belum keluar kamar? Bukannya hari ini hari pertamanya masuk kuliah ya." Kata El yang sudah menikmati sarapan paginya.


"Justru sebaliknya mas, Mba Luna sudah berangkat ke kampus pagi-pagi banget." Jawab bi Irah duduk disamping El menemani El sarapan.


"Hah? Jadi dia udah berangkat? Kok gak ngasih tau saya? Naik apa dia ke kampus?" El memutar tubuhnya kearah bi Irah yang sedang memegang kotak makan milik El.


"Naik bus, Ini dia nitip bekal buat mas El." Kotak makan berwarna biru itu pun disodorkan kehadapan El. El mengernyit melihat kotak makan itu lalu membuka untuk melihat isinya.


"Ini dia yang masak? Buat saya?" El sedikit kaget saat melihat isi kotak makanan yang berisi beberapa potong norimaki shusi berbaris rapi didalamnya. El tersenyum lalu menutup kembali kotak makan itu.


"Ya udah entar saya telepon aja Lunanya. Makasih ya bi, Saya juga mau berangkat kekantor dulu.


***


Semua staf dan karyawan menyapa El saat memasuki kantor kecuali satu orang konyol yang malah mengikuti berjalan dibelakang El hingga sampai ke ruangannya.


"Lo ngapain ikut gue?" Tanya El meletakan kotak makannya dimeja.


"Lo.....Lo bawa bekal? Gue gak salah liat kan?" Tanya Daniel serius melihat kearah El. El yang baru sadar langsung menyembunyikan kotak makannya itu kedalam laci.


"Gak.....Ngapain lo pagi-pagi kesini?" Sahut El menepis rasa curiga dari Daniel yang matanya tidak lepas dari laci penyimpan kotak makanan milik El.


"El sebenernya apa sih yang lo sembunyiin dari gue? Gue rasa dua bulan terakhir ini sikap lo aneh. Tiap kali terima telepon dari rumah lo menghindar dari gue, Lo juga jarang banget sekarang keluar pulang kerja lo langsung balik kerumah. Ada apa sih sebenernya dirumah lo? Lo nyimpen apaan dirumah lo?" Ucapan Daniel sempat membuat El bingung harus menjawab apa, Tapi bukan El namanya kalau tidak bisa menjawab pertanyaan dari orang lain. Karena sikap cekatan itulah El bisa menjadi seperti sekarang.


"Nyembunyiin apaan? Gue cuma lagi gak minat aja ke klub. Lagian seminggu lagi acara ulang tahun perusahaan, Sebagai seorang CEO tau kan tugas gue gak cuma seneng-seneng doang." Jawabnya santai sambil membuaka beberapa map yang sudah menunggunya.


"Oh iya sampai lupa gue sama acara ulang tahun perusahaan." Daniel menepuk keningnya lalu duduk disofa.


" Terus lo masih mau buang waktu buat ngepoin hidup gue? Mending lo balik keruangan lo, Terus adaain meeting sama anggota lo buat bikin daftar tamu. Sekalian lo kirim undangan buat penyanyi solo yang lagi naik daun itu, Gue mau dia yang isi acara kita nanti."


"Oke, Siap bos." Dengan cepat Daniel pergi dari ruangan El melupakan semua pertanyaan dan kecurigaannya pada El sedangkan El menghela nafas panjang sambil melihat kelaci tempat ia menyimpan kotak makan dari Luna.


"Untung aja." Gumam El sambil memegangi dadanya. Karena sudah berjanji pada Luna untuk tidak mengungkap status hubungan mereka berdua walaupun terhadap Daniel sahabatnya sendiri ia tidak akan bicara sedikit pun. Bahkan cincin pernikahan mereka berdua tidak ia kenakan begitu juga dengan Luna.


El kembali melanjutkan pekerjaannya tidak lama hapenya berdering. Dilihatnya satu pesan diterima dari Luna, Ia langsung membuka pesan itu.


"Kenapa bang? Tadi aku dikelas." Isi pesan Luna untuk El. El langsung membalas pesan singkat dari Luna.


"Makasih bekalnya 😌" Jawab El pesan itu langsung dikirim pada Luna dan langsung dibaca Luna.


"Jangan lupa makan siang dan kurangi minum kopi." Balas Luna lagi, El tersenyum mengingat berapa lama ia sudah tidak membuka aplikasi chating di hapenya.


Kehadiran Luna dikehidupan El sedikit banyaknya membuat perubahan positif untuk El. Benar kata Daniel, Selama dua bulan ini El tidak pernah lagi menghabiskan waktu di klub malam. Ia juga tidak pernah lagi pulang lewat dari jam kantor. Waktunya banyak dihabiskan dirumah, Mungkin El tidak sadar tapi ia bertingkah layaknya seorang pria beristri yang sangat menyayangi istrinya.


***Bersambung dulu ya.......Nunggu like n komennya numpuk baru lanjut lagi.....


Btw ini udah hampir pertengahan chapter loh, Konflik di kehidupan El dan Luna juga sebentar lagi muncul. Makanya dukung terus biar tetap semangat lanjutin sampai END.......


Eh satu lagi, Nih ada photo bang El sama Daniel.......Hayoooo pilih yg mna***??