Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
Maaf dan Terimakasih.



"Untuk tugas akhir semester, Minggu ini kampus kita akan mengadakan explore di gunung lingai jogja. Pastikan kalian mendapat izin dari orang tua atau wali masing-masing. Selamat siang." Kata dosen yang mengisi dikelas Luna, Sontak membuat isi kelas ramai karena akan mengadakan tour ke luar daerah.


"Yey, Kamu ikut kan?" Tanya Dara antusias.


"Belum tau. Belum minta izin sama bang El." Jawab Luna santai. Pada saat yang bersamaan datang Andra kearah Luna saat ini.


"Ikut gue!" Katanya menarik paksa Luna untuk mengikutinya. Semua orang melihat itu termasuk Dara dan Queen.


"Woy lo apaan sih? Lepasin Luna!" Teriak Dara sambil mengejar tapi karena Andra menyeretnya sangat cepat hingga Dara tidak lagi melihat mereka berdua pergi kemana.


"Berandalan banget sih tu anak!" Celetuk Dara sambil celingak celinguk mencari Andra dan Luna.


"Siapa yang berandal? Luna aja yang sok pintar, So cantik dan selalu cari perhatian Andra." Jawab Queen ketus membuat emosi Dara makin jadi.


"Luna......Cari perhatian sama Andra? Si anak tengil dan berandal itu? Lo gak salah? Lo pulang sana ngaca baik-baik. Yang selalu nempelin Andra tuh siapa? Yang suka cari perhatian siapa? Padahal sering dicuekin tapi tetep aja nempelin, Apa gak gatel namanya." Balas Dara dengan senyum meremehkan pada Queen membuat Queen makin keki. Ia menarik kasar tangan Dara hingga mereka berdua berhadapan.


"Apa? Lo mau nampar gue huh? Lo pasti tau kan sabuk warna apa yang gue punya? Jadi jangan sekali-kali nyentuh gue dan Luna!" Ancam Dara sukses membuat Queen melepaskannya dan tidak jadi menamparnya.


Dara lalu pergi meninggalkan Queen yang terlihat murka padanya dan kembali mencari Luna yang entah dibawa kemana oleh Andra.


"Ryan, Ryan pasti tau kemana Andra ngebawa Luna. Dara segera berlari menuju kelas sahabat Andra untuk menanyai nya. Sesampainya disana Dara langsung masuk kekelas jurusan otomotif tanpa peduli sorakan dari para anak laki-laki yang ada disana.


"Dimana Andra?" Tanya Dara ketus dengan wajah merengut, Tapi tidak mengurangi kecantikannya.


"Andra? Mana gue tau dia kemana." Sahut jawab Ryan bingung karena memang sejak tadi ia belum melihat Andra.


"Lo kan temennya lo pasti tau kemana Andra bawa Luna."


"Andra bawa Luna? Dia ngebawa Luna kemana?" Melihat ekspresi Ryan yang kaget membuat Dara tau kalau Ryan tidak berbohong saat ini. Dara mengacak rambut panjangnya lalu pergi dari sana dan melanjutkan mencari Luna.


"Tunggu gue." Kata Ryan berlari menyusul Dara.


***


"Lepasin!" Berontak Luna melepaskan genggaman kuat tangan Andra dipergelangan tangannya.


Saat ini mereka berdua ada di atap gedung kampus, Dan hanya mereka berdua karena Andra mengunci pintu menuju atap.


"Apa mau kamu?" Tanya Luna kasar.


"Mau gue? Mau gue lo gak nyari masalah terus-terusan sama gue! Mau gue lo jangan terlibat hal apapun sama gue. Mau gue lo jauh-jauh dari gue!" Bentak Andra keras tapi tidak membuat gadis dihadapan nya itu takut.


"Siapa yang mengganggu siapa?" Sahut Luna datar dan dingin.


"Ternyata lo tipe orang pendendam." Kata El menyunggingkan senyum dibibir atasnya. Luna tidak menanggapi ucapan Andra, Ia berjalan meninggalkan Andra menuju pintu darurat ingin segera kembali kekelas namun Andra lebih dulu menahannya. Andra menarik Luna hingga membawa gadis itu dalam pelukannya, Kini mereka sangat dekat mata mereka juga saling menatap tajam satu sama lain hingga beberapa detik kemudian Luna langsung mendorong kuat tubuh Andra hingga ia terjatuh.


Luna langsung berlari menuju pintu darurat tidak peduli dengan Andra yang tidak terlihat. Saat ingin menarik gagang pintu Luna melihat kearah belakang, Ia tidak melihat Andra disana bahkan tidak mendengar suaranya. Luna penasaran lalu kembali ketempatnya tadi.


Mata Luna langsung membelalak lebar sambil menutup mulutnya saat melihat Andra saat ini.


Dengan cepat Luna menarik tangan Andra yang saat ini menggantung di ditepi gedung. Ia sedang berusaha bertahan agar tidak terjatuh.


"Pegang tanganku." Kata Luna mengulurkan tangannya, Andra melihat kearah Luna dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Antara ingin menerima bantuan Luna tapi juga menjaga gengsinya.


"Cepat, Kamu mau jatoh kebawah?" Kata Luna meyakinkan Andra agar segera meraih tangannya. Andra melihat kearah bawah membuat jantungnya seketika mengecil sambil bergidik, Jelas saja ini gedung 5 lantai dan saat ini ia menggantung ditepi atap.


Untuk pertama kali Andra melupakan harga dirinya. Ia berusaha meraih tangan Luna namun tidak sampai.


"Dikit lagi." Kata Luna berusaha memanjangkan tangannya tapi tidak juga bisa meraih tangan Andra.


"Gue gak bisa nahan lagi." Kata Andra, Pegangannya ditepi gedung makin melonggar. Dengan cepat Luna berdiri lalu melepaskan jaket jeans yang ia kenakan dan mengulurkannya pada Andra.


Andra yang sudah tidak bisa lagi bertahan langsung menangkap jaket itu, Ditariknya kuat tubuh Andra yang menggantung dijaket tersebut. Perlahan tubuh Andra naik hingga ia bisa memanjat pinggiran gedung dan syukurlah kini Andra selamat.


Luna yang kelelahan langsung duduk kehabisan tenaga begitu juga Andra yang langsung terbaring ditempat itu juga. Sambil berbaring ia melihat kearah Luna yang sibuk mengatur nafas. Tangan gadis itu merah nyaris terkelupas karena gesekan kain jeans yang ia tarik.


Setelah nafas Luna kembali teratur ia meraih jaket yang tadi dipakai sebagai tali, Jaket itu sedikit robek karena tarikan yang kuat. Lalu berdiri menuju pintu dan ingin segera pergi dari tempat itu.


Namun masalah kembali terjadi saat Luna menarik gagang pintu yang terbuat dari lembaran besi itu.


"Ke......Kenapa ini? Kok gak bisa dibuka." Kata Luna mulai panik ia terus menarik gagang pintu itu berulang kali namun hasilnya sama, Pintu tidak mau terbuka. Melihat itu Andra berdiri dan menghampiri Luna yang masik berusaha membuka pintu.


Andra kini mengambil alih, Ia menarik kuat gagang pintu bahkan mendobrak dan menendangnya namun pintu itu tidak juga terbuka.


"Kok gak bisa dibuka gini sih." Celetuk Andra sambil terus berusaha. Melihat Andra yang tidak juga bisa membuka pintu itu membuat Luna putus asa. Ia hanya bisa duduk bersandar saat ini.


"Percuma, Pintunya pasti rusak." Kata Luna lelah. Andra langsung merogoh sakunya mencari hape.


"Ah sial batrei gue habis lagi! Coba lo telepon temen lo." Kata Andra menyuruh Luna yang duduk beristirahat.


"Kamu gak liat aku gak bawa apa-apa? Masukin buku kedalam tas aja gak sempat apalagi bawa hape. Dan itu karena siapa?" Balas Luna yang terlihat kesal. Andra diam karena ini semua memang salahnya.


"Ya udah gak usah ribut. Ini bukan waktu yang tepat untuk ribut, Sekarang pikirin gimana caranya kita bisa keluar dari sini." Kali ini Andra mengalah pada Luna selain ini karena kesalahannya, Hari ini Luna juga sudah menyelamatkan nyawanya.


"Lo teleponin terus nomernya Andra." Kata Dara menyuruh Ryan yang sejak tadi menghubungi Andra namun tidak bisa tersambung.


"Dari tadi juga gue udah neleponin dia tapi gak bisa nyambung." Jawab Ryan sambil terus berusaha menghubungi Andra.


"Luna gak bawa hape emang?" Dara langsung mengeluarkan hape Luna dari dalam sakunya.


"Gara-gara temen lo nyulik Luna dia gak sempat bawa hapenya." Jawab Dara ketus membuat Ryan serba salah menghadapi gadis galak didepannya ini.


"Gak nyulik juga kali. Paling mereka lagi ngomong, Ada yang dibahas."


"Iya kalo cuma ngomong. Kalo Luna diapa-apain sama Andra. Andra itu kan orang yang kasar, Berandalan, Tengil jahat juga sama Luna." Sejak awal pencarian hingga hampir satu jam mereka terus berdebat tidak berhenti.


Saat Dara ingin kembali mencari Luna, Hape Luna berdering dengan cepat Dara menerima panggilan telepon itu.


"Hallo Luna, Abang di depan." Kata El yang sudah menunggu Luna didepan kampus.


"Bang.... Bang El, Luna......"


"Luna kenapa?" Sambar El cepat sebelum Dara menyelesaikan ucapannya.


"Lu......Luna gak tau ada dimana. Kita udah nyari selama satu jam tapi gak ketemu." Jelas Dara membuat El langsung turun dari mobilnya. Ia mematikan sambungan telepon lalu mencari Luna.


***


"Maafin gue." Kata Andra yang kini juga sudah duduk pasrah disamping Luna.


"Maaf untuk semua perbuatan gue selama ini. dan makasih karena udah nyelamatin hidup gue hari ini." Tambah Andra lagi, Kini tidak terlihat keangkuhannya seperti biasa saat bertemu Luna.


"Maafin aku karena ngedorong kamu dan buat kamu hampir jatuh dari atas gedung ini." Balas Luna membuat Andra tersenyum kaku. Ia tidak menyangka jika hari ini ia akan menyudahi perang dinginnya dan Luna yang terjadi cukup lama. Dari tempat Andra dan Luna terdengar suara El m, Dara dan Ryan berteriak memanggil nama mereka berdua. Luna dan Andra langsung berdiri dan menggedor pintu sambil berteriak agar mereka tau keberadaan Luna saat ini.


"Disini, Dara, Bang El." Teriak Luna memukul pintu sekeras mungkin. Andra yang melihat tangan Luna merah dan hampir berdarah karena menariknya ditambah menggedor kuat pintu darurat menghentikannya.


"Pakai ini, Suaranya lebih nyaring." Kata Andra mengambil jaket Luna dan memakai kancing-kancing jaket untuk menghasilkan suara lebih nyaring.


"Ryan, Gue di diatas." Teriak Andra sambil memukulkan kancing jaket Luna membuat suara bising terdengar nyarik. Tidak lama terdengar suara langkah kaki berlarian kearah mereka.


"Lun.....Luna...." Panggil El menggedor pintu.


"Bang, Ini aku Luna. Pintunya macet gak bisa kebuka." Jelas Luna pada El yang sedang berdiri diluar.


"Kamu jauh dari belakang pintu." Kata El memberikan aba-aba. Setelah Luna beranjak dari sana El langsung mendobrak kuat pintu itu hingga beberapa kali dan akhirnya pintu terbuka. El yang sudah sangat khawatir memeluk Luna tidak perduli dengan bahunya yang lecet dan berdarah karena terus mendobrak pintu besi itu dengan kuat hingga terbuka.


"Kamu gak apa-apa?" Tanya El masih memeluk Luna.


"Mmmmm......Aku gak apa-apa, Untunglah abang cepat datang." Kata Luna ia melihat kearah bahu El yang terluka. Lagi-lagi rasa bersalah hinggap dihati Luna tiap kali Luna selalu membuat El terluka.


"Dra, Lo gak apa-apa?" Tanya Ryan yang baru saja tiba menghampiri mereka bertiga.


"Luna......" Teriak Dara berlari kearah Luna lalu memeluk Luna erat.


"Kamu gak apa-apa kan? Eh kalo mau ngomong kira-kira dong. Ini sama aja namanya nyulik!" Bentak Dara langsung menyemprot Andra. Saat itu juga El langsung melihat tajam kearah Andra yang berdiri didekat Ryan.


"Udah Ra, Aku gak apa-apa kok. Kita keluar pulang sekarang yuk." Ajak Luna menghentikan Dara, Andra hanya diam sambil menatap Luna. El langsung membawa Luna pergi sana meninggalkan Andra dan Ryan.


"Syukur bang El bisa nemuin kamu. Aku udah keliling kampus satu jam lebih nyariin kamu." Kata Dara yang terlihat sangat menghawatirkan Luna.


"Kalian tunggu dimobil sebentar ya." Kata El saat mengantar Luna ke mobil. Lalu ia pergi meninggalkan Luna dan Dara.


***


El melihat Andra yang sedang minum bersama Ryan. Ia langsung menghampiri dua pemuda itu.


"Bukkkkkkhhh...." Sebuah tinjuan keras melayang kewajah Andra menyebabkan pria itu hampir terjatuh.


"Woii bang, Jangan gitu dong bang." Helat Ryan yang menyaksikan didepan matanya sendiri sahabatnya ditinju El.


"Gue peringatin sama lo, Ini terakhir kalinya gue ingetin. Berhenti bikin masalah sama Luna atau lo tau akibatnya." Kata El, Lalu pergi dari sana dengan emosi yang hampir meledak. Untung Luna dalam keadaan baik, Jika seandainya Luna terluka mungkin El akan segera menghabisi Andra saat ini juga.


"Bro.....Lo gak apa-apa kan?" Tanya Ryan pada sahabatnya itu. Andra memegangi sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar itu.


"Gue gak apa-apa." Kata Andra yakin.


"Bar-bar banget sih abangnya Luna." Tambah Ryan saat melihat punggung El makin menjauh.


"Malam ini gue numpang di kost lo dulu ya." Ucap Andra, Karena sangat tidak mungkin jika Andra pulang kerumah orang tuanya dengan wajah biru lebam seperti saat ini. Apalagi jika sampai ayahnya tau jika ia baru saja bermasalah dengan El, Pasti ayahnya akan sangat murka padanya.


Bersambung........


Author minta Like, Komen n Vote yang banyak biar tetap semangat nge-up. Jgn cuma baca doang habis itu langsung out tanpa jejak, Okey......