
"Dari hasil pemeriksaan, Rahim bu Luna mengalami masalah karena terinfeksi racun 7 tahun lalu. Racun itu mempengaruhi hormon dan kesuburan rahim bu Luna dan mengakibatkan rahim mengering. Bukan tidak mungkin untuk kalian bisa mendapatkan keturunan kembali, Namun peluang itu sangat kecil kemungkinannya." Mendengar hal itu Luna merasa sangat kecewa, Betapa sakit hatinya saat dokter mengatakan ia tidak bisa lagi melahirkan seorang anak. Sedangkan El berusaha membuat Luna tegar, Ia tau Luna sangat menginginkan seorang anak terlahir kembali namun lagi-lagi takdir memiliki rencana sendiri.
"Bagaimana dengan bayi tabung dok?" Tanya El menyarankan cara lain.
"Rahim bu Luna sulit untuk memproduksi sel telur sehat dan berkualitas hingga tidak bisa dibuahi. Saya sarankan untuk kalian agar tidak terlalu stres, Lelah dan selalu mengkonsumsi makanan yang sehat juga selalu berfikiran positif karena kami hanya menjalankan tugas kami sebagai Dokter, Keputusan terakhir tetap pada yang maha kuasa, Terus berdoa dan berusaha adalah obat yang sangat baik." El dan Luna akhirnya mengerti, Mereka lalu berpamitan pada Dokter tersebut dan meninggalkan Rumah Sakit.
"Sayang....." Panggil El saat mereka dalam perjalanan pulang, Luna yang sejak tadi hanya diam membuat El merasa sedih saat melihat istrinya nya itu.
"Hmmmmmm......" Sahut Luna singkat.
"Jangan sedih, Lagipula kita sudah punya Zea, Bahkan kita memiliki dua anak laki-laki sekaligus Davin dan Devan mereka juga anak-anak kita." Ucap El meraih tangan istrinya. El pun sebenarnya menginginkan seorang anak laki-laki dalam kehidupan mereka namun jika memang seperti ini maka ia tidak bisa memaksakan kehendak.
"Mmmmm......Mereka semua anak-anak kita." Sahut Luna tersenyum pada El seolah santai dan biasa saja menyembunyikan rasa kecewanya agar El tidak memikirkannya perasaannya saat ini. Padahal El tau benar bagaimana perasaan Luna.
El mengantar Luna pulang kerumah lalu ia kembali ke kantor karena masih banyak tugas yang harus ia selesaikan.
***
Saat ini Devan sedang berada di ruang guru BK karena memukul Bintang, Kakak kelasnya.
"Saya gak terima pak anak saya dipukuli seperti ini, Anak liar ini harus dikasih hukuman yang setimpal!" Ucap orangtua Bintang yang datang ke sekolah. Ia terlihat sangat marah melihat keadaan anaknya seperti saat ini dan itu semua karena Devan.
"Devan, Ceritakan sama bapak apa alasan kamu memukul kakak kelas kamu?" Tanya guru BK yang menangani kasus ini.
"Dia yang salah, Dia selalu minta uang sama ade-ade kelas kalo gak ngasih mereka bakalan ngerjain dan mukulin. Tante lain kali kasih dia uang jajan yang cukup biar gak malakin orang." Sahut Devan santai, Devan memang tipe anak yang tidak ingin mengalah jika ia benar. Anak ini cukup keras kepala di banding saudara kembarnya.
"Kamu lancang sekali bicara seperti itu! Kamu gak tau Bintang itu siapa? Jangan memfitnah anak saya dengan alasan uang jajan. Anak saya selalu mendapatkan lebih dari yang dia inginkan. Kamu itu masih kecil, Tapi cara bicaramu kurang ajar sama yang lebih tua. Apa orangtua kamu gak bisa ngedidik kamu?!"
"Bu harap tenang, Ini lingkungan sekolah. Tolong jaga ucapan anda. Saya sudah memanggil orangtua Devan untuk kemari, Mohon untuk bersabar." Kata guru BK menegur orangtua Bintang yang terlihat sangat emosi dan marah pada Devan.
Tidak lama menunggu Dara datang ke sekolah anaknya. Ia menghampiri Zea dan Davin yang setia menunggu Devan di dalam sana sebelum ia masuk ke ruangan guru BK.
"Devan kenapa bang?" Tanya Dara pada Davin yang duduk di samping ruangan itu.
"Ini salah Zea bunda, Devan berantem karena belain Zea." Sahut Zea lebih dulu sebelum Davin menjawab. Dilihatnya wajah gadis kecil itu tertunduk dengan rasa bersalahnya karena menyebabkan Devan sampai dipanggil ke kantor.
"Udah gak apa-apa, Bunda gak marah kok sayang. Bunda cuma pengen tau kejadian yang sebenarnya, Sekarang ceritain semua sama bunda ya biar bunda bisa bantu Devan." Ucap Dara lemah lembut agar Zea tidak lagi merasa bersalah.
Davin dan Zea langsung menceritakan semuanya dari awal hingga Devan bisa bertengkar dan memukuli Bintang. Zea juga memperlihatkan luka di kedua lututnya karena ulah Bintang. Dan setelah mendengar semua cerita dari kedua anak itu Dara baru masuk ke dalam ruangan.
"Selamat siang, Maaf terlambat." Ucap Dara sopan.
"Silahkan duduk." Sahut guru tadi mempersilahkan Dara duduk disamping orangtua Bintang. Devan menunduk tidak berani menatap wajah ibunya saat itu, Ia takut jika Dara marah padanya.
"Anda orangtua dari anak berandalan ini?!" Tanya ibu dari Bintang, Cukup kasar namun Dara tetap berusaha sabar.
"Benar saya ibunya, Dan tolong jangan sebut anak saya seperti itu. Dengarkan baik-baik antara kedua belah pihak jangan hanya membela dari sudut pandang anda." Sahut Dara yang sebenarnya merasa mulai kesal.
"Harap tenang, Saya sudah bilang ini sekolahan tolong jaga ucapan ibu." Kembali guru BK tadi mengingatkan pada ibu Bintang.
"Jadi begini bu, Menurut Bintang. Devan memukulinya saat jam istirahat dan itu terjadi di belakang sekolah. Teman-teman Bintang juga melihat kejadian itu dan mereka langsung melapor kepada saya. Saya sudah coba bertanya pada dua belah pihak yang bersangkutan namun seperti yang kita tau bahwa anak-anak pada dasarnya memang sulit untuk mengakui kesalahan mereka masing-masing." Ucap guru Bk bernama pak Frans.
"Ya jelas anak itu lah yang bohong gak mungkin anak saya bohong. Bintang itu anak yang pintar dan penurut dia juga gak bisa bohong sama orang tua. Emang anak situ aja yang cari gara-gara kurang didikan dari orang tua. Wajar sih ya kalo diliat-liat ibunya aja masih muda banget terus anaknya udah umur sigini, Keliatan banget kan kalo itu semua terjadi karena kecelakaan yang disengaja." Ucap orangtua Bintang yang makin kasar.
"Anda jaga ucapan baik-baik. Kualitas diri anda terlihat dari cara bicara anda yang tidak sopan. Anda memang lebih tua dibanding saya, Dan saya lebih muda dari anda tapi itu hanya sebatas perbedaan angka namun secara sopan santun dan adab saya rasa pak Frans pun bisa menilai. Kalo memang anda merasa anak saya yang bersalah mari sama-sama kita lihat rekaman cctv tadi pagi di lobi sekolah. Dan kamu (Menunjuk kearah Bintang yang langsung berlindung dibalik tubuh ibunya) Kamu tau apa hukuman yang tepat dari sekolah jika terbukti kamu yang bersalah? Belum lagi saya sebagai orang tua dari Devan menuntut karena tidak terima dengan tindakan dan ucapan anda pada anak saya dan saya sendiri yang sangat merendahkan harga diri saya." Sahut Dara membuat semua orang bungkam termasuk pak Frans yang tidak tau harus mengatakan apa lagi karena kagum akan sifat Dara yang elegan dan dewasa.
"Ka......Kamu pikir kamu siapa? Kamu gak tau siapa saya? Jangan sampai saya panggil suami saya datang kemari dan menendang anak-anak kamu keluar dari sekolah ini! Suami saya memiliki saham disekolah ini.jadi jangan main-main!" Ancam ibu Bintang makin tidak terima dengan ucapan Dara. Mendengar hal itu Dara hanya tersenyum menyunggingkan sudut bibirnya.
"Anda terlalu lemah untuk melawan saya hingga anda meminta pembelaan dan perlindungan dari suami anda yang kaya raya dan memiliki saham di sekolah ini. Saya ingatkan, Ini hanya masalah anak-anak dan kita sebagai orang orangtua cukup memberi masukan untuk mereka agar tidak lagi melakukan hal-hal yang tidak baik. Dan satu lagi, Sebaiknya anda belajar untuk menjadi sahabat anak anda sendiri agar anda benar-benar bisa tau dan faham bagaimana karakter dan sifat anak saat di rumah dan di luar rumah karena tidak menutup kemungkinan saat dirumah anak akan terlihat sangat pintar sedangkan saat diluar mereka bertindak semaunya." Tambah Dara membuat orangtua Bintang makin kesal dan marah pada Dara.
"Ingat, Umur kita memang berbeda tapi kedudukan kita sama. Sama-sama wanita dan sama-sama seorang ibu." Sahut Dara datar dan wajah yang mulai marah.
"Ibu-ibu saya mohon, Ini semua bisa dibicarakan dengan baik. Tolong jangan bersikap seperti ini." Ucap pak Frans makin bingung mengendalikan dua wanita ini.
"Maaf pak, Bukannya saya bersikap tidak sopan dan enggan untuk menyelesaikan masalah ini. Tapi daripada harus terus menerus bicara pada orang yang nyata tidak memiliki adab lebih baik anda lihat rekaman cctv di lobi pagi ini, Disana semua sudah jelas siapa yang salah. Saya permisi pak, Selamat siang dan maaf atas sikap saya. Ayo Devan kita pulang." Dara menarik tangan anaknya yang sejak tadi hanya diam kagum dengan sosok ibunya itu. Selama ini Dara menjadi ibu yang baik serta ceria di mata anak-anaknya juga tegas jika anak-anaknya melakukan kesalahan namun hari ini Dara bersikap seperti seorang ayah bagi Devan.
Dara juga membawa Davin dan Zea pergi dari sana karena memang mereka sudah waktunya pulang sekolah.
"Zea ikut bunda ya, Nanti biar di jemput daddy pas daddy pulang kerja." Ucap Dara tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. Mereka langsung ke mobil dan segera pulang kerumah Dara.
"Kamu gak apa-apa?" Tanya Zea pada Devan melihat wajah Devan terluka lebam. Mereka duduk di kursi belakang sedangkan Davin duduk disamping ibunya.
"Gak apa-apa, Udah biasa. Kalo lagi latihan sama om Rendy juga memar begini." Sahut Devan santai tidak merasa sakit.
"Maafin aku ya, Gara-gara belain aku kamu dipukulin sama mereka." Kata Zea merasa sangat bersalah, Sedangkan Dara tersenyum mendengar percakapan kedua anaknya itu.
"Siapa bilang gara-gara kamu? Aku mukul mereka karena mereka juga malakin uang jajanku bukan karena ngebelain kamu." Jawab Devan dengan wajah cuek tidak tau menahu membuat Zea kesal dan berteriak.
"Bunda...... " Teriak Zea nyaring membuat Devan menutup kedua telinganya.
"Devan....." Tegur Dara sambil tertawa begitu juga dengan Davin.
"Iya-iya, Gitu doang mau nangis dasar cengeng." Celetuk Devan lagi, Dan sangking kesalnya Zea akhirnya benar-benar menangis.
"Devan, Jangan usil gitu dong sama adenya. Zea jangan nangis ya sayang, Kita mampir ke mini market dan beli es krim mau gak?" Mendengar bujukan dari Dara, Tangis Zea berhenti saat itu juga.
"Mau......" Sahut Zea mendadak ceria membuat Devan mengernyit.
***
El yang saat ini sudah berada dikantor menelopon Luna agar tidak larut memikirkan diagnosa Dokter, Ia tidak ingin hal itu malah mempengaruhi kesehatan istrinya.
Tok.....Tok.....Tok.....
Tidak lama Daniel masuk El pun segera mematikan sambungan telepon.
"Tumben lo sopan, Biasanya gak tau sopan santun dan minim adab lo." Ucap El mengkomentari sikap Daniel.
"Manusia kek lo emang bangke, Salah gue dimana kalo gue sopan? Udah gak usah banyak omong, Nih tanda tangan." Ucap Daniel meletakan selembar kertas yang di bungkus map berwarna coklat. El membuka dan membaca isi map tersebut lalu menanda tanganinya.
"Eh gue inget siapa pacarnya bang Rendy." Kata El menghentikan langkah Daniel yang sudah berada di depan pintu.
"Si Jessy anak magang di bagian departemen lo kan? Yang dulunya suka ngegombalin lo dan nembak lo terang-terangan terus sempat ngotot pengen jadi selingkuhan lo dan akhirnya dia resign padahal kontraknya di perpanjang." Jelas El secara mendetail sambil mengolok Daniel, Membuat Daniel serasa ingin menyumpalnya dengan lembaran kertas yang ada ditangannya.
Dengan cepat Daniel kembali dan membungkam mulut El dengan tangannya hingga El tidak bisa bicara lagi.
"Apaan sih lo bangke!" Bentak El kesal sambil melepaskan tangan Daniel dari mulutnya.
"Lo yang bangke! Kalo emang udah inget ya diem aja gak usah banyak omong kek kucing lapar! Lo mau bikin konflik baru di kehidupan gue biar rame gitu?" Mendengar hal itu El tertawa puas.
"Gila ya, Sumpah nyesel banget gue karena baru inget sama dia. Terus gimana istri lo tau kalo Jessy itu dulunya fangirl lo?"
"Lo lama-lama makin bangke tau gak! Kalo sampai Dara tau semua cerita itu, Gak salah dan gak lain itu semua dari mulut busuk lo! Udah males gue ngeladenin orang gila kek lo!" Ucap Daniel kesal lalu pergi dari ruangan El dengan wajah masam.
"Sialan gue dibilang gila. Gila-gila gini gue bos lo bangke!" Celetuk El tidak terima dengan ucapan Daniel padahal jelas dan nyata bahwa ialah yang lebih dulu membuat keributan.
Bersambung......