Perfect Husband (El & Luna Series #1)

Perfect Husband (El & Luna Series #1)
lo bangke!



"Fix, tiga hari kedepan lo jadi anak buah gue. Gak ada protes dan kata ENGGAK. Sampai faham nona Leondra?" Ucap Dave tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Zea serasa ingin mencekik leher pria itu saat ini juga karena kelahannya.


"Udah santai aja, hari ini belum mulai kok. Tapi besok lo harus siap kapanpun dan dimana pun."


"Ta.....tapi, besok kan kita kuliah. Bisa gak kalo dikampus taruhannya kita lupain dulu." Tawar Zea dengan wajah mengiba dan bola mata berbinar seperti seekor anak kucing, berharap jika Dave bermurah hati memberikan sedikit keringanan.


"NO!" Sahut Dave singkat, padat, jelas dan tegas membuat Zea serasa ingin menghajar pria ini dengan semua jurus yang diajarkan oleh daddy dan om Rendy nya.


"Mimin, ayo jalan." Ucap Dave tersenyum puas.


"Bentar, bang Davin nelepon." Sahut Zea ketus sambil menerima telepon dari Davin.


"Hallo." Sahut Zea masih dengan nada ketus membuat Davin kaget.


"Ze, jutek banget kenapa?" Tanya Davin bingung. Zea menarik nafas dalam mencoba mencari udara segar agar rasa kesalnya sedikit berkuarng.


"Hallo bang, sorry bukan niat aku jutek sama abang. Tanpa dijelasin abang pasti tau apa alasannya kan?" Kata Zea lebih sedikit santai. Davin tertawa mendengar hal itu, siapa lagi orang yang bisa membuat emosi Zea meluap hingga ubun-ubun kalau bukan Dave dan Calla. Berhubung Calla tidak sedang bersama Zea maka sudah pasti pelaku utama adalah saudara kembarnya yaitu Dave.


"Iya tau, entar abang giling si Dave dalam mesin cuci biar mulutnya bersih dan omongannya gak nyakitin lagi. Oh iya, kamu udah selesai belanjanya?"


"Udah bang, kenapa?"


"Ummmmm....Bisa kesini gak? Bantuin kita belanja bajunya."


"Belum selesai emang?"


"Belum dapat satupun hehehe."


"WHAT? SATUPUN BELUM DAPAT? DARI TADI NGAPAIN AJA?" Kata Zea dengan nada yang sudah tidak tau lagi bagaimana gambarannya, bahkan Davin menjauhkan hp itu dari telinganya sambil memicingkan kedua mata.


"A.....abang bisa jelasin, i...ini sulit, apalagi kita berdua sama-sama cowok jadi gak bisa milih baju untuk anak-anak dan bayi. Tolonglah kami yang tidak berdaya, kami berdua hanyalah dua manusia tampan yang tidak mengerti memilih baju untuk anak dan bayi." Sahut Davin membuat emosi Zea yang tadinya sedikit berkurang kembali memuncak.


"KALIAN BERTIGA MINTA DIMAKI. Ya udah tunggu disana! Aku antar belanjaan kemobil dulu entar baru balik lagi." Jawab Zea yang akhirnya mau tidak mau harus kembali pilih memilih.


"Lama banget sih, apa kata Davin?" Tanya Dave menghampiri Zea yang sudah mulai beranjak.


"Buruan anter barang kemobil habis itu datangin bang Davin ketoko baju." Sahut Zea singkat sambil berlalu dari Dave.


"Yang menang taruhan gue kan? Kok malah dia yang kek bos?" Kata Dave bicara pada diri sendiri lalu menyusul Zea.


***


Setelah memasukan semua barang kedalam mobil, mereka berdua kembali masuk kedalam mall untuk menghampiri Tian juga Davin.


"Akhirnya penolong kita datang juga." Ucap Davin menyambut kedatangan Zea dan Davin. Tidak perduli dengan wajah masam kedua orang itu.


"Beneran belum ada belanja satupun baju?" Tanya Zea saat melihat keranjang belanjaan Tian dan Davin masih kosong.


"Belum." Sahut Davin dan Tian secara bersamaan.


"DARI TADI NGAPAIN?!" Tanya Zea kembali meninggikan suaranya membuat semua pengunjung toko melihat kearah mereka berempat. Dave langsung pergi menjauh dari gadis itu dan pura-pura tidak mengenal sekumpulan anak muda tersebut sedangkan Davin langsung membungkam mulut Zea dengan tangannya.


"Jangan malu-maluin astaga, gini amat punya ade cewek." Ucap Davin sambil melepaskan tangannya dari mulut Zea.


"Ya habisnya ngeselin gitu coba! Sini keranjangnya." Sahut Zea mengambil keranjang belanjaan yang dipegang oleh Davin lalu pergi meninggalkan dua pria itu.


"Dia emang judes, tapi baik." Bisik Davin pelan ditelinga Tian membuat Tian tersenyum menatap Zea yang sudah mulai memilih beberapa pakaian bayi.


Tian langsung bergerak menghampiri Zea dan membantu gadis itu memilih beberapa lembar baju dan celana untu bayi.


"Ini bagus gak? Lucu ya ada bonekanya." Ucap Tian memamerkan sebuah baju bayi perempuan berwarna pink.


"Iya, baju anak cewek lucu-lucu emang. Duh, rasanya pengen beli buat dipakein ke Twity." Sahut Zea tersenyum gemas.


"Twety siapa?"


"Twety, kucingku." Jawab Zea tertawa dan sontak Tian juga ikut tertawa.


"Hamil berapa minggu de? Kok udah belanja baju bayi?" Tanya seorang wanita paruh baya.


"Hah? Maksud tante?" Tanya Zea kaget mendengar pertanyaan wanita tersebut.


"Kalo tradisi tante, sebelum tujuh bulan sebaiknya jangan beli baju atau perlengkapan bayi dulu. Kata orang tua zaman dulu, pamali." Tambahnya lagi menasehati Tian juga Zea, membuat dua orang anak muda itu terlihat bingung dan saling melempar tatapan.


"Ja.....jadi gini lho tant...."


"Ibu, ibu disini?" Ucap seorang wanita yang sedang hamil besar, menghentikan ucapan Zea yang baru saja ingin menjelaskan jika pakaian bayi yang mereka beli untuk disumbangkan. Wanita hamil tersebut berjalan berat kearah wanita tua yang sedang mengobrol dengan Zea dan Tian.


"Udah belanjanya?" Tanya wanita paruh baya tadi pada wanita hamil tersebut.


"Udah, ibu ngapain disini?"


"Gak apa-apa, lagi ngobrol aja sama pasangan suami istri ini. Mereka lagi beli baju untuk calon bayi mereka." Ucapan wanita paruh baya tersebut seolah seperti sebuah serangan mendadak dari lawan sebelum Zea siap dan mengakibatkan gadis itu jauh terpental dan tersungkur malu.


"Ya udah kalo gitu tante duluan ya. Jaga kesehatan, jangan sampai terlalu lelah kandungan kamu masih sangat muda sepertinya." Tambah wanita tadi sambil mengusap perut datar Zea membuat Zea kaget dan langsung melangkah mundur.


"Jaga istri kamu ya. Kalo bisa jangan gitu dulu soalnya masih rentan." Katanya lagi sambil tersenyum, kini bukan hanya Zea yang merasa seperti sedang mengecil tapi Tian juga merasakan hal tersebut membuat keduanya terdiam seperti patung dengan wajah merah karena menahan malu.


Setelah wanita tadi pergi Zea hanya bisa melangkah sedikit demi sedikit menjauh dari Tian yang juga langsung kembali memilih-milih pakaian bayi tersebut. Kedua muda-mudi itu saling membuang malu dengan cara mereka masing-masing. Dan tanpa sadar dari kejauhan si mata Elang sedang menatap tajam kearah Tian juga Zea. Siapa lagi yang memiliki tatapan mata bak elang jika bukan Dave.


Dave langsung meraih sembarang baju dal jumlah yang sangat banyak lalu membawanya pada Zea.


"Udah cukup atau masih kurang?" Tanya Dave datar sambil meletakan dua buah keranjang belanjaan yang terisi full tanpa celah, membuat Zea tercengang melihatnya.


"Kamu mabuk? Mana cukup uangnya buat beli ini semua. Lagian ini ngapain beli sepatu segala? Yang lebih penting aja deh soalnya dana kita terbatas." Kata Zea melihat belanjaan Dave. Dave mengeluarkan dompet dari dalam sakunya dan memamerkan credit card unlimited miliknya.


"Isinya hasil keringat gue sendiri bukan dari orangtua." Ucap Dave kembali memasukan credit card tersebut kedalam dompetnya.


"Lah terus hubungannya? Kamu mau pamer gitu kalo kamu punya penghasilan sendiri dan unlimited?" Tanya Zea yang masih belum mengerti maksud Dave.


"Lo.....-" Ucap Dave gemas ingin sekali mencubit kuat pipi gadis itu namun semua itu diurungkannya.


"Udah deh lupain. Kalo uangnya kurang, biar gue yang bayar sisanya." Tambah Dave berusaha sabar.


"Tau gitu aku ajak ke toko mainan juga tadi." Ucap Zea menyesal berusaha berhemat.


"Lo juga baru ngomong sekarang juleha astaga. Ayah, bunda kenapa punya anak macam dia? Kenapa?" Kata Zea pelan bicara pada dirinya sendiri.


"Udah ah bodo amat mau gimana juga, gue capek." Tambah Zea lagi, ia duduk disebuah kursi yang memang disediakan ditempat tersebut. Sambil sesekali memukul-mukul kakinya yang terasa lelah.


Sedangkan itu, ketiga pria tadi malah asik berburu masing-masing. Padahal Zea masih ingat saat Davin bilang kalau mereka tidak ahli dalam hal pilih memilih.


"Kakak mau cari apa? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang karyawan toko menghampiri Davin.


"Eh iya, saya lagi cari kaus kaki untuk bayi tapi gak tau ukurannya." Sahut Davin tersenyum.


"Oh, untuk umur berapa kak?" Tanya karyawan itu lagi tersenyum sangat manis membuat Davin salah tingkah.


"Ng.....Enggak tau hehehe." Sahut Davin menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Kakak gak tau umur anak kakak?" Tanya karyawan itu lagi sedikit tersenyum lucu melihat tingkah Davin.


"Bu.....bukan, saya belum nikah. Gimana mau nikah pacar aja gak punya, ini buat ade-ade panti." Jawab Davin sontak bicara memalukan karena terkesan seperti seorang jomblo akut yang tidak laku, padahal kalau saja ia ingin dalam hitungan menit ia bisa mendapatkan seorang pacar.


"Oh, kirain buat anaknya." Jawab gadis berseragam merah muda tersebut, gadis itu terlalu manis untuk seorang karyawan.


"Ini bisa dipakai 0-3 bulan dan ini 3-6 ada juga yang size M untuk umur 1-2 tahun. Tergantung besar kecilnya kaki bayi tersebut sih kak. Kalo masalah bahan, semua produk dari toko kami berani memberikan jaminan kepuasan." Jelas gadis tersebut yang ternyata bernama Gladys, saat Davin tidak sengaja melirik tag name miliknya nya.


"Gitu ya? Ya udah kalo gitu saya ambil dari 0 sampai usia 2 tahun deh. Bisa bantu saya memilih beberapa?" Tanya Davin tersenyum, Gladys juga ikut tersenyum lalu mengangguk setuju untuk membantu Davin.


Sedangkan saudara kembarnya, Dave saat ini sedang asyik didalam toko mainan. Tidak ada yang tau pembalap itu sedang berasa ditempat ini, ia juga membeli banyak dan bahkan sangat banyak mainan untuk dibagikan kepada anak-anak panti asuhan.


Para karyawan wanita dan beberapa pengunjung lain sedang menikmati wajah tampan Dave namun ia tidak perduli. Pria itu sedang fokus pada sebuah barang, apa lagi kalau bukan miniatur tokoh hero wanita kesukaannya, Black Widow.


Sampai saat ini, tidak ada yang tau alasan dibalik sosok super hero wanita tersebut. Mereka semua menyebut hal itu sebagai hobi. Namun bukan itu arti sebenarnya bagi Dave. Black Widow adalah sosok wanita cantik, manis, baik hati namun juga tangguh, kuat, serta pendiam. Dan sosok yang membuatnya terinspirasi pada Black Widow tidak lain adalah Zea Leondra. Gadis kuat, tangguh serta pemberani.


Setelah membeli banyak mainan, Dave mengantarnya lebih dulu kemobil lalu ia kembali menghampiri Zea dan lainnya.


"Masih belum selesai?" Tanya Dave pada Zea yang malah asyik memainkan hpnya sambil duduk santai.


"Gak tau bang Davin dan Tian." Sahut Zea cuek membuat Dave memutar bola matanya lalu ikut duduk disamping Zea.


***


"Udah cukup kak? Ada lagi?" Tanya Gladys pada Davin.


"Ummm keknya udah deh. Makasih ya udah bantuin milih." Sahut Davin memamerkan senyumnya pada gadis yang menarik perhatiannya tersebut.


"Gak apa-apa kak, kan ini emang tugas saya. Kalo gitu kakak silahkan tunggu, biar saya yang bawa ke meja kasir." Ucap Gladys tersenyum manis dan ramah membuat jantung Davin berdetak kencang.


"Sebentar, masih ada beberapa barang lagi. Biar aku ambil dulu ya." Sahut Davin lalu beranjak mengambil beberapa keranjang lagi.


"Kalian berdua disini? Tian mana? Dave bantu gue bawa semua ini ke kasir." Kata Davin mengangkat satu keranjang dan disusul Dave mengangkat keranjang lain.


Dan disaat bersamaan Tian datang membawa segelas minuman dingin untuk Zea yang sudah lelah dan tidak banyak bicara.


"Makasih ya Tian, kok tau aku haus?" Ucap Zea tersenyum sambil menikmati minumannya.


"Kamu lapar gak? Kalo lapar kita makan siang sekalian yuk. Lagian udah waktunya makan siang nih." Kata Tian melihat kearah jam tangannya.


"Oke, setuju." Sahut Zea tersenyum bersemangat.


"Ya udah aku bawa ini dulu kekasir ya." Zea mengangguk lalu Tian pergi membawa keranjang belanjaannya menuju kasir.


***


Setelah selesai dengan semua urusan belanja mereka bisa santai duduk disebuah cafe sambil menikmati makan siang.


"Menurut kalian cewek karyawan toko tadi gimana?" Tanya Davin tersipu mengingat wajah Gladys.


"Gimana apanya?" Sahut Zea bingung.


"Gimana? Manis bangetnkan? Apalagi pas senyum ya ampun bikin hati meleleh seketika."


"Lo es batu atau lilin? Kenapa meleleh? Kalo jomblo bisa gak jadi jomblo yang berwibawa biar gak bikin malu dan bikin takut cewek." Sahut Dave ketus membuat Tian dan Zea tertawa.


"Gak gitu, maksud gue senyumnya itu lho bikin melted."


"Kepincut cewek penjaga toko ya bro?" Tanya Tian tersenyum.


"Senyumnya itu lho, beda sama yang lain. Bener-bener sweet." Sahut Davin kembali membayangkan wajah Gladys.


"Senyum Zea juga gak kalah sweet." Sambung Tian tertunduk menyembunyikan senyumnya sedangkan Zea langsung tersedak mendengar pujian itu dan berbeda hal dengan Dave yang langsung memasang wajah buram, kusam, masam, semua bercampur menjadi satu.


"Heh mimin! Aturan berlaku dari detik ini juga." Sambar Dave bicara pada Zea.


"HEH! Kamu bilang kan besok, kenapa mendadak jadi gak konsisten?" Tanya Zea kesal.


"Mimin?" Ucap Tian bingung melihat kearah Zea dan Dave.


"Aturan?" Tambah Davin ikut penasaran.


"Ada yang bisa jelasin gak cerita dibalik mimin dan aturan?" Kata Davin kembali bertanya pada kedua adiknya tersebut. Mendengar hal itu Dave menyunggingkan senyumnya yang terlihat menyebalkan bagi Zea.


"Gak ada apa-apa." Sahut Zea singkat.


"Mulai detik ini ZEA LEONDRA resmi jadi asisten pribadi gue. Dan itu berlaku sampai tiga hari kedepan." Ucap Dave dengan lantang.


"HEIII!" Teriak Zea kembali gadis itu menjadi sorotan.


"Lo bisa gak ngontrol volume suara lo? Asli bikin malu, sumpah." Tegur Dave menundukan wajahnya agar tidak dilihat.


Zea menarik nafasnya dalam sambil memejamkan kedua mata.


"Lo bangke!" Ucap Zea bicara pada Dave dan membuat Tian serta Davin tertawa mendengar hal itu.


Bersambung......