
"Gak! Ini semua gak mungkin, Dia gak boleh pergi." Kata Dara tidak percaya dengan ucapan dokter tadi, Sama halnya dengan El yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa Daniel meninggal. Dara langsung menerobos masuk keruang ICU untuk melihat Daniel. Sedangkan El terduduk lemas tidak bisa berbuat apa-apa ia benar-benar shock dengan kabar kematian Daniel, Luna yang juga merasakan kesedihan memeluk tubuh El.
Belum sempat ia memberi kabar bahagia tentang kehamilan nya, El malah mendapat kabar buruk tentang kematian Daniel. Apakah memang seperti ini rencana yang Tuhan atur untuk mereka? Disaat ada yang datang, Maka ada juga yang pergi. Dan disaat ada yang pergi maka Tuhan menggantikan nya dengan yang baru.
Seberapa kuat El menahan airmata nya ia tetap tidak sanggup, Pria Hebat dan kuat itu kini menangis dihadapan Luna. Hal yang tidak pernah terjadi dalam hidupnya, Menangis didepan orang lain bukanlah tipenya tapi kali ini ia kalah dan menyerah, Tangisnya pecah dalam pelukan Luna.
Rendy yang kini benar-benar merasa semua karena kesalahan nya langsung pergi ke kantor polisi. Keputusan nya sudah bulat, Ia akan menyerahkan diri atas kasus penganiayaan hingga menyebabkan korban kehilangan nyawa nya.
Dan Dara yang kini berada diruangan Daniel melihat diam kearah wajah Daniel yang terlihat tenang. Wajah itu kini pucat pasi, Wajah yang tidak ingin ia lihat kini benar-benar pergi tidak ingin memperlihatkan lagi senyumnya pada Dara. Hati Dara teramat hancur, Ia baru saja bisa menerima Daniel dalam kehidupan nya tapi Tuhan malah mengambil pria itu tanpa seizin nya.
"Kamu pikir aku percaya sama yang dikatakan dokter? Kamu pikir kamu siapa bisa semaunya datang dan bisa semaunya pergi? Kamu pikir aku bisa membesarkan anak ini sendirian tanpa seorang ayah? Kamu pengecut! Mana tanggung jawab mu? Cuma segini perjuangan mu untuk kami? Kamu memilih lari daripada hidup bersama kami."
Dara meraih tangan Daniel yang masih terasa hangat, Digenggamnya kuat tangan itu berharap agar Daniel merasa hangatnya cinta yang diberikan Dara untuknya. Dara kembali meletakan tangan itu diatas perutnya.
"Nak, Ini tangan ayah kamu. Ayah kamu lagi tidur, Panggil dia nak, Bangunkan dia. Jangan biarkan dia pergi ninggalin kita. Bahkan kamu belum pernah mendengar suaranya kan? Panggil dia kembali nak.
Daniel, Ini anak kita. Usianya udah dua bulan didalam sana, 1 bulan lagi kita bisa denger detak jantungnya. Selama kamu sakit kami berdua saling menguatkan dan saling menjaga satu sama lain, Kita berdua nunggu kamu sadar. Kita berdua pengen denger suara kamu lagi. Kata orang menjelang usia ketiga bulan aku bakal ngerasain yang namanya ngidam, Aku juga gak tau itu apa tapi disana peran seorang suami dan ayah sangat dibutuhkan. Aku mohon jangan begini, Cepat bangun aku butuh kamu." Tangis Dara pecah tak tertahan lagi, Ia memeluk tubuh kaku Daniel yang tidak lagi bernyawa.
"**Ayah!.......
Dua orang anak kembar meneriaki Daniel yang saat itu sedang berjalan sendirian dipadang pasir yang gersang dan tandus. Daniel menoleh melihat kearah dua anak itu, Mereka tersenyum manis kearah Daniel. Kedua anak itu melambaikan tangan padanya meminta Daniel untuk mendatangi mereka berdua**.
Dara yang memeluk tubuh Daniel mendengar jantung Daniel kembali berdetak meski lemah namun jantung itu benar-benar berdetak.
"Daniel, Daniel kamu dengar aku kan?....." Dara berlari memanggil dokter dengan cepat.
"Dokter......Dokter cepat kesini. Daniel, Jantung Daniel kembali berdetak dok." Katanya membuat semua orang kaget termasuk dokter yang menangani Daniel. Dengan cepat dokter itu masuk untuk memastikan keadaan Daniel.
El dan Luna juga ikut masuk kedalam sana.
"Suster pasang kembali alat-alatnya, Detak jantung pasien masih sangat lemah." Kata dokter itu, Peralatan medis pun kembali dipasang ditubuh Daniel. Tidak hentinya El, Luna dan Dara bersyukur atas kembalinya Daniel.
"Maaf, Kalian harus menunggu diluar." Kata dokter meminta mereka bertiga keluar dari ruang ICU.
"Dok, Saya mohon dok biarin saya disini nemenin Daniel." Pinta Dara setengah memohon pada dokter, Namun dokter tidak mengizinkan nya.
"Dok, Dia istri Daniel dan sekarang sedang mengandung anak pertama mereka. Saya rasa berkat mereka lah Daniel kembali. Biarkan mereka didalam untuk menemani Daniel." Pinta El membantu Dara agar dokter mengizinkan Dara menemani Daniel.
"Baiklah, Tapi hanya dia yang boleh ada didalam. Kalo begitu saya permisi dulu, Nanti akan ada suster yang berjaga disini." El mengangguk, Dokter itu pun pergi dari ruangan Daniel.
"Makasih ya bang udah bantuin aku." El tersenyum sambil mengangguk, Ia lalu mendatangi Daniel sebelum keluar dari ruangan itu.
"Gue bangga sama lo. Lo bener-bener pria hebat yang pernah gue temuin, Dibanding sama lo gue gak ada apa-apanya. Yang lo harus lakuin sekarang cepat sadar, Jangan buat anak dan calon istri lo sakit kelamaan nungguin lo disini. Gue pamit pulang, Besok gue kesini lagi." El lalu pergi meninggalkan Daniel dan Dara disana.
***
Sesampainya dirumah El dan Luna langsung mandi lalu beristirahat sejenak meregangkan otot dan otak yang cukup tegang dibuat Daniel.
"Sayang......" Ucap Luna menghampiri El yang sedang sedang bermain ria dengan benda kesayangan nya, Apalagi kalau bukan laptop istri kedua untuk El karena benda inilah yang membantunya mendapatkan pundi-pundi rupiah untuk membeli sebongkah berlian(Hahaha ngaco 🤣).
"Iya, Kenapa?" Tanya El masih tetap fokus pada layar laptop.
"Aku punya sesuatu buat abang." El mulai tertarik, Ia duduk melihat kearah Luna dengan tatapan nakal.
"Ish bukan itu." Tepis Luna cepat mengusir jauh fantasi liar dikepala El.
"Tutup mata dulu." Ucap Luna memaksa suaminya, Meski terdengar konyol namun El tetap menuruti perintah istrinya itu, Ia lalu menutup kedua matanya. Luna menaruh benda kecil itu ditangan El, Membuat El bertanya-tanya apa yang diberikan Luna padanya.
"Apa sih ini beib?" Tanya El penasaran
"Sekarang buka mata abang." El langsung membuka kedua matanya dan melihat benda apa yang diberikan Luna padanya. Saat membuka genggaman tangannya tanda (+) langsung menyambut penglihatan nya.
"Sa.......Sayang, I.....Ini punya kamu? Ka.....Kamu....." Sangking senang nya El tidak bisa lagi melanjutkan ucapannya. Ia tertawa bahagia sambil memeluk tubuh Luna.
"Kamu hamil, Kamu beneran hamil." Kata El sambil menciumi seluruh wajah Luna membuat Luna merasa sangat bahagia. El lalu menundukan kepalanya menempelkan telinganya di perut Luna yang masih rata.
"Hei baby, Ini daddy. Kamu disana ya? Sehat terus ya sayang." Kata El lalu mencium perut Luna membuat Luna tertawa lucu melihatnya.
"Besok dirumah sakit kita periksa ya sekalian." Luna mengangguk sambil menangkup kedua pipi El.
"Mulai sekarang kamu gak boleh capek-capek. Apa kita perlu nyari ART baru ya untuk sementara."
"Jangan dong, Gak enak sama bi Irah kalo dia datang terus liat ada orang yang udah gantiin posisinya."
"Iya ya, Pokoknya mulai saat ini kamu gak boleh capek-capek, Gak boleh masak, Nyuci atau beres-beres rumah. Semuanya biar abang yang lakuin." Ucapan El membuat Luna mengerucutkan dahinya, Sebahagia itukah El saat ini hingga ia rela menyanggupi semua pekerjaan rumah padahal ia sudah cukup lelah bekerja dikantor.
Saat ini Luna memohon pada Tuhan agar Tuhan lagi membuat mereka bersedih. Semoga Tuhan selalu memberikan kebahagian untuk mereka semua pinta Luna dalam hati.
"Kabarin Bunda ah, Pasti bunda seneng banget." Luna tersenyum, El lalu meraih hapenya dan langsung menelepon bu Mela.
"Kenapa El? Tumben telepon bunda jam segini." Kata bu Mela ditelepon.
"Bun, El punya kejutan buat bunda."
"Apa sih? Kamu menangin tender lagi?"
"Bukan, Kali ini lebih dari itu."
"Apa? Dipromosikan naik jabatan kan gak mungkin karena kamu CEO nya."
"Bunda bakalan jadi oma."
"Hah? Kamu serius nak? Maksud kamu Luna hamil?
"Iya bun, Luna hamil." Bu Mela merasa benar-benar merasa sangat bahagia saat ini, Hal yang paling ia nantikan akhirnya satu persatu terwujud. El menikah dan kini ia segera menjadi seorang ayah yang tandanya bu Mela juga akan menjadi seorang oma. Rasa bahagia itu tidak bisa diungkap kan nya dengan kata-kata lagi.
Setelah cukup lama mengobrol, El mematikan sambungan telepon dengan bu Mela. Sangking lamanya dan asiknya ia tidak tau jika Luna sudah tertidur. El tersenyum mendekati istrinya itu, Dikecupnya kening Luna pelan lalu ia pergi kedapur memasak makan malam untuk mereka berdua.
***
Dara yang masih betah duduk disamping Daniel sambil terus memegangi tangan Daniel pun tertidur karena rasa lelah yang sangat luar biasa terlebih dengan keadaan nya saat ini yang mulai merasakan mual juga muntah-muntah.
Dara tidur dengan nyenyak walaupun posisinya saat ini sedang duduk dan hanya merebahkan kepalanya dipinggiran ranjang Daniel.
Perlahan Daniel membuka matanya, Ia melihat kearah Dara yang tertidur sambil terus menggenggam tangannya.
"Kamu pasti capek banget ya." Ucap Daniel pelan, Ia masih sangat lemah saat ini. Pelan-pelan ia melepaskan pegangan tangan Dara lalu mengusap lembut kepala Dara. Ia bahagia saat ia tersadar Dara lah orang pertama yang ia lihat.
"Terimakasih udah ngasih aku kesempatan ini." Ucapnya lagi, Mendengar suara Daniel Dara pun terbangun dari tidurnya. Ia mengucek matanya mengambil kesadaran sepenuhnya dan saat mata itu terbuka Daniel sedang menatapnya dengan senyuman khas milik Daniel yang sangat ia rindukan.
"Ka.......Kamu." Dara tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya. Ia langsung memeluk Daniel pelan namun cukup erat airmatanya pun berhamburan dibaju Daniel.
"Kamu......Jangan pernah terluka lagi, Jangan pernah tinggalin aku lagi. Mungkin ini semua terlambat, Tapi kamu harus bertanggung jawab sama perbuatan kamu." Ucap Dara dalam isak tangisnya, Namun kali ini tangisan bahagia. Daniel memeluk Dara sambil mengusap punggung Dara menenangkan wanita yang menjadi ibu dari anaknya itu.
"Maafin aku, Maaf ini semua salahku. Aku janji gak akan tinggalin kamu, Bahkan jika aku mati saat kamu panggil namaku aku akan kembali aku janji." Kata El, Dara seolah trauma mendengar kata kematian ia langsung membungkam mulut Daniel dengan ciuman dari bibirnya.
"Jangan pernah bicara seperti itu lagi." Kata Dara, Daniel tersenyum bahagia karena akhirnya cintanya diterima oleh Dara. Daniel lalu melihat kearah perut Dara dan menyentuhnya.
"Hai para pria pemberani, Terimakasih sudah bawa ayah kembali. Kalian juga pria hebat yang bisa dengan baik menjaga bunda saat ayah gak ada disampingnya. Terimakasih sayang." Kata El, Dara tersenyum namun juga bingung saat Daniel memanggil anak yang jenis kelaminnya saja belum diketahui tapi Daniel dengan yakin dan pasti menyebut anak itu seorang pria.
"Tau darimana kalo dia cowok? Terus kenapa kamu nyebutnya kalian?" Tanya Dara penasaran, Daniel hanya tersenyum mendengar pertanyaan calon istrinya.
"Feeling aja sih, Tapi kali ini feeling aku kuat banget kalo anak-anak kita ini jagoan." Dara tertawa melihat Daniel yang mulai kembali konyol.
"Oh iya, Kakak kamu dimana? Aku belum sempat minta maaf sama dia sejak hari itu di mall." Tanya Daniel, Tidak ada sedikitpun rasa dendam atau marah dihatinya pada Rendy padahal Rendy membuatnya hampir kehilangan nyawanya....
"Kamu gak marah sama kak Rendy? Bukannya karena dia kamu mengalami koma selama dua minggu dan kamu nyaris......" Dara tidak melanjutkan ucapannya. Ia hanya tertunduk malu atas perbuatan kakaknya juga sangat menyesal dan merasa bersalah pada Daniel. Daniel yang melihat ekspresi Dara menariknya untuk duduk disampingnya.
Mendengar hal itu Dara memeluk Daniel, Ia merasa sangat bodoh selama ini mengabaikan Daniel. Pria yang sangat baik dan bertanggung jawab.
"Maaf bikin kamu lama menunggu sampai kamu harus melewati ini semua." Daniel hanya tersenyum mencium pucuk kepala Dara dengan lembut.
Dara mencoba menghubungi nomer telepon Rendy, Namun tidak aktif. Tidak ada yang tau jika Rendy saat ini sedang berada dibalik jeruji besi mempertanggung jawabkan semua perbuatan nya pada Daniel.
"Nomernya gak aktif. Mungkin dia lagi ditempat kerja dan baterai hapenya kosong." Kata Dara menduga-duga
"Ya udah nanti kamu hubungi lagi. Kalian udah makan?" Tanya Daniel pada Dara dan calon bayinya. Dara menggelengkan kepalnya selain karena Dara tidak bernafsu makan karena kejadian tadi ia juga mulai cerewet tentang makanan.
Dara menggeleng menjawab pertanyaan Daniel.
"Perutku mulai cerewet gak semua makanan bisa lolos seleksi dan bertahan didalam sana." Sahut Dara membuat alis Daniel mengkerut.
***
"Sayang, Bangun yuk kita makan malam dulu." El membangunkan Luna dengan pelan, Luna yang sangat merasa lelah enggan untuk bangun dan meninggalkan tempat tidurnya.
"Besok aja ya makannya sekalian sarapan." Ucap Luna malas matanya saja masih tertutup rapat. El menggelengkan kepalanya lalu duduk disamping Luna.
"Mau abang gendong?" Tanya El, Dengan berat Luna membuka matanya dan tersenyum.
"Suapin juga ya." Ucapnya manja, Membuat El terkekeh. Luna lalu merentangkan kedua tangan nya dan El menggendong istrinya menuruni anak tangga membawa keruang makan.
***
El bangun saat mendengar suara hapenya berdering, Dilihatnya jam masih jam 6:00 pagi.
"Dara....." El langsung mengangkat telepon dari Dara takut kembali terjadi sesuatu pada Daniel.
"Kenapa Ra?"
"Bangun woy! Masih kelonan lo?" Suara yang selama ini sangat ia rindukan, Ya itu Daniel yang mengganggu tidurnya.
"Bangke! Lo......Lo udah sadar?" El benar-benar merasa sangat senang mendengar suara sahabatnya itu lagi.
"Iya lah, Kalo gue mati anak gue siapa yang urus? Kan gue calon hot daddy." Katanya bangga sambil tertawa kecil hal kecil yang paling sangat ia rindukan.
"Sayang siapa yang telepon." Tanya Luna yang mulai terusik oleh kehebohan El dan Daniel.
"Nyonya besar lo marah bos." Ucap Daniel tertawa kecil.
"Daniel yang telepon, Si oon Daniel akhirnya sadar." Mendengar hal itu Luna langsung membuka matanya dan ikut menempelkan telinganya di telepon El.
"Kurang ajar banget sih lo jadi bos, Gue baru sehat lo udah semaunya. Kesini buruan kangen gue sama lo pengen peluk Luna hahaha."
"Sialan lo! Nanti gue kesana sekalian mau meriksain Luna."
"Luna kenapa?"
"Calon hot daddy gue, Emang cuma lo yang lagi seneng?"
"Wow, Serius lo? Selamat ya. Bisa juga lo bikinnya gue pikir lo lemah."
"Bangke lo! Gue rontokin tuh gigi."
Selama dua minggu mereka tidak saling menyumpah itu membuat kedua pria dewasa ini sama-sama menyimpan rindu yang sangat besar.
"Ya udah nanti gue kesana." Tanpa menunggu Daniel menjawabnya El langsung mematikan sambungan telepon membuat Daniel berdecih kesal seperti biasanya.
Pagi ini Daniel sudah tidak lagi dirawat di ruang ICU, Ia dipindahkan ke ruang perawatan untuk masa penyembuhan.
"Beib, Udah kamu telepon kakak kamu?" Tanya Daniel, Dara baru ingat dan langsung menghubungi kembali nomer telepon Rendy.
"Hallo.....Kak kakak dimana?" Tanya Dara saat sambungan telepon terhubung.
"Hallo, Maaf dengan siapa saya bicara?"
"Loh? Ini bukan nya nomer kakak saya Rendy Keano."
"Benar, Saudara Rendy saat ini sedang berada di rumah tahanan. Ia menyerahkan diri setelah melakukan penganiayaan terhadap saudara Daniel dengan barang bukti berupa rekaman video saat terjadi penganiayaan dan mengakibatkan korban kehilangan nyawa nya." Dara benar-benar kaget dengan apa yang dilakukan oleh Rendy. Ia langsung mematikan sambungan telepon dan berniat untuk menemui kakaknya itu.
"Kenapa beib?" Tanya Daniel penasaran melihat wajah murung Dara dan disaat bersamaan El dan Luna datang.
"Kak Rendy sekarang ada di kantor polisi. Dia nyerahin diri karena merasa bersalah sama Daniel." Ucap Dara sedih. El dan Daniel juga kaget mendengarnya, Mereka berdua tidak menyangka jika Rendy nekat melakukan hal itu untuk menebus kesalahan nya pada Daniel.
"Lo ade ipar yang jahat dan brengsek emang." Kata El menghampiri Daniel, Mengucapkan itu dengan sangat santai tanpa beban apapun diwajahnya.
"Entar biar abang yang urus dan keluarin Rendy dari sana. Kamu fokus aja sama kesembuhan si brengsek ini." Ucapan El membuat Dara sedikit merasa lebih tenang tapu tidak dengan Daniel yang tidak terima dengan sumpahan El pagi ini.
"Sini bos, Duduk samping gue. Lo haus kan? Sini gue minumin pake air infus biar tenggorokan lo bersih terus bisa ngomong baik sama gue." Luna dan Dara tertawa melihat tingkah dua pria itu.
"Ra..... " Panggil Luna, Dara dan Luna saat ini sedang berada di taman rumah sakit. Begitu banyak masalah yang baru mereka hadapi mereka berdua butuh udara segar begitu juga El dan Daniel yang membutuhkan waktu bersama untuk saling melempar sumpah serapah.
"Kenapa?"
"Ummmmm......Aku.....Aku hamil." Dara langsung melihat kearah Luna.
"Selamat ya sayang, Serius loh gak nyangka kok bisa barengan gini?" Dara memeluk tubuh Luna dengan perasaan bahagia.
***
"Anak gue entar cowok, Kembar yakin gue." Kata Daniel memanasi El.
"Pasti banget lo ngomong. Emang udah bisa usg dan udah keliatan hasilnya?" Tanya El penasaran, Karena jika Daniel bilang Iya makan El juga akan langsung memeriksakan kehamilan istrinya.
"Ya gue yakin aja, Namanya gue bapaknya ya gue taulah. Sumpah gak nyangka gue secepat ini gue jadi orangtua. Perasaan baru kamaren gue bikinnya." Kata Daniel sambil tertawa, El yang kesal langsung memukul kepala Daniel membuat pria itu diam dan marah pada El.
"Kemaren kita heboh nangis-nangisin lo dan lo bilang baru kemaren lo bikin anak. Bego lo kok gak ilang-ilang sih heran gue, Kenapa Rendy kemaren gak nyerang kepala lo aja biar otak lo geser dikit kali aja lo pintar."
"Loh kok lo yang gak terima sih?.....Ja.....Jadi kemaren lo nangis buat gue? Serius lo nangisin gue?" Tanya Daniel penasaran sambil menahan ketawa membuat El makin kesal ingin kembali menganiaya pria yang baru sadar ini.
"Lo mimpi kalo lo mikirnya gitu, Maksud gue itu si Dara dan Luna. Gue sebagai suami Luna gak terimalah istri gue nangisin lo."
"Ah masa? Lo kali yang nangis sambil sesegukan manggil-manggil nama gue sambil meluk-meluk gitu kan?" El langsung melihat tajam kearah Daniel.
"Lo udah libur kerja selama 2 minggu lebih, Jadi siap-siapa aja entar sama kerjaan lo yang numpuk. Habis nikah gue pastiin lo gak bakal punya waktu untuk berduan sama Dara karena apa? Karena lo udah bikin bos lo jengkel sekesal-kesalnya sampai-sampai rasanya pengen banget gue gelonggong lo pake air infusan." Daniel langsung menutup rapat mulutnya tidak lagi banyak bicara, Ia lupa berhadapan dengan siapa saat ini.
***
Luna dan Dara masih asik mengobrol ditaman, Mereka saling membagi cerita dan merencanakan untuk mengambil cuti kuliah bersama dan pergi liburan bersama. Tidak sadar jika ada seseorang yang sedang mengawasi mereka berdua dan diam-diam mengambil beberapa photo mereka berdua.
**Bersambung.......
Eeeeeeeeaaaaaaa ternyata banyak yang sayang sama akak Daniel 🤭. Author jadi merasa digentayangin kalo beneran nyabut nyawa akak tamvan satu tu.....
Sebagai gantinya nyawa sapa dong yang author cabut? Babang El kah? 🤣🤣🤣 Kalo ini mah gak bakal author senggol karena dia tuh lakinya author 🤭🤣🤣🤣.
Yaudah sii jangan pada galau lagi, Noh author balikin lagi si akak Daniel yang oon(Kata babang El sih gitu)
Tapi jgn lupa
-Vote n Like nya 👌**