
**Aku hanya ingin secepatnya melewati fase ini.
\_Elang**\_
"Kamu bisa ngomong begitu karena kamu gak tau rasanya kehilangan seorang ibu! Dari kecil kasih sayang kamu terpenuhi. Kamu punya seorang ayah, Kamu punya seorang ibu bahkan kamu punya kakak yang bener-bener sayang sama kamu. Dari kecil kasih sayang kamu melimpah sedangkan aku, Seandainya........Seandainya......." Tangis Luna pecah ia tidak bisa lagi bicara saat ini. El yang melihat semua itu langsung menghampiri Luna. Sekuat apapun pria itu ia tidak akan tahan jika harus melihat wanitanya menangis dan terluka seperti saat ini.
"Maafin abang, Maaf....." Ucap El ingin meraih tangan Luna namun Luna menepisnya lebih dulu membuat hati El hancur saat itu juga.
"Kenapa takdir terlalu kejam? Kenapa kita harus berada dalam satu buah cerita yang sama? Aku tau ini bukan kesalahan abang, Tapi setiap kali aku ngeliat abang wajah dan suara abang benar-benar sangat mirip sama dia. Seseorang yang udah merenggut seorang ibu dari anak yang sangat membutuhkannya." El terdiam membeku, Jika ada pilihan lain lebih baik ia mati daripada harus mendengar hal itu dari Luna. Sakit jelas sakit, Bahkan sangat sakit dari hal apapun yang menyakitkan. Tapi apa yang bisa ia lakukan untuk membela diri? Pasrah, Ia bahkan belum mencoba untuk menjelaskan pada Luna lalu bagaimana ia bisa pasrah?
"Lun tap...." Belum selesai Daniel bicara, El menarik tangan Daniel saat Daniel mencoba untuk membujuk Luna. Ia tau perasaan Luna saat ini sangat terluka sama sepertinya dan percuma jika terus dipaksa untuk mendengarkan semua penjelasan itu hanya akan mengakibatkan hati Luna makin tersiksa.
"Semua yang kamu bilang bener, Walaupun sama sekali gak ada kaitannya sama abang tapi tetap aja pada kenyataannya abang adalah anak dari seseorang yang sudah membuat luka dihati kamu. Tapi satu hal yang harus selalu kamu percaya karena kamu satu-satunya alasan yang bisa membuatku bertahan dalam yang namanya kehidupan." Andai hatinya tidak merasa sesakit sekarang mungkin ia sudah memeluk erat pria yang ada dihadapannya ini.
Tidak kuat menahan rasa sakit yang makin menjadi di hatinya, Luna memilih pergi meninggalkan El, Daniel dan Dara.
"El lo jangan diam aja dong, Cepat kejar Luna." Ucap Daniel menyuruh El yang saat ini hanya berdiri diam tanpa melakukan apapun.
"Biarkan dia sendiri, Dia hanya perlu waktu untuk bisa memahami keadaan." Mendengar jawaban El, Daniel dan Dara tidak bisa lagi berbuat apa-apa selain hanya menjadi penonton.
"Makasih kalian udah berusaha semampu kalian. Ra, Tolong pastikan Luna baik-baik aja karena mungkin malam ini abang gak akan pulang kerumah." Ucap El meminta bantuan Dara sebelum ia pergi.
"Tapi bang....." Daniel menarik tangan istrinya ketika Dara berusaha menghentikan El.
"Mereka berdua sama-sama perlu waktu untuk sendiri." Ucap Daniel, Dara menghela nafasnya terlihat raut kecewa diwajahnya saat ini. Daniel dan Dara lalu pergi dan membiarkan El juga Luna untuk menenangkan diri.
***
"Loh mba Luna kok sendirian? Mas El kemana?" Tanya bi Irah saat mendapati Luna pulang kerumah sendirian tanpa El.
"Zea udah tidur bi?" Jawab Luna enggan membahas tentang El membuat bi Irah mengerutkan alisnya. Tidak biasanya Luna bersikap dingin dan tidak mau membahas tentang suaminya, Biasanya Luna lah orang yang paling sibuk jika El terlambat pulang kerumah.
"Iya mba, Non Zea lagi tidur dikamarnya." Sahut bi Irah, Luna mengangguk lalu pergi ke kamar anaknya.
"Mba Luna kenapa ya? Gak biasanya dia begitu." Ucap bi Irah saat Luna pergi.
Luna membuka pintu kamar Zea perlahan agar bayi itu tidak kaget dan bangun. Dilihatnya Zea sudah tertidur nyenyak di dalam box bayi miliknya, Luna mendekati ranjang berpagar itu lalu duduk disampingnya sambil terus memperhatikan wajah polos dan lucu Zea saat tidur.
"Maafin mommy ya nak seharian gak ada ngurusin kamu." Ucapnya mengusap lembut pipi Zea dengan jari-jarinya.
"Zea, Apa mommy salah bersikap begini sama daddy? Mommy gak tau lagi sikap mana yang harus mommy pilih saat ini. Kenyataan itu bener-bener sulit untuk mommy. Mommy sakit nak, Hati mommy sakit harus bersikap seperti ini sama daddy." Sambung Luna mengadu pada bidadari kecilnya yang saat ini lelap tertidur. Air matanya pun jatuh deras mewakili perasaan nya yang hancur saat ini.
Sedangkan El saat ini ia masih betah mengunci diri di dalam ruang kerjanya. Ini sudah jam 7 malam tentu semua karyawan sudah pulang, Suasana kantor pun sunyi sepi. Sejak tadi ia hanya diam sambil menatap photo pernikahan nya dengan Luna.
Tok.....Tok.....Tok......
Terdengar suara ketukan pintu dan El sudah tau siapa orang yang sedang berada diluar sana. Daniel masuk memandang diam kearah El, Ia sudah siap pulang hanya saja ia tidak bisa jika membiarkan El sendirian disini.
"Lo mau sampai kapan duduk diam disini?" Tanya Daniel yang saat ini sudah berdiri tepat di depan meja El. El hanya diam tidak merespon pertanyaan dari Daniel.
"El gue tau hati lo lagi kacau, Gue juga tau pikiran lo berantakan. Gue ngerti posisi lo saat ini, Dan gue juga faham keadaan Luna saat ini. Kalian hanya sedang diajak bermain oleh takdir, Maka jangan biarkan takdir sepenuhnya memenangkan permainan." El metakan frame photo pernikahannya lalu berdiri dan berjalan menuju jendela, Terlihat pemandangan kota yang sangat indah di malam hari tapi entah mengapa itu tidak menarik untuk El.
"Terimakasih untuk semua yang udah lo dan Dara lakuin. Tapi untuk saat ini biarin gue sendiri, Gue hanya perlu berdamai dengan rasa sepi untuk mendapatkan sebuah ketenangan." Mendengar hal itu Daniel mengerti keinginan sahabatnya. Ia menghampiri El yang sedang menatap kosong kearah luar jendela.
"Kalo lo perlu temen, Lo bisa hubungi gue. Gue balik duluan." Ucap Daniel menepuk pundak El lalu ia pergi meninggalkan El sendiri...
***
Ini sudah hampir tengah malam dan kedua anak manusia yang sedang dilanda rasa sakit itu bel juga terlelap. Luna masih saja duduk melamun dikamar anaknya dan El saat ini berada di sebuah club yang sudah sangat lama tidak ia kunjungi. Minuman yang sudah lama ia jauhi malam ini kembali ia tegak lagi, Bukan karena ia ingin bersenang-senang tapi karena hanya disaat mabuk lah ia bisa melupakan masalah yang sedang ia hadapi walau itu hanya beberapa jam tapi sangat dibutuhkan El saat ini.
"Bos itu bukannya El yang udah bikin bos Baron masuk kerumah sakit." Ucap salah seorang anak buah dari Baron, Saat ini Baron masih dirawat di rumah sakit akibat El pria itu mengalami patah pada rahang wajahnya dan mendapat beberapa jahitan di kepala serta tulang rusuknya pun ikut patah untung saja tidak mengenai organ dalam vitalnya jika tidak mungkin saat ini tubuh Baron sudah mengalami pembusukan didalam tanah.
Beberapa orang pun datang menghampiri meja El yang dipenuhi oleh botol minuman keras. Namun El tidak perduli dan terus saja minum padahal saat ini ia sudah dikelilingi oleh para anak buah Baron yang ingin membalas dendam atas perbuatannya pada bos besarnya itu.
"Lo El kan? Lo juga kan yang udah ngirim bos kita ke rumah sakit!" Bentak salah satu pria bertubuh besar dan menjadi pemimpin dari beberapa pria di geng itu. Mendengar hal itu El menyunggingkan ujung bibirnya, Ia tidak tertarik untuk meladeni ucapan pria itu.
"Lo tuli huh?!" Ucap pria itu lagi sambil menangkap gelas minuman yang ingin El minum. Para pria ini terlalu berani untuk mengganggu El pada saat hatinya sedang kacau.
"Masih bagus gue cuma ngirim ke Rumah sakit. Tadinya gue mau ngirim dia ke pemakaman langsung tapi karena inget dia belum punya keturunan generasi penerus gue gak jadi ngirim dia kesana." Sahut El santai sambil merebut kembali gelas miliknya dari tangan pria bertubuh besar itu.
"Seret dia keluar!" Perintah dari pimpinan mereka lalu beberapa orang langsung memegangi kedua tangan El. Saat ini El memang sudah mabuk tapi ia masih sangat sadar dengan apa yang terjadi disekitarnya.
El diseret keluar dari tempat ramai itu, Membuat beberapa orang melihat dan menintoni nya. Bahkan saat diseret pun El masih saja santai dan bahkan tertawa ringan seolah tidak akan terjadi apa-apa.
Setelah mereka berhasil membawa El keluar dari club, Mereka langsung melempar tubuh El yang mulai sempoyongan karena pengaruh minuman alkohol.
Melihat kondisi El, Mereka tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Mereka langsung mengelilingi El dan salah satu dari mereka langsung memukul wajah El dengan kuat hingga pria itu tersungkur jatuh dan bibirnya langsung mengeluarkan darah segar.
"Cuma segini? Kalian kebanyakan di cekokin g***a sama si Baron sampai-sampai gak punya tenaga cuma untuk sekedar mukul doang." Kata El tertawa sambil mengusap darah di sudut bibirnya. Tentu saja ucapan itu memancing kemarahan anak buah dari Baron.
Mereka maju secara bergantian dan El lagi-lagi hanya diam tidak ingin melawan. Ia membiarkan tubuhnya di keroyok habis-habisan oleh para pria itu, Dari wajah, Kepala, Perut semua tidak lepas dari hantaman keras namun El tetap menahannya.
"Eh itu bukannya El temennya Daniel ya?" Ucap seorang gadis yang menjadi salah satu waiters di club malam itu. Lalu gadis disebelahnya melihat kearah El yang sedang dipukuli habis-habisan oleh beberapa orang pria.
"Iya itu El," Ucapnya dengan cepat wanita tadi memanggil security untuk menghentikan perkelahian itu. Dan tidak lama dua orang security club datang menghentikan pengeroyokan itu.
El benar-benar babak belur dibuatnya, Wajah dan baju kemeja yang ia kenakan penuh dengan noda darah. Ia hampir tidak sadarkan diri saat ini mengingat parahnya luka yang ia terima.
"El.....El kamu bisa denger aku kan? El....." Ucap Lucia, Gadis yang memanggil para security tadi. Lucia sendiri berprofesi sebagai seorang DJ dan ia adalah salah satu mantan Daniel makanya ia juga kenal dengan El.
"Duh gimana dong nih." Lucia terlihat sangat bingung sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Daniel, Padahal itu adalah pantangan untuknya.
***
"Siapa yang neleponin malam-malam gini ay?" Tanya Dara saat hape Daniel terus berbunyi.
"Gak tau orang salah sambung kali, Udah malam juga masih aja nelepon." Sahut Daniel yang langsung mereject panggilan dari Lucia karena ia tau siapa penelepon itu.
"Gila ya Daniel! Telepon gue di reject gak tau apa kalo temennya lagi sekarat gini. Dia pikir gue mau minta balik kali ya sampai-sampai telepon gue di reject mulu!" Ucap Lucia kesal karena sudah hampir 10 kali ia menghubungi Daniel maka 10 kali juga Daniel mereject panggilan nya.
Tidak punya cara lain akhirnya Lucia mempotret El yang dalam keadaan sekarat ini lalu mengirimkan nya pada Daniel. Pesan itu pun tidak langsung dibuka oleh Daniel, Setelah sekitar 15 menit baru Daniel meraih hapenya dan melihat pesan yang dikirimkan oleh Lucia.
"El!..." Ucap Daniel nyaring dan kaget hingga membuat Dara yang sudah tertidur langsung bangun dan ikut kaget.
"Kenapa ay?" Tanya Dara penasaran karena tiba-tiba Daniel memanggil nama El.
"Beib aku mesti ke club sekarang juga. El disana dan lagi terluka parah." Jawab Daniel beranjak dari tempat tidur lalu mengganti pakaiannya...
"Ay bang El kenapa?" Tanya Dara yang masih bingung. Daniel lalu memperlihatkan photo yang dikirim oleh Lucia 15 menit yang lalu. Sontak Dara kaget bukan main melihat photo itu, Sangking kagetnya ia hanya bisa diam saat Daniel mencium keningnya dan pergi untuk menyusul El.
"Luna.....Luna harus tau keadaan bang El saat ini." Kata Dara yang baru tersadar. Ia langsung buru-buru menghubungi nomor telepon Luna namun nomor itu sedang tidak aktif. Dara yakin Luna sengaja mematikan hapenya saat ini.
***
Daniel yang baru tiba ditempat itu langsung turun dari mobil dan menghampiri El yang masih ditemani oleh Lucia dan waiters tadi.
"El.....El lo kenapa bisa sampai begini sih? Siapa yang bikin lo begini?" Tanya Daniel saat ia mendapati El yang sudah tidak sadarkan diri tergeletak penuh luka basah dan lebam disekujur tubuhnya.
"Sorry gue baru datang, Gue gak tau kalo El ada disini." Ucap Daniel bicara pada Lucia.
"Makanya angkat telepon gue, Lo pikir gue neleponin cuma pengen ganggu rumah tangga lo doang? Syukur gue masih inget lo sebagai seorang temen kalo gak, Gak bakal gue mau buang-buang waktu gini." Sahut Lucia yang sangat kesal karena sikap Daniel.
"Sekali lagi gue minta maaf dan terimakasih karena lo udah bantuin ngejaga El sampai gue datang." Kata Daniel yang langsung merasa tidak enak pada Lucia, Entah itu tidak nyaman karena dulunya Daniel menyakiti perasaan gadis cantik ini atau karena memang benar-benar tidak enak karena ia sudah mengabaikan telepon dari Lucia padahal gadis itu hanya ingin memberikan kabar untuk Daniel.
"Dia dikeroyok sama beberapa orang, Mungkin kurang lebih 7 orang. Gue gak tau masalahnya apa, Saat gue mau pulang gue liat dia lagi dipukulin habis-habisan sama cowok-cowok itu." Kata Lucia menjelaskan pada Daniel kejadian yang sebenarnya ia saksikan.
"Sekali lagi gue bener-bener makasih banget dan maaf atas sikap gue sekaligus maaf udah ngerepotin lo." Ucap Daniel dengan tulus dan membuat Lucia tidak marah lagi karena selama kenal dengannya baru kali ini Dani bersikap tulus pada seorang wanita.
"Mending buruan lo bawa dia ke rumah sakit untuk dapetin pertolongan. Kasian, Dia udah cukup kehilangan banyak darah karena luka-lukanya." Jawab Lucia sedikit melemah, Daniel mengangguk ia lalu membangunkan tubuh El dibantu oleh Lucia dan gadis waiters tadi. Mengingat tubuh El yang tergolong besar dan kekar membuat Daniel kesulitan untuk membawanya masuk kedalam mobil.
"Sekali lagi makasih ya atas semua bantuan lo dan maaf, Maaf untuk semua kesalahan yang pernah gue lakuin sama lo. Semoga lo segera dapetin laki-laki yang terbaik karena lo juga gadis yang baik." Ucap Daniel sebelum ia pergi membawa El dan kata-kata itu membuat Lucia tersenyum pada Daniel tidak seperti saat Daniel datang tadi.
Daniel kini sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit terdekat untuk membawa El.
"El, Lo bisa ngelawan mereka tapi kenapa lo malah biarin mereka ngelakuin ini ke lo? Seberapa sakit hati lo sampai-sampai lo bisa nahan semua rasa sakit di badan lo." Gumam Daniel dalam perjalanan, Ia benar-benar merasa sangat prihatin pada El saat ini.
***Bersambung.....
Like, Koment untuk penyemangat* 😘**